Klitika dalam Bahasa Sasak

PENDAHULUAN

 

Sasak adalah bahasa Melayu Polinesia Barat yang digunakan di Pulau Lombok, provinsi Nusa Tenggara Barat di sebelah timur Indonesia. (Austin, 2000). Bahasa tersebut hampir berkerabat dengan Samawa (bahasa yang digunakan di sebagian barat Pulau Sumbawa, sebelah timur Lombok) dan Bali, dan sub-grup dengan bahasa-bahasa tersebut sebagai bagian dari Melayu-Polinesia Barat, cabang dari Austronesia (Adelaar, 2002). Memiliki jangkauan yang luas dalam variasi dialek lokal dalam leksikon dan sintaks.

Bahasa Sasak yang berkembang di Lombok sangat beragam, baik dialek (cara pengucapan) maupun kosa katanya. Ini sangat unik dan bisa menunjukkan banyaknya pengaruh dalam perkembangannya. Saat Pemerintah Kabupaten Lombok Timur ingin membuat Kamus Sasak saja, mereka kewalahan dengan beragamnya bahasa sasak yang ada di lombok timur, Walaupun secara umum bisa diklasifikasikan ke dalam: Kuto-Kute (Lombok Bagian Utara), Ngeto-Ngete (Lombok Bagian Tenggara), Meno-Mene (Lombok Bagian Tengah), Ngeno-Ngene (Lombok Bagian Tengah), Mriak-Mriku (Lombok Bagian Selatan) Menu-Meni (Lombok bagian Selatan) (www.sasak.org)

Bahasa Sasak memiliki sistem morfologi seperti bahasa-bahasa daerah lainnya. Makalah ini akan membahas tentang distribusi klitisasi atau juga disebut klitik dalam bahasa Sasak, bahasa yang digunakan kurang lebih oleh 2 juta penduduk di Pulau Lombok. Ada beberapa variasi klitisasi dalam bahasa Sasak yang ditemukan yang akan dibahas pada halaman berikutnya.

KLITISASI

Klitika biasanya adalah morfem yang pendek, terdiri dari satu atau dua silabe, tidak dapat diberi aksen atau tekanan apa-apa, melekat pada kata atau frasa yang lain, dan memuat artri yang tidak mudah dideskripsikan secara leksikal. Klitika juga tidak terikat pada kelas kata tertentu, seperti biasanya ada keterikatan itu dengan morfem-morfem terikat. (Verhaar, 1996:119)

Kata “klitika” bila dianalisa berasal dari kata kerja bahasa Yunani “klinein” yang artinya “bersandar.” Menurut Verhaar, klitika dibagi menjadi dua, yaitu proklitik dan enklitik. Proklitika adalah klitika pada awal kata dan enklitika terdapat pada akhir kata. Karena semua klitika didekatkan pada kata sebagai ko-konstituennya (konstituen yang menyertainya). (Verhaar, 1993, 61-62)

Istilah klitik sering dipakai untuk menyebutkan kata-kata singkat yang tidak beraksen dan oleh karena itu selalu harus bersandar pada suatu kata yang beraksen sebagai konstituennya. Suatu klitik paling sedikit dapat berupa kata. Dalam pengertian disini klitik selalu merupakan morfem terikat. Sebagai contoh klitik dalam bahasa Indonesia : akhiran –lah, -kah, dan –pun. Meskipun, imbuhan tersebut mirip dengan afiks, jelas berbeda karena dapat diletakkan pada macam-macam jenis kata (afiksasi selalu merupakan cirri khas dari jenis kata tertentu, seperti kata benda atau kata kerja).

