KLITIK DALAM BAHASA SASAK DIALEK MENO-MENE – PRAYA

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Sasak adalah bahasa Melayu Polinesia Barat yang digunakan di Pulau Lombok, provinsi Nusa Tenggara Barat di sebelah timur Indonesia. (Austin, 2000). Bahasa tersebut hampir berkerabat dengan Samawa (bahasa yang digunakan di sebagian barat Pulau Sumbawa, sebelah timur Lombok) dan Bali, dan sub-grup dengan bahasa-bahasa tersebut sebagai bagian dari Melayu-Polinesia Barat, cabang dari Austronesia (Adelaar, 2002). Memiliki jangkauan yang luas dalam variasi dialek lokal dalam leksikon dan sintaks.

Bahasa Sasak yang berkembang di Lombok sangat beragam, baik dialek (cara pengucapan) maupun kosa katanya. Ini sangat unik dan bisa menunjukkan banyaknya pengaruh dalam perkembangannya. Saat Pemerintah Kabupaten Lombok Timur ingin membuat Kamus Sasak saja, mereka kewalahan dengan beragamnya bahasa sasak yang ada di lombok timur, Walaupun secara umum bisa diklasifikasikan ke dalam: Kuto-Kute (Lombok Bagian Utara), Ngeto-Ngete (Lombok Bagian Tenggara), Meno-Mene (Lombok Bagian Tengah), Ngeno-Ngene (Lombok Bagian Tengah), Mriak-Mriku (Lombok Bagian Selatan) Menu-Meni (Lombok bagian Selatan) (www.sasak.org)

Bahasa Sasak memiliki sistem morfologi seperti bahasa-bahasa daerah lainnya. Makalah ini akan membahas tentang distribusi klitisasi atau juga disebut klitik dalam bahasa Sasak, bahasa yang digunakan kurang lebih oleh 2 juta penduduk di Pulau Lombok. Ada beberapa variasi klitisasi dalam bahasa Sasak yang ditemukan oleh para linguis pada dalam penelitian-penelitian sebelumnya.

Ternyata tidak semua bentuk atau satuan unit bahasa dapat dikategorikan dengan mudah ke dalam satu bentuk tertentu karena beberapa sifatnya. Salah satu bentuk yang sulit diidentifikasikan dan diklasifikasikan tersebut adalah klitik. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh beberapa ahli bahasa, salah satunya Halpern. Halpern (dalam Spencer dan Zwicky, 2001:101) mengemukakan bahwa untuk membedakan kata bebas atau frasa dari afiks sangatlah jelas, tapi banyak bahasa yang memiliki berbagai macam formatif yang sulit diklasifikasikan dan dikategorikan. Formatif tersebut dinamai dengan klitik.

Hal serupa pun dikemukakan pula oleh Zwicky (1977:1), yang dikutip oleh Katamba (1993:245). Menurutnya hampir semua bahasa memiliki morfem yang sulit dianalisis karena tidak menunjukkan batasan yang jelas apakah termasuk ke dalam kategori kata atau afiks. Dalam bahasa Inggris morfem yang sulit untuk dikategorikan tersebut adalah klitik. Fenomena klitik ini membuat para linguis mengalami kesulitan untuk memberikan definisi yang memadai

Bahkan Hudson (2007:2) mengatakan bahwa klitik merupakan tantangan dalam arsitektur gramatika karena perilaku kebahasaannya yang berada diantara batasan kata dan morfem serta diantara sintaksis dan morfologi. Marantz (1988:253), yang dikutip oleh Hudson, pun mengatakan bahwa klitik adalah unit yang berupa kata untuk sintaksis dan berupa morfem untuk morfologi dan fonologi.

Di dalam bahasa Sasak khususnya dialek meno-mene, klitik dapat terikat pada kata kerja, kata depan, kata benda, dan auxiliary dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. (Musgrave, 1998).

 

 

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apakah jenis dan fungsi klitik yang terdapat dalam bahasa Sasak?
  2. Kelas kata apa sajakah yang dapat diletaki oleh klitik?

 

1.3 Kajian Pustaka

Penelitian bahasa Sasak belum banyak dilakukan oleh para ahli bahasa. data menunjukkan bahwa masalah struktur bahasa Sasak sudah tiga kali diteliti oleh tim Fakultas Sastra universitas Udayana Denpasar. Ketiga penelitian masing-masing dilakukan pada tahun 1977/1978, tahun 1978/1979, dan tahun 1979/1980. Penelitian pertama menghasilkan laporan yang berjudul Sekilas tentang Latar Belakang Sosial Budaya dan Struktur Bahasa Sasak di Lombok (1977/1978). Penelitian kedua menghasilkan laporan yang berjudul Morfologi dan Sintaksis Bahasa Sasak (1978/1979). Penelitian ketiga menghasilakan laporan yang berjudul Sistem Morfologi Kata Kerja Bahasa Sasak (1979/1980). Hal-hal yang dikemukakan sehubungan dengan kedua bidang tersebut belumlah dapat dikatakan lengkap. Terlebih pada sistem klitika dalam bahasa Sasak.

Klitika biasanya adalah morfem yang pendek, terdiri dari satu atau dua silabe, tidak dapat diberi aksen atau tekanan apa-apa, melekat pada kata atau frasa yang lain, dan memuat artri yang tidak mudah dideskripsikan secara leksikal. Klitika juga tidak terikat pada kelas kata tertentu, seperti biasanya ada keterikatan itu dengan morfem-morfem terikat. (Verhaar, 1996:119)

Kata “klitika” bila dianalisa berasal dari kata kerja bahasa Yunani “klinein” yang artinya “bersandar.” Menurut Verhaar, klitika dibagi menjadi dua, yaitu proklitik dan enklitik. Proklitika adalah klitika pada awal kata dan enklitika terdapat pada akhir kata. Karena semua klitika didekatkan pada kata sebagai ko-konstituennya (konstituen yang menyertainya). (Verhaar, 1993, 61-62)

Istilah klitik sering dipakai untuk menyebutkan kata-kata singkat yang tidak beraksen dan oleh karena itu selalu harus bersandar pada suatu kata yang beraksen sebagai konstituennya. Suatu klitik paling sedikit dapat berupa kata. Dalam pengertian disini klitik selalu merupakan morfem terikat. Sebagai contoh klitik dalam bahasa Indonesia : akhiran –lah, -kah, dan –pun. Meskipun, imbuhan tersebut mirip dengan afiks, jelas berbeda karena dapat diletakkan pada macam-macam jenis kata (afiksasi selalu merupakan cirri khas dari jenis kata tertentu, seperti kata benda atau kata kerja).

Klitik memiliki beberapa macam variasi dan telah diteliti secara intensif (lihat Napoli,1996 dalam Austin, 2004). Klitik dapat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Tidak seperti afiksasi, klitisasi bisa terikat pada kelas-kelas kata yang berbeda, termasuk kata depan atau kata keteranganyang biasanya tidak memiliki imbuhan
  • Klitik bukan merupakan unit prosodi yang beridiri sendiri dan secara fonologi berpasangan pada kata yang merupakan “tuan rumahnya” yang dapat berupa kata atau frasa
  • Klitik dapat muncul dalam kluster dengan banyak klitik dalam fungsi yang berbeda
  • Klitik dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe menjadi 3 kelas (Napoli, 1996) :

– Simple clitics (klitik sederhana)

– Special clitics (klitik khusus)

– Bound word clitics (klitik kata terikat)

 

1.4 Landasan Teori

1.4.1  Morfologi

Morfologi adalah salah satu cabang linguistic yang mengkaji bagaimana struktur kata dan bagaimana kata dibentuk dari unit-unit yang lebih kecil. Unit terkecil yang memiliki makna tersebut dinamai dengan morfem. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Verhaar (1996: 97) bahwa morfologi adalah cabang linguistic yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal yang dinamai morfem.

Morfem sebagai unit bahasa terkecil yang memiliki makna atau fungsi gramatikal dapat dibedakan menjadi dua jenis:

1.      Morfem bebas (free morphemes)

Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata. Artinya morfem bebas tidak membutuhkan bentuk lain yang digabung dengannya dan dapat dipisahkan dari bentuk-bentuk ‘bebas’ lainnya di depannya dan di belakangnya. (Verhaar, 1996:97). Menurut Katamba (1994:41) yang termasuk ke dalam morfem bebas adalah lexical morphemes seperti nomina, verba, adjektiva, preposisi atau adverbial, yang memiliki makna secara penuh, dan function words, yang mengandung informasi gramatikal atau hubungan logis dalam suatu kalimat seperti: artikel, demonstrativa, pronominal, dan konjungsi.

2.      Morfem terikat (bound morphemes)

Berbeda dengan morfem bebas, morfem terikat tidak dapat berdiri sendiri dan harus menempel pada morfem lainnya. Yang termasuk ke dalam morfem terikat salah satunya adalah afiks.

1.4.2 Klitik

Terdapat beberapa linguis yang telah mencoba untuk memeberikan definisi terhadap klitik. Salah satunya adalah Bauer. Bauer (1988: 99) berpendapat bahwa klitik adalah bentuk kontraksi suatu kata dengan keberadaannya yang independent. Bentuk-bentuk seperti ‘ve, ‘d, ‘s, dan ‘ll sebagai bentuk kontraksi dari have, had, has, dan will adalah contoh-contoh klitik dalam bahasa Inggris.

Selain pendapat Bauer, Katamba pun mencoba memberikan definisi terhadap klitik. Beliau mengatakan bahwa :

…there is another class of bound morphemes called clitics, which may be appended to independent words by syntactically motivated rules. Words to which clitics are attached are called hosts (or anchors)… Clitics attached to the beginning of a host is called a proclitic and one attached at the end is called an enclitic.” (Katamba, 1994: 245).

 

Berbeda dengan Bauer yang mengatakan bahwa klitik adalah kata, Katamba mendefinisikan klitik sebagai kelas yang berbeda dari morfem terikat yang ditambahkan pada kata-kata yang independent karena aturan yang dimotivasi secara sintaksis. Klitik tersebut kemudian melekat pada kata-kata yang disebut hosts atau anchors. Jika klitik melekat di awal host disebut proklitik dan jika melekat di akhir host disebut dengan enklitik.

Berdasarkan perilaku fonologisnya, klitik merupakan unsur yang tidak mendapatkan aksen dan bukan berupa bentuk dasar afiks infleksi maupun afiks derivatif. Klitik tidak mendapatkan aksen baik secara inheren ataupun proses kontraksi, sehingga klitik harus diinkorporasi dengan struktur pendamping seperti kata atau frasa yang mendapatkan tekanan, yang disebut dengan host. Jika terdapat unit prosodi dengan host yang berada disamping kirinya, maka disebut enklitik, dan jika host berada di samping kanan unit prosodi, maka disebut dengan proklitik. (Halpern, 2001: 101). Selanjutnya Halpern pun mengatakan bahwa sifat klitik yang selalu harus melekat pada struktur pendamping yang mendapatkan tekanan digunakannya sebagai pembeda klitik dengan kata yang independent.

1.4.3 Simple Clitics

Menurut Katamba, “Simple clitics belongs to the same word-class as some independent word of the language that could substitute for it in that syntactic position.” (Katamba, 2001: 245). Dengan demikian yang dimaksud dengan simple clitics adalah klitik yang memiliki kelas kata dan posisi sintaksis yang sama dengan kata independent yang digantikannya. Dalam bahasa Inggris verba Bantu seperti have, is, dan has dapa tmenjadi simple clitics ketika dikontraksikan dan dilekatkan di kata terakhir pada frasa nomina yang ada dibelakangnya. Contoh:

(6) They’ve eaten = They have eaten

      She’s eaten = She has eaten

      The big bag’s empty = The big bag is empty.

Simple clitics ‘ve, ‘s, dan ‘s memiliki posisi sintaksis yang sama dan peran yang sama seperti kata penih yang diacunya yaitu have, has, dan is.

1.4.4 Special Clitics

Berbeda dengan simple clitics, “…special clitics are not contracted form of self standing words. Rather, they are forms that can only occus as bound morphemes appended to hosts on certain syntactic contexts.” (Katamba, 2001: 246).

 

1.5 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunkan pendekatan kualitatif. Kekualitatifan penelitian ini berkaitan dengan data penelitian yang tidak berupa angka-angka, tetapi berupa kualitas bentuk verbal yang berwujud tuturan (Muhadjir, 1996:29).

Kemudian metode yang digunakan yaitu studi kepustakaan dan deskriptif. Dengan metode studi kepustakaan (Libarary Research), yaitu metode yang mengutamakan pengumpulan data-data atau informasi dengan cara mengumpulkan buku-buku. Studi kepustakaan ini merupakan metode yang menggunakan sumber-sumber pustaka, berupa buku, artikel atau yang lainnya. Dalam metode ini peneliti tidak perlu menggunakan observasi atau eksperimen.

Metode deskriptif, yaitu suatu metode yang dipakai untuk memecahkan dengan cara mengumpulkan, menyususn, mengklasifikasikan, mengkaji dan menginterpretasi data.

Data yang disajikan dalam makalah ini disajikan dengan metode penyajian informal. Penerapan metode penelitian informal dalam makalah ini dilakukan dengan memaparkan analisis tentang variasi kode bahasa, alih kode, dan campur kode

 

PEMBAHASAN

 

2.1 Jenis dan Fungsi Klitik

Di dalam bahasa Sasak, enklitik dapat terikat pada kata kerja, kata depan, kata benda dan auxiliary dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. (Musgrave, 1998).

  • Enklitik bahasa Sasak yang terikat pada kata kerja, dapat berfungsi sebagai subyek dan sebagai obyek

1] lalo-k        “I went”    “Saya pergi”

go-1SG

 

2] empuk- t   “hit us”      memukul kami”

hit- 1PL

 

  • Enklitik dalam bahasa Sasak yang terikat pada auxiliary yang menunjukkan sebuah aspek dan berfungsi sebagai subyek.

1] mu-n         “Past – he”

past-3SG

 

2] mu-k         “Past-I”

past-1SG

 

  • Enklitik yang terikat pada kata benda. Enklitik –k menjadi –ek jika kata yang menjadi tuan rumahnya berakhiran konsonan q.

1] isiq-ek      “by me”     “oleh saya”

by-1SG

 

2] lai-k          “from me” “dari saya”

from-1SG

 

  • Enklitik yang terikat pada konjungsi

1] terus-k      “I then”  Saya lalu”

then-1SG

 

  • Enklitik yang terikat pada kata benda, berfungsi sebagai genitif

1] bale-n Ahmat       “Ahmat’s house”   “Rumah Ahmat”

house-3SG

 

2] buku-m                 “your book”    “Bukumu”

Book-2SG

 

Menurut klasifikasi klitik yang dikemukakan oleh Napoli, bahasa Sasak memiliki klitik sederhana (simple clitics) dan klitik khusus (special clitics), keduanya muncul diluar wilayah tekanan, dan memiliki penghubung nasal (linker).

Klitik khusus terikat pada kata benda untuk menandakan kepemilikan. Bentuk-bentuknya dalam berbagai dialek Sasak digambarkan dalam table dibawah ini:

 

 

Menó

1sg k
1pl t
2masculine m
2feminine m
3 n

 

Perbandingan dengan bentuk kata ganti bebas:

Menó

1sg aku
1pl ite
2 masculine kamu
2feminine kamu
3 ie

 

Dalam contoh:

ime      ‘hand’        ‘tangan’        ime-ng-k       ‘my hand’           ‘tangan saya’

inaq     ‘mother’    ‘ibu’              inaq-m          ‘your mother’     ‘ibu kamu’

 

Klitik khusus (special clitics) terikat pada kelas kata lainnya dan masuk ke dalam kategori nominal dan fungsi gramatikal.

 

 

 

 

Bahasa Sasak dialek Menó-Mené digunakan di seluruh Lombok bagian tengah, seperti Praya dan Desa Puyung. Srtuktur yang dimiliki adalah ACTOR V (UNDERGOER) (THEME). Kata kerja transitif juga tak berawalan dan bentuk nasal, namun penggunaannya berbeda. Kata kerja nasal berawalan digunakan dengan undergoer yang tidak dituju (non-referensial) :

 

Kanak=nó          bace              buku=ni

child=that           read              book=this

‘That child reads this book’

‘Anak itu membaca buku ini’

 

Kanak=nó          m-bace

child=that           N-read

‘That child is reading’

‘Anak itu membaca’

 

Ada beberapa klitik khusus (special clitics) untuk menandakan kategori nominal dan fungsi: enklitik yang dikemukakan Wackernagel yang menandakan ACTOR (pelaku) terikat pada konstituen non-NP pertama pada klausa (konjungsi, kata keterangan, kata depan, auxiliary)

  • Konjungsi

Guru          iaq=n     tulak          malik         sengaqm       mpuk=k

teacher       fut=3      return         again          because=2    hit=1

‘The teacher will come back again because you hit me’

‘Guru aka dating kembali karena kamu memukulku’

  • Adverbia

Terus=k           iaq          bedait                 kance            guru=nó

then=1             fut          meet                   with              teacher=that

‘Then I will meet that teacher’

‘Kemudian saya akan bertemu guru itu’

Telu           jam=k           antih=m          wah

three          hour=1          wait=2             already

‘I already waited you for three hours’

‘Saya sudah menunggumu selama tiga jam’

 

  • Auxiliary

Inaq           iaq=n        lalo            jok             peken         lemaq

mother       fut=3         go              to               market       tomorrow

‘Mother will go to market tomorrow’

‘Ibu akan pergi ke pasar besok’

 

  • Preposition

Mbe           eleq=n          tulak

where        from=3         return

‘where is he coming back from?’

‘kemana dia kembali?’

