Campur Kode dalam Rubrik “Life & Entertainment” Majalah Kawanku

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar belakang

Bahasa sebagai wahana komunikasi digunakan setiap saat. Bahasa merupakan alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Keraf, 1982: 19). Manusia menggunakan bahasa dalam komunikasi dengan sesamanya pada seluruh bagian kehidupan.

Sebagai alat komunikasi dengan sesamanya bahasa terdiri atas dua bagian yaitu bentuk atau arus ujaran dan makna atau isi. Bentuk bahasa adalah bagian dari bahasa yang diserap panca indera entah dengan mendengar atau membaca. Sedangkan makna adalah isi yang terkandung didalam bentuk-bentuk tadi, yang dapat menimbulkan reaksi tertentu (Keraf, 1982: 6).

Hubungan antara bahasa dengan sistem sosial dan sistem komunikasi sangat erat. Sebagai sistem sosial pemakaian bahasa dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti usia, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan profesi. Sedangkan sebagai sistem komunikasi, pemakaian bahasa dipengaruhi oleh faktor situasional yang meliputi siapa yang berbicara dengan siapa, tentang apa (topik) dalam situasi bagaimana, dengan tujuan apa (tulisan, lisan) dan ragam bagaimana (Nababan, 1986: 7).

Berdasarkan sarana tuturnya bahasa dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan. Pada bahasa lisan pembicara dan pendengar saling berhadapan secara langsung sehingga mimic, gerak, dan intonasi pembicara dapat memperjelas maksud yang akan disampaikan. Sedangkan untuk bahasa tulisan walaupun penulis dan pembaca tidak berhadapan langsung tulisan dapat dimengerti oleh pembaca berkat penggunaan tanda baca, penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Lindgren sebagaimana dikutip Poejosoedarmo (1073: 30) mengatakan bahwa fungsi bahasa yang paling mendasar adalah alat pergaulan dan perhubungan manusia. Baik tidaknya jalinan komunikasi antara manusia ditentukan oleh baik tidaknya bahasa mereka.

Bahasa sebagai objek dalam sosiolinguistik tidak dilihat atau didekati sebagai bahasa, sebagaimana linguistik umum tetapi sebagai sarana komunikasi dalam masyarakat. Dalam masyarakat manusia bahasa merupajan faktor yang penting untuk menentukan lancar tidaknya suatu komunikasi. Oleh karena itu ketepatan berbahasasangat diperlukan demi kelancaran komunikasi. Ketepatan berbahasa tidak hanya berupa ketepatan memilih kata dan merangkai kalimat tetapi juga ketepatan melihat situasi. Artinya seorang pemakai bahasa selalu harus tahu bagaimana menggunakan kalimat yang baik atau tepat, juga harus melihat dalam situasi apa dia berbicara, kapan, dimana, dengan siapa, untuk tujuan apa dan sebagainya.

1.2  Permasalahan

Berdasarkan uraian diatas, ada beberapa permasalahan yang dikaji oleh penulis diantaranya:

  1. Wujud dan tipe campur kode apa yang terjadi?
  2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya campur kode pada rubric “Life & Entertainment” dalam majalah kawanku?

1.3  Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

  1. Mengidentifikasi wujud dan tipe campur kode yang terjadi
  2. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode

1.4  Metode dan Teknik Penelitian

1.4.1        Tahap Pengumpulan Data

Pada tahap pengumpulan data, metode yang digunakan adalah metode simak dan teknik catat. Metode simak adalah metode yang bekerja dengan cara mengamati sumber data untuk mendapatkan data yang sesuai dengan ciri-ciri yang telah ditetapkan (Sudaryanto, 1992:11). Penggunaan metode simak karena menyimak pemakaian campur kode yang terdapat dalam majalah Kawanku. Teknik catat merupakan pencatatan hasil penyimakan data yang dilanjutkan dengan klasifikasi atau pengelompokkan.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rubric “Life & Enetrtainment” yang terdapat dalam majalah kawanku no. 82 edisi 22 September-06 Oktober 2010.

1.4.2        Teknik Analisa Data

Setelah data terkumