METAFORA DALAM PUISI “MAWAR DAN PENJARA”

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Bahasa merupakan salah satu saran untuk mengungkapkan pikiran atau gagasan seseorang. Bahasa juga tidak hanya sebagai alat komunikasi yang sederhana, dalam arti komunikasi antarindividu yang bersifat umum, tetapi dalam pemakaian bahasa itu sendiri ada cara-cara untuk mengungkapkannya. Cara itu antara lain disebut dengan gaya bahasa. Gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Gaya bahasa atau style ini menjadi bagian dari diksi, yaitu pilihan kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata. Frasa atau klausa tertentu untuk mengungkapkan situasi tertentu (Keraf, 1991:136).

Masalah gaya bahasa sering dipergunakan dalam satra, karena sastra lebih bertujuan untuk menggugah pembacanya agar menimbulkan efek-efek tertentu seperti yang diharapkan pengarangnya (misalnya puisi). Agar tujuan itu tercapai maka penulis karya sastra berusaha memilih kata atau ungkapan yang tidak hanya tepat, tetapi kata tersebut harus dalam maknanya sehingga pendengar atau pembaca dapat tergugah perasaannya (Pradopo, 1987:48)

Salah satu bentuk gaya bahasa yang banyak dikenal adalah ‘metafora’. Metafora banyak digunakan dalam karya sastra baik dalam jenis puisi maupun novel. Metafora merupakan pemakaian kata-kata yang bukan dalam arti yang sebenarnya. Suatu ungkapan metaforis ditentukan oleh persamaan atau perbandingan kata-kata yang digunakan untuk melukiskan realitas yang sesungguhnya dengan gagasan-gagasan yang abstrak yang ingin dilukiskan.

Gaya bahasa metafora berkaitan langsung dengan tekstur tuturan manusia. Edi Subroto (1996:37) mengungkapkan metafora adalah salah satu wujud daya kreatif bahasa di dalam penerapan makna. Artinya berdasarkan kata-kata tertentu yang telah dikenalnya dan berdasarkan keserupaan atau kemiripan referen, pemakaian bahasa dapat memberi lambing baru pada referen tertentu. Baik referen baru itu telah memiliki lambang maupun belum. Pada dasarnya penciptaan metafora tidak ada habis-habisnya, dengan kata lain metafora memberi kesegaran dalam berbahasa, mengaktualkan sesuatu yang sebenarnya lumpuh, menghidupkan sesuatu yang sebenarnya tidak bernyawa.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana wujud tuturan metaforis dalam puisi “Setangkai Puisi di Malam Bulan Separuh” dan “Kepada Bulan Separuh”?
  2. Jenis metafora apa saja yang dipergunakan dari segi ruang persepsi manusia (ekologi) dalam dua puisi tersebut?

1.3 Metode Penelitian

Sumber data dalam makalah ini diambil dari dua buah puisi karangan Andhika Mappsomba yang berjudul “Setangkai Puisi di Malam Bulan Separuh dan “Kepada Bulan Separuh” yang diambil dari buku “Mawar dan Penjara.”

Penelitian dalam makalah ini termasuk penelitian deskriptif. Menurut Gay (dalam Sevilla, 1993:71) mengatakan bahwa penelitian deskriptif adalah suatu metode yang menganalisis dan mendeskripsikan data berdasarkan bahan yang diperoleh tanpa menambah dan menguranginya kecuali menganalisisnya.

Teknik yang digunakan dalam makalah ini adalah teknik catat. Yang dimaksud catat adalah mengadakan pencatatan terhadap data relevan yang sesuai dengan sasaran dan tujuan penelitian (Edi Subroto, 1992:41). Pencatatan data dalam penelitian ini dilakukan dengan mengambil kata atau kalimat dalam puisi yang mengandung ungkapan metaforis

1.4 Landasan Teori

1.4.1 Metafora

Tarigan (1985:183) mendefinisikan bahwa metafora berasal dari bahasa Yunani metaphora yang berarti ‘memindah’ berasal dari kata meta ‘diatas’ atau melebihi’ dan pharein ‘membawa.’ Jadi dalam metafora membuat perbandingan antara dua hal untuk menciptakan suatu kesan mental yang hidup walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit dengan menggunakan kata-kata seperti, ibarat, bagaikan, umpama, laksana, dan sebagainya seperti halnya perumpamaan. Keraf (1991:139) berpendapat bahwa metafora adalah sejenis gaya bahasa perbandingan yang singkat, padat dan tersusun rapi. Di dalamnya terlihat dua gagasan, yang satu adalah suatu kenyataan, sesuatu yang dipikirkan dan yang menjadi objek, dan yang satunya lagi merupakan pembanding terhadap kenyataan tadi dan menggantikan yang di belakang itu menjadi yang terdahulu. Metafora merupakan bahasa kiasan seperti perbandingan hanya tidak menggunakan kata pembanding saja.

Dalam Wahab (1990:142) dijelaskan bahwa metafora sudah menjadi bahan studi sejak lama yaitu sejak zaman kuno. Quintilian (35-95), dalam Wahab, 1990:142) mengatakan bahwa metaphor adalah ungkapan kebahasaan untuk mengatakan sesuatu yang hidup bagi makhluk hidup lainnya, yang hidup untuk yang mati, yang mati untuk yang hidup, atau yang mati untuk yang mati. Abdul Wahab sendiri mendifinisikan bahwa metafora adalah ungkapan kebahasaan yang tidak dapat diartikan secara langsung dari lambing yang dipakai baik oleh lambing maupun oleh makna yang dimaksudkan oleh ungkapan kebahasaan itu.

Metafora sebagai salah satu wujud daya kreatif bahasa di dalam penerapan makna, artinya berdasarkan keserupaan atau kemiripan referen tertentu, baik referen baru itu telah memiliki nama lambing (sebutan atau kata) ataupun belum. (Edi Subroto, 1996:38) menyatakan bahwa metafora adalah suatu perbandingan langsung karena kesamaan intuitif maupun nyata antara dua referen. Misalnya adalah sebutan lambe sumur ‘bibir sumur’ dalam bahasa Jawa. Terdapat dua referen, yang pertama yaitu ‘bagian mulut sumur atau perigi’ yang mempunyai lambing (wujud kata) dan ada referen ‘bibir’ manusia yang telah dikenal oleh pemakai bahasa. Karena referen pertama menurut persepsi pemakai bahasa serupa dengan referen kedua, maka disebut orang lambe atau sumur. Dalam hal ini referen pertama sebagai tenor dan referen kedua sebagai wahana. Munculnya kata ‘sumur’ di belakang ‘lambe’ untuk mengacu referen pertama semata-mata sebagai pembatas agar tidak terdapat kekeliruan penangkapan.

Metafora sebagai sumber ekspresi personal dari seorang penutur. Perubahan makna sering berakar pada keadaan jiwa penutur, hal itu terjadi pada bentuk ungkapan metaforis yang memiliki kemiripan emotif. Perubahan makna ini bersumber dari diri pengarang (secara psikologis). Dalam penciptaan metafora, seorang pengarang juga dipengaruhi oleh hal-hal yang terjadi disekitarnya. Hal-hal yang terjadi misalnya minat atau kesenangan, kesusahan, ketakutan, jatuh cinta, aspirasi atau gagasan-gagasan masyarakat cenderung mempengaruhi pengarang dalam penciptaan metafora.

1.4.2 Keekspresifan Metafora

Dalam kemetaforaan terdapat beberapa kemiripan atau keserupaan antara dua referen atau elemen kesamaan antara tenor dan wahananya dapat bersifat objektif, perceptual dan kultural. Bersifat objektif berarti memiliki hubungan kesamaan wujud atau berwujud realistis dianggap benar atau nyata, bersifat perceptual atau emosi berdasarkan khasanah budaya seorang penutur (Edi Subroto, 1989:4). Jika jarak antara tenor dan wahana itu berdekatan, artiinya kemiripan (kesamaan) antara dua referen nyata dan berwujud, maka akan menciptakan metafora yang kurang ekspresif karena kemiripannya begitu jelas. Contoh metafora ini misalnya kumis kucing dan lidah buaya. Kumis kucing dan lidah buaya adalah bentuk-bentuk metafora dengan bentuk benda aslinya yaitu bulu-bulu yang tumbuh di bawah hidung seekor kucing, dan bentuk lidah buaya merupakan salah satu bagian mulut dari seekor buaya.

Faktor tertentu dalam keekspresifan dan keefektifan metafora adalah jarak antara tenor dan wahana. Artinya kemiripan antara dua referen begitu nyata dan berwujud menciptakan metafora yang konvensional. Misalnya punggung bukit, kaki gunung, kaki meja, dan sebagainya (Edi Subroto, 1989:4). Adapun keserupaan maupun kemiripan sekaligus perbedaan dari suatu referen dapat diketahui dengan metode analisis komponen, seperti dalam Edi Subroto (1996:33) yaitu, yang dimaksud dengan metode analisis komponen dalam semantik adalah menguraikan atau proses mengurai arti konsep suatu kata ke dalam komponen maknanya. Ciri semantik dari sebuah kata adalah seperangkat ciri pembeda arti yang bersifat hakii yang benar-benar mewakili dan diperlukan untuk membedakan unit leksikon yang satu dari unit leksikon yang lain yang sedomain

Misalnya kata kaki (manusia) dan kaki meja dapat diananlisis sebagai berikut:

Kaki (manusia) : (-) bagian dari tubuh manusia, terbentuk dari daging dan tulang, untuk berjalan,

(+) benda konkret, bagian di bawah, sebagai penyangga atasnya

Kaki meja        : (-) bagian dari meja, terbuat dari kayu, untuk berdiri

                           (+) benda konkret, bagian bawah, sebagai penyangga bagian atasnya.

Dari analisis di atas diketahui adanya keserupaan atau kemiripan makna yaitu sama-sama benda komkret, sama-sama bagian terbawah dan sama-sama berfungsi sebagai penyangga bagian atasnya. Dari kaki (manusia) dapat diterapkan pada bagian meja.

1.4.3 Metafora dalam kaitannya dengan Ruang Persepsi Manusia

Manusia dan lingkungan berhubungan erat satu sama lain. Manusia tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan lingkungan di sekitarnya. Manusia, flora, fauna, dunia kosmos, dan segala benda yang ada di permukaan bumi saling mengalami ketergantungan. Karena manusia tergantung dari keadaan alam lingkungannya, maka di dalam berpikir dan menciptakan metafora manusia tidak dapat melepaskan diri dari lingkungannya, sebab ia selalu mengadakan interaksi antara manusia dan lingkungannya (makhluk bernyawa maupun tidak bernyawa) disebut sistem ekologi.

Sistem ekologi yang dipersepsikan oleh manusia tersusun di dalam suatu hirarki yang sangat teratur. Dengan demikian, ruang persepsi manusia yang mempengaruhi penciptaan metafora pada kalangan penyair dan sastrawan juga tersusun menurut hirarki yang teratur pula (Wahab, 1991:78)

Dari hirarki persepsi manusia, terbagi menjadi sembilan kat egori yang dapat lebih menjelaskan adanya hubungan metafora dengan ekologi. Yaitu:

  1. Kategori manusia (Human)
  2. Kategori makhluk bernyawa (Animate)
  3. Kategori kehidupan (Living)
  4. Kategori benda (Objects)
  5. Kategori teristerial (Terrestrial)
  6. Kategori substansi (Substance)
  7. Kategori energi (Energy)
  8. Kategori kosmos (Cosmic)
  9. Kategori keadaan (Being)

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       Analisis Data Wujud Metafora

(1) Akan ada hati yang berdarah

Dalam kalimat metaforis di atas yang menjadi inti atau pusat adalah kata hati dan berdarah sebagai pelengkapnya. Dalam kalimat tersebut, kata ‘hati’ berarti sesuatu yg ada di dalam tubuh manusia yg dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian, perasaan, dan sebagainya. Sedangkan ‘berdarah’ berarti mengeluarkan darah, yang indentik dengan terluka. Jadi kalimat metaforis tersebut mengandung makna hati yang terluka.

(2) Dan ditulis dengan tinta darah dan perahan air mata

Dalam metafora frase tinta darah di atas tidak berarti tinta dari darah yang sesungguhnya. ‘Tinta darah’ dalam kalimat tersebut mengacu pada sebuah penderitaan yang di alami atau luka yang dirasakan. Sedangkan frase perahan air mata berarti tetesan air mata yang jatuh, perahan memang berarti hasil memerah sesuatu, namun ‘perahan’ dalam kalimat tersebut di kiaskan menjadi kumpulan air mata yang menetes jatuh dari wajah.

(3) Untuk menaklukkan puncak-puncak rindu menjadi perpisahan

Dalam metafora frase puncak-puncak rindu di atas yang menjadi inti atau pusat adalah kata rindu, sedangkan puncak-puncak merupakan atribut (pelengkap). Puncak dalam frase tersebut adalah bagian yang di atas sekali dari sebuah benda,bagian yang tertinggi, teratas dari suatu tingkatan sedangkan rindu adalah suatu perasaa yang sangat ingin bertemu dan berharap sekali baik pada teman, keluarga, kekasih, dsb.

Jadi, puncak-puncak rindu dalam metafora di atas sebenarnya hanya merupakan perasaan rindu yang sudah sangat mendalam dan tidak dapat di tahan lagi.

(4) Menutup ruang rasa

Frase ruang rasa, yang menjadi inti atau pusat frase adalah kata rasa, dan kata ruang merupakan atribut (pelengkap). Ruang adal;ah rongga yang terbatas atau terlingkung oleh bidang, tempat segala yang ada, sedangkan rasa adalah tanggapan indra terhadap rangsangan saraf atau tanggapan hati terhadap sesuatu.

Ruang rasa dalam frase tersebut merupakan sebuah tempat dimana seseorang menyimpan sebuah tanggapan hatinya terhadap sesuatu.

Jadi “menutup ruang rasa dengan paksa” berarti seseorang tersebut ingin menyudahi untuk memberi tanggapan lagi terhadap apapun, dia ingin mengunci perasaan yang dimiliki.

(5) Menyanyikan namanya dalam senyapku mengarungi malam

Dari kalimat metaforis di atas, makna dari menyanyikan namanya adalah menyebut-nyebut namanya dalam kesepian yang dirasakan. Sedangkan ‘mengarungi malam’ dalam kalimat tersebut berarti melewati dan menghabiskan malam hingga pagi datang.

(6) Seperti sentuhan sutera dan belaian butiran salju di tengah gurun

Dalam kalimat metaforis di atas sentuhan sutera dan belaian butiran salju memiliki makna lembut, sejuk dan ketenangan. Terlebih lagi, sentuhan dan belaian tersebut di ibaratkan berada di tengah gurun yang jelas-jelas memiliki cuaca yang panas dan gersang.

(7) Membawakan segenggam rindunya

Dalam kalimat metaforis di atas, segenggam rindunya memiliki makna kumpulan rindu yang dimiliki.

(8) Lalu ia mengabarkan rindunya

Dalam kalimat metaforis di atas, kata mengabarkan merupakan predikat dari subyek ‘ia’, dan rindu merupakan obyek. Kata mengabarkan sebenarnya cocok di ikuti oleh objek konkret seperti berita, dll. Namun rindu disini merupakan benda abstrak yaitu sebuah rasa ingin bertemu yang dimiliki oleh manusia.

Jadi, kalimat metaforis di atas berarti ‘menyampaikan rasa ingin bertemu’ yang di rasakan oleh ‘ia’ kepada seseorang.

(9) Tertikam kata dan cinta dari sekuntum mawar lain

Makna dari kalimat di atas yaitu, merasa terhina dan terluka. Sekuntum mawar dalam kalimat tersebut diasosiasikan sebagai seorang wanita. Jadi makna keseluruhan dalam kalimat tersebut yaitu seseorang yang merasa terhina dan terluka oleh seorang wanita.

(10) Adakah ia menikmati bulan yang muram ini pula.

Makna dari frase bulan yang muram adalah bulan yang cahayanya redup. Jika melihat kata ‘muram’, kata tersebut lebih cocok digunakan oleh manusia, karena kata muram lebih sering mengacu pada wajah. Namun dalam kalimat tersebut kata bulan diasosiasikan sebgai wajah seorang manusia yang muram, sehingga frase tersebut memiliki makna cahaya bulan yang redup.

(11) Tatapan itu beradu disana

Dalam kalimat metaforis di atas, kata beradu yang sebenarnya lebih cocok digunakan untuk makhluk hidup. Sedangkan tatapan adalah suatu proses menatap yang dilakukan oleh mata. Jadi, makna dari kalimat tersebut adalah saling menatap tajam.

(12) Entah sang mawar akan menikam kulitku mana lagi

Dalam kalimat metaforis di atas, kata sang mawar diasosiasikan sebagai seorang wanita. Sedangkan kata ‘menikam kulitku’ berarti melukai. Makna dari kalimat di atas yaitu entah apakah wanita itu akan melukaiku lagi atau tidak. Seorang wanita disana diibaratkan sebagai ‘mawar’ karena secara fisik bunga mawar memiliki bentuk yang indah dan anggun namun juga memiliki duri tajam yang bisa melukai. Jadi, seorang wanita yang telah melukai tersebut di ibaratkan sebagai mawar.

(13) Dari belati lidahnya

Dari frase belati lidahnya di atas, yang merupakan pusat dari frase tersebut yaitu lidah, sedangkan belati merupakan pelengkap. Makna dari frase tersebut yaitu tajamnya lidah yang mengucapkan kata-kata yang dapat menyakitkan dan menyinggung perasaan. Kata belati berarti sesuatu yang runcing dan tajam yang digunakan untuk mengiris, sedangkan lidah adalah salah satu bagian dari mulut yang dapat bergerak dengan mudah dan digunakan untuk mengecap dan berkata-kata. Seringkali lidah di ibaratkan sebagai pisau karena lidah tak memiliki tulang sehingga dengan mudah dapat mengeluarkan kata-kata yang bisa menyinggung dan menyakiti perasaan seseorang yang di ajak bicara. Maka dari itu makna dari frase belati lidahnya yaitu tajam lidahnya.

2.2 Jenis Metafora dari Segi Ruang Persepsi Manusia (Ekologi)

Hierarki persepsi manusia dimulai dari manusia itu sendiri, karena manusia dengan segala macam tingkah lakunya merupakan lingkungan manusia yang terdekat. Jenjang ruang persepsi yang ada di atas manusia ialah makhluk bernyawa sebab manusia hanyalah satu bagian saja dari makhluk bernyawa. Selanjutnya, kategori di atasnya ialah LIVING, termasuk disini alam tetumbuhan. Begitu hierarki ini berlanjut seterusnya ke jenjang yang ada di atasnya, sampai pada segala sesuatu yang ada di jagad ini, termasuk konsep yang bersifat abstrak yang tidak dapat dihayati oleh indra, walaupun tak dapat disangkal keberadaannya. Karena itu, kategori ruang persepsi yang paling atas ialah BEING untuk mewakili semua konsep abstrak yang tidak dapat dihayati dengan indra manusia.

Dari persepsi manusia tersebut terbagi menjadi sembilan kategori. Dari data yang di dapat dan telah di uraikan di atas. Terdapat beberapa kalimat metaforis yang dapat di kategorikan ke dalam metafora berdasarkan ruang persepsi manusia.

  1. Kategori Manusia (Human)

Manusia dengan segala tingkah lakunya dan daya pikir, serta intelegensinya merupakan ciri yang ada pada tipe ini. Manusia dengan kemampuan berpikirnya dapat mengerjakan sesuatu hingga mampu mengubah wajah dunia ini. Dengan presiksi yang tidak terdapat pada kategori lain menjadikan manusia lebih tinggi dari makhluk hidup yang lain.