Klitik memiliki beberapa macam variasi dan telah diteliti secara intensif (lihat Napoli,1996 dalam Austin, 2004). Klitik dapat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Tidak seperti afiksasi, klitisasi bisa terikat pada kelas-kelas kata yang berbeda, termasuk kata depan atau kata keteranganyang biasanya tidak memiliki imbuhan
  • Klitik bukan merupakan unit prosodi yang beridiri sendiri dan secara fonologi berpasangan pada kata yang merupakan “tuan rumahnya” yang dapat berupa kata atau frasa
  • Klitik dapat muncul dalam kluster dengan banyak klitik dalam fungsi yang berbeda
  • Klitik dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe menjadi 3 kelas (Napoli, 1996) :

1.      Simple clitics (klitik sederhana)

2.      Special clitics (klitik khusus)

3.      Bound word clitics (klitik kata terikat)

Menurut Prof. Nurachman Hanafi dalam bukunya yang berjudul Morphology (2003) klitik terdiri dari tiga macam, yaitu proclitics, inclitics, dan postclitics. Proclitic adalah klitik yang terletak di awal kata yang menjadi tuan rumahnya (host). Inclitic adalah klitik yang terletak ditengah kata. Dan postclitic adalah klitik yang terletak di akhir kata yang menjadi tuan rumahnya.

Di dalam bahasa Sasak, postclitics dapat terikat pada kata kerja, kata depan, kata benda dan auxiliary dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. (Musgrave, 1998).

  • Postclitic bahasa Sasak yang terikat pada kata kerja, dapat berfungsi sebagai subyek dan sebagai obyek

1] lalo-k        “I went”    “Saya pergi”

go-1SG

2] empuk- t   “hit us”      memukul kami”

hit- 1PL

  • Postclitic dalam bahasa Sasak yang terikat pada auxiliary yang menunjukkan sebuah aspek dan berfungsi sebagai subyek.

1] mu-n         “Past – he”

past-3SG

2] mu-k         “Past-I”

past-1SG

  • Postclitic yang terikat pada kata benda. Postclitic –k menjadi –ek jika kata yang menjadi tuan rumahnya berakhiran konsonan q.

1] isiq-ek      “by me”     “oleh saya”

by-1SG

2] lai-k          “from me” “dari saya”

from-1SG

  • Postclitic yang terikat pada konjungsi

1] terus-k      “I then”  Saya lalu”

then-1SG

  • Postclitic yang terikat pada kata benda, berfungsi sebagai genitif

1] bale-n Ahmat       “Ahmat’s house”   “Rumah Ahmat”

house-3SG

2] buku-m                 “your book”    “Bukumu”

Book-2SG

Menurut klasifikasi klitik yang dikemukakan oleh Napoli, bahasa Sasak memiliki klitik sederhana (simple clitics) dan klitik khusus (special clitics), keduanya muncul diluar wilayah tekanan, dan memiliki penghubung nasal (linker).

Klitik khusus terikat pada kata benda untuk menandakan kepemilikan. Bentuk-bentuknya dalam berbagai dialek Sasak digambarkan dalam table dibawah ini:

Ngenó

Menu

Menó

1sg ku k
1pl te te t
2masculine méq ó m
2feminine bi ó m
3 ne ng n

Perbandingan dengan bentuk kata ganti bebas:

Ngenó

Menu

Menó

1sg aku aku aku
1pl ite ite ite
2 masculine ante kamu kamu
2feminine kamu kamu kamu
3 ie ie ie

Dalam contoh:

ime      ‘hand’  ‘tangan’     ime-ng-ku – ime-ng-kó – ime-ng-k      ‘my hand’ ‘tangan saya’

inaq     ‘mother’    ‘ibu’     ina-m-bi – inaq-ó – inaq-m        ‘your mother’  ‘ibu kamu’

Klitik khusus (special clitics) terikat pada kelas kata lainnya dan masuk ke dalam kategori nominal dan fungsi gramatikal. Penambahan dan pola kode berbeda antara dialek yang satu dengan dialek yang lain.

Dialek Ngenó-Ngené dalam Bahasa Sasak

Variasi bahasa Sasak yang digunakan tersebar diseluruh Lombok tengah dan Lombok timur, dan dijadikan sebagai bahasa standar untuk materi pendidikan.