 

  • Kata kerja intransitif

Jika kata kerjanya intransitif dan tidak ada tuan rumah (host) lainnya yang potensial dalam klausa maka akan mengambil enklitik penanda pelaku:

Tulak=n          eleq               peken

return=3          from             market

‘He comes back from the market’

‘Dia kembali dari pasar’

 

Jika ada beberapa tuan rumah yang memungkinkan maka enklitik akan mengikuti tuan rumah pertama:

Kanak=no       ndeq=n         iaq          mancing

child=that        not=3            fut          N.fish

‘That child will not fishing’

‘Anak itu tidak akan memancing’

 

Klitik khusus dalam dialek Menó-Mené juga terikat sebagai enklitik untuk kata kerja transitif dan ditransitif untuk menandakan UNDERGOER khusus.

Iaq=m             gitaq=n           leq             peken

fut=2               see=3               loc             market

‘Will you see him at the market?’

‘Akankah kamu melihatnya di pasar?’

 

Iaq=m          beng=k               kepeng

fut=2            give-link=1sg     money

‘Will you give me some money?’

‘Akankah kamu memberi saya uang?’

 

Jika kata kerjanya merupakan kata kerja transitif dan ditransitif dan tidak ada tuan rumah (host) yang potensial untuk klitik  pelaku (ACTOR) maka auxiliary khusus muq akan muncul untuk mendukung klitik ACTOR:

Muq=k         gitaq=n        leq                   peken

AUX=1sg    see=3            loc                   market

‘I saw him at the market’

‘Saya melihatnya di pasar’

 

Muq=n         bace              buku=ni           isiq                kanak=no

AUX=3        read              book=this        by                 child=that

‘That child reads this book’

‘Anak itu membaca buku ini’

 

KESIMPULAN

 

Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan diatas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

–          Klitik adalah bentuk terikat yang secara fonologis tidak mendapatkan aksen dan sifatnya selalu melekat pada kata atau frasa lain yang disebut dengan host. Klitik terbagi menjadi dua jenis berdasarkan posisi letaknya terhadap host; (1) proklitik, jika klitik melekat di samoing kiri host; (2) enklitik, jika klitik melekat di samping kanan host-nya.

–          Klitik dalam bahasa Sasak termasuk ke dalam kategori enklitik yang dapat terikat dalam beberapa kelas kata dan memiliki fungsi yang berbeda-beda.

–          Yang dapat berperan sebagai host untuk klitik dalam bahasa Sasak adalah kata kerja kerja, auxiliary, konjungsi, genitive, kata benda, adverbia, preposisi,

–          Klitik dapat pula dibedakan menjadi dua jenis yaitu simple clitics, yaitu klitik yang memiliki kelas kata dan posisi sintaksis yang sama dengan independent yang digantikannya, dan special clitics, yaitu klitik yang bukan bentuk kontraksi dari kata yang dapat berdiri sendiri.

–          Klitik khusus (special clitics) yang  menandakan kategori nominal seseorang dan jumlah. Dalam Menó-Mené dialek, klitikUNDERGOER terikat pada kata kerja sedangkan klitik ACTOR terikat pada tuan rumah pertama yang tersedia, dalam hal lainnya kata bantu (auxiliary) khusus yang ada untuk mendukung klitik jika kata kerjanya transitif dan telah ada pada klitik UNDERGOER.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Adelaar, K. Alexander. 2002. Classification of Sasak. Papers in Languages of Bali, Lombok and Sumbawa.

Austin, Peter K. 2000. Working Papers in Sasak, Volume 2. Melbourne: University of Melbourne.

Bauer, L. 1988. Introducing Linguistic Morphology. Edinburg: Edinburg University Press.

Hudson, R. 2007. Clitics in Word Grammar.

http://mail2.phon.ucl.ac.uk/publications/WPL/01papers/hudson.pdf

Katamba, F. 1994. Modern Linguistics: Morphology. London: The Macmillan Press Ltd.

Muhadjir, Noeng. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi ketiga. Yogyakarta: Rakesarasin.

Musgrave, Simon. 1998. ‘A Note an Animacy Hierarchy Effects in Sasak and Sumbawan’ In P.K Austin (ed) Sasak. Working Papers in Sasak. Vol 2, ps. 49-83.

Napoli, Donna Jo. 1996. Linguistics. Oxford: Oxford University Press.

Spencer, A. dan Zwicky, A.M. (editors). 2001. The Handbook of Morphology. Oxford: Blackwell Publisher.

Verhaar, J. W. M. 1993. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

———————–. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Sumber Lain

www.sasak.org. diakses pada tanggal 15 Juni 2011 pukul 10.00 WIB.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s