– Akan ada hati yang berdarah

Dari kalimat metaforis di atas, ‘hati’ dihayati sebagai manusia yang dapat mengeluarkan darah. Hal tersebut digambarkan bahwa ‘hati’ dapat terluka jika disakiti sehingga diibaratkan seperti berdarah.

Tertikam kata dan cinta dari sekuntum mawar lain

Dari kalimat metaforis di atas, ‘sekuntum mawar’ di hayati sebagai manusia yang melakukan tindakan menikam dengan menggunakan kata dan cinta. Hal tersebut digambarkan bahwa ‘sekuntum mawar’ di asosiasikan sebagai seorang wanita yang telah menyakiti dan menghina. Tindakan menyakiti dan menghina tersebut di gambarkan melalui kalimat yang menyatakan ‘tertikam kata dan cinta.

Metaforis dalam kalimat di atas juga berlaku pada kalimat ”Entah sang mawar akan menikam kulitku mana lagi” dimana ‘sang mawar’ merujuk pada seorang wanita.

– Tatapan itu beradu disana

Dalam kalimat meaforis di atas, ‘tatapan’ di hayati sebagai manusia yang dapat beradu satu sama lain. Hal tersebut menggambarkan bahwa tatapan yang beradu tersebut memiliki makna sepasang mata yang saling menatap tajam.

  1. Kategori Teristerial

– Seperti sentuhan sutera dan belaian butiran salju di tengah gurun.

Sutera merupakan kain yang lembut dan halus, sedangkan butiran salju yaitu butiran es yang dingin. Hal tersebut digambarkan melalui kalimat metaforis di atas, yaitu sentuhan kain sutera yang halus, lembut dan butiran salju yang sejuk dan dingin.

  1. Kategori Kosmos

Biasanya kosmos ini berkaitan dengan benda-benda angkasa. Prediksi kategori ini adalah menggunakan ruang (Wahab, 1991:79)

– Adakah ia menikmati bulan yang muram ini pula.

Pada waktu malam hari, sinar bulan bersinar cerah dan terang. Berdasarkan kalimat metaforis di atas. Bulan di ibaratkan seperti wajah dan dikatakan muram mengikuti wajah penulis tersebut yang juga muram karena bersedih.

BAB III

KESIMPULAN

 

  • Dari hasil analisa data yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, terdapat 13 kalimat metafora yang ditemukan dalam puisi “Setangkai Puisi di Malam Bulan Separuh” dan “Kepada Bulan Separuh.”
  • Metafora-metafora tersebut banyak berbicara tentang kehidupan manusia, yang dikategorikan ke dalam metafora ruang persepsi manusia, yaitu metafora tentang manusia (Human), teristerial (Terrestrial), dan kosmos (Cosmic).
  • Metafora digunakan untuk menjelaskan sesuatu dengan hal lain, dan digunakan untuk mengekspresikan sesuatu hal yang belum memiliki acuan yang tepat dalam bahasanya.
  • Metafora dapat mempengaruhi persepsi seseorang akan suatu hal dan metafora adalah hasil dari pengalaman penutur bahasa itu sendiri.

 

Daftar Pustaka

 

Keraf, Gorys. 1991. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Mappasomba, Andhika. 2010. Mawar dan Penjara: Kisah-Kisah yang Nyaris Terlupakan. Makassar: P3i Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Press.

Sevilla, Consuelo G. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Penerjemah Alimuddin Tuwu.

Jakarta: UI Press.

Subroto, Edi. 1996. Semantik Leksikal I (BPK). Surakarta: Universitas Sebelas Maret

Press.

—————-. 1996. Semantik Leksikal II (BPK). Surakarta: Universitas Sebelas Maret

Press.

—————-. 1992. Metode Penelitian Linguistik Struktural (BPK). Surakarta:

Universitas Sebelas Maret Press.

—————-. 1989. Metafora dan Kemetaforaan (Makalah). Surakarta: Universitas

Sebelas Maret Press.

Tarigan, Henry Guntur. 1995. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa.

Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik. Surabaya: Universitas Airlangga Press.

LAMPIRAN

 

Setangkai Puisi di Malam Bulan Separuh

 

Setelah puisi ini aku bacakan

Akan ada hati yang berdarah

Sebab ia kubacakan dengan napas tersengal

Dan ditulis dari tinta darah dan perahan air mata

Yang dirangkai dari sisa kejujuran yang tergali dari kesadaran

Wahai bulan separuh

Simaklah jiwa yang terluka

Tentang sebuah pengakuan yang mungkin tak sempurna

Tentang anak manusia yang akan melangkah ke medan peperangan

Untuk menaklukkan puncak-puncak rindu menjadi perpisahan

Dua anak manusia yang mungkin saling mencintai

Mengantarnya ke dalam pintu-pinru penutup kisah yang haru

Wahai bulan separuh

Malam ini

Simak dan dengarlah pengakuannya

Aku sangat mencintainya

Merindukannya tanpa ujung batas

Menyanyikan namanya dalam senyapku mengarung malam

Walau kutahu jarak yang tak mungkin kulipat

Dan hadir menatap matanya dalam sekedip mata setiap perpisahanku

Aku sangat mencintainya

Merindukanya di setiap tarikan napasku

Dan bahkan kurasakan tatapannya selalu hadir dalam aliran darahku

Bayangnya seakan tak pernah lepas menjadi selimut dalam tidurku

Bagiku

Menatap ,matanya adalah kesejukan

Seperti sentuhan sutera dan belaian butiran salju di tengah gurun

Wahai bulan separuh

Pernahkah kau melihatnya merindukanku juga

Seperti kerinduan dahsyat yang selalu kupendam

Pernahkah ia mengerti tentang rindu dan kedamaian cinta ini

Wahai bulan separuh

Malam ini

Kurasakan cahayamu dipaksakan menjadi purnama

Lalu meneteskan air mata

Adakah air matanya yang menyesali diam dan

Ketidak mengertiannya

Atau itu adalah tetesan darahku sendiri yang akan mengakhiri kisah

Cinta ini

Malam ini

Dengan segala kesadaran kunyatakan rasa dengan seksama

Aku menyudahi segala kisah

Menutup ruang rasa dengan paksa

Setelah puisi dan kisah ini usai

Izinkanlah aku melangkah pergi

Menangis diam-diam

Mungkin membawa rasa sesal yang tak terbahasakan

Malam ini dengan kesadaran yang tersisa

Kunyatakan rasa dengan seksama

Aku menyudahi segala kisah

Menutup ruang rasa dengan paksa

Isinkanlah aku pergi

Menghilang dengan malam

Pinrang, 3 Agustus 2006

Kepada Bulan Separuh

 

Malam ini

Ia hadir menyapaku

Membawakan segenggam rindunya

Ketika kulitku masih berdarah

Tertikam kata dan cinta dari sekuntum mawar lain

Yang mungkin tak mampu menangkap makna gerakku

Yang telah cukup panjang

Malam ini

Bulan tepat separuh

Aku bertanya pada cahayanya

Adakah ia menikmati bulan yang muram ini pula

Seperti aku yang tak hendak beranjak tatap

Ataukah mungkin tatapan itu beradu di sana

Lalu ia mengabarkan rindunya

Malam ini

Ia hadir menyapaku

Setelah ia pernah tak tampak lagi

Dan aku menganggapnya usai

Ia datang dengan rindu yang lama berjelaga

Berkabar pada pucuk dan tangkai tentang lukanya pula

Malam ini

Penuhlah sudah

Dua luka akan menyatu berubah bangkit

Memahat guratan cinta dari luka

Bulan penuhlah terpaksa sudah

Dan esok ketika purnama

Entah sang mawar akan menikam kulitku mana lagi

Atau mungkin mawar belati itu

Akan menikam bayangannya sendiri yang tersentak

Sebab aku belum mayat walau seribu sayatan luka

Dari belati lidahnya

Kepada bulan separuh malam ini

Aku sampaikan

Untuk perinduku, aku siap menanti dua puluh tujuh purnama

Kepada mawar yang menggenggam belati

Maafkan aku, cukup sudah lukaku

Makassar, 22 Agustus 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s