Struktur klausa dasar untuk dialek ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Kalimat sederhana terdiri dari kata kerja dan satu argument, atau hanya kata kerja saja untuk menyatakan imperatif atau perintah:

Laló                       Makan!

pergi                      makan

Kata kerja yang dimiliki terbagi dalam tiga kelas:

  1. Intransitif à ACTOR (pelaku)
  2. Transitif à ACTOR dan UNDERGOER (penderita)
  3. Ditransitif à ACTOR, UNDERGOER, THEME (tema)

Kata kerja transitif memiliki dua bentuk, yaitu : kata kerja tak berawalan atau dengan awalan nasal. Untuk kata kerja tak berawalan UNDERGOER (penderita) mendahului kata kerjanya dan diikuti oleh ACTOR (pelaku), kecuali jika orang ketiga dalam kasus tertentu ditandai dengan kata depan isiq dan diikuti oleh kata kerja. Ketika kata kerja berawalan nasal maka ACTOR kemudian mendahului kata kerja dan diikuti oleh UNDERGOER

ime-n               Dani             kaput=ne            isiq                Ali

hand-link         Dani             bandage=3         by                 Ali

‘Ali bandaged Dani’s hand’

‘Ali membalut tangan Dani’

Ali       ngaput=ne             ime-n            Dani

Ali       N.bandage=3        hand-link      Dani

‘Ali bandaged Dani’s hand’

Dialek Menó-Mené dalam Bahasa Sasak

Bahasa Sasak dialek Menó-Mené digunakan di seluruh Lombok bagian tengah, seperti Praya dan Desa Puyung. Struktur dasar klausa yang dimiliki berbeda dengan dialek Ngenó-Ngené. Srtuktur yang dimiliki adalah ACTOR V (UNDERGOER)

(THEME). Kata kerja transitif juga tak berawalan dan bentuk nasal, namun penggunaannya berbeda. Kata kerja nasal berawalan digunakan dengan undergoer yang tidak dituju (non-referensial) :

Kanak=nó          bace              buku=ni

child=that           read              book=this

‘That child reads this book’

‘Anak itu membaca buku ini’

Kanak=nó          m-bace

child=that           N-read

‘That child is reading’

‘Anak itu membaca’

Ada beberapa klitik khusus (special clitics) untuk menandakan kategori nominal dan fungsi: enklitik yang dikemukakan Wackernagel yang menandakan ACTOR (pelaku) terikat pada konstituen non-NP pertama pada klausa (konjungsi, kata keterangan, kata depan, auxiliary)

  • Konjungsi

Guru          iaq=n     tulak          malik         sengaqm       mpuk=k

teacher       fut=3      return         again          because=2    hit=1

‘The teacher will come back again because you hit me’

‘Guru aka dating kembali karena kamu memukulku’

  • Adverbia

Terus=k           iaq          bedait                 kance            guru=nó

then=1             fut          meet                   with              teacher=that

‘Then I will meet that teacher’

‘Kemudian saya akan bertemu guru itu’

Telu           jam=k           antih=m          wah

three          hour=1          wait=2             already

‘I already waited you for three hours’

‘Saya sudah menunggumu selama tiga jam’

  • Auxiliary

Inaq           iaq=n        lalo            jok             peken         lemaq

mother       fut=3         go              to               market       tomorrow

‘Mother will go to market tomorrow’

‘Ibu akan pergi ke pasar besok’

  • Preposition

Mbe           eleq=n          tulak

where        from=3         return

‘where is he coming back from?’

‘kemana dia kembali?’

  • Kata kerja intransitif

Jika kata kerjanya intransitif dan tidak ada tuan rumah (host) lainnya yang potensial dalam klausa maka akan mengambil enklitik penanda pelaku:

Tulak=n          eleq               peken

return=3          from             market

‘He comes back from the market’

‘Dia kembali dari pasar’

Jika ada beberapa tuan rumah yang memungkinkan maka enklitik akan mengikuti tuan rumah pertama:

Kanak=no       ndeq=n         iaq          mancing

child=that        not=3            fut          N.fish

‘That child will not fishing’

‘Anak itu tidak akan memancing’

Klitik khusus dalam dialek Menó-Mené juga terikat sebagai enklitik untuk kata kerja transitif dan ditransitif untuk menandakan UNDERGOER khusus.

Iaq=m             gitaq=n           leq             peken

fut=2               see=3               loc             market

‘Will you see him at the market?’

‘Akankah kamu melihatnya di pasar?’

Iaq=m          beng=k               kepeng

fut=2            give-link=1sg     money

‘Will you give me some money?’

‘Akankah kamu memberi saya uang?’

Jika kata kerjanya merupakan kata kerja transitif dan ditransitif dan tidak ada tuan rumah (host) yang potensial untuk klitik  pelaku (ACTOR) maka auxiliary khusus muq akan muncul untuk mendukung klitik ACTOR:

Muq=k         gitaq=n        leq                   peken

AUX=1sg    see=3            loc                   market

‘I saw him at the market’

‘Saya melihatnya di pasar’

Muq=n         bace              buku=ni           isiq                kanak=no

AUX=3        read              book=this        by                 child=that

‘That child reads this book’

‘Anak itu membaca buku ini’

Dialek Menu-Meni dalam Bahasa Sasak

Perbedaan utama antar dialek yaitu terdapat dalam penggunaan klitik khusus. Klitik hanya digunakan untuk NP khusus (referensial) dan terdapat perbedaan antara fungsi ACTOR dan UNDERGOER pada orang kedua dan ketiga

ACTOR

UNDERGOER
1sg =ko =ko
1pl =te =te
2 =o =kem
3 =ng =e

nu        ie            kanak            saq                gitaq=ko       nuqng

that      3             child             who              see=1sg        that

‘That is the child who I saw’

‘Itu anak yang melihat saya’

KESIMPULAN

 

Bahasa Sasak memiliki variasi klitik yang distribusinya berbeda-beda pada setiap variasi dialeknya. Ada beberapa tipe yang ditemukan:

  • Klitik dalam bahasa Sasak termasuk ke dalam kategori postclitics/enclitics yang dapat terikat dalam beberapa kelas kata dan memiliki fungsi yang berbeda-beda
  • Klitik sederhana (simple clitics), memiliki fungsi sebagai demonstrative (penunjuk) terutama pada dialek Menó-Mené, memiliki bentuk singkat.
  • Klitik khusus (special clitics) yang  menandakan kategori nominal seseorang dan jumlah. Dalam Menó-Mené dialek, klitikUNDERGOER terikat pada kata kerja sedangkan klitik ACTOR terikat pada tuan rumah pertama yang tersedia, dalam hal lainnya kata bantu (auxiliary) khusus yang ada untuk mendukung klitik jika kata kerjanya transitif dan telah ada pada klitik UNDERGOER. Dalam Menu-Meni dialek terdapat perbedaan bentuk klitik ACTOR dan UNDERGOER.
  • Klitik kata terikat, kata bantu (auxiliary)  dalam bahasa Sasak mengikuti konstituen yang pertama.

DAFTAR PUSTAKA

Adelaar, K. Alexander. 2002. Classification of Sasak. Papers in Languages of Bali, Lombok and Sumbawa.

Austin, Peter K. 2000. Working Papers in Sasak, Volume 2. Melbourne: University of Melbourne.

Hanafi, Nurachman. 2003. Morphology. Mataram: Mataram University Press.

Musgrave, Simon. 1998. ‘A Note an Animacy Hierarchy Effects in Sasak and Sumbawan’ In P.K Austin (ed) Sasak. Working Papers in Sasak. Vol 2, ps. 49-83.

Napoli, Donna Jo. 1996. Linguistics. Oxford: Oxford University Press.

Verhaar, J. W. M. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Verhaar, J. W. M. 1993. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Sumber Lain

www.sasak.org. diakses pada tanggal 6 Januari 2010 pukul 10.00 WITA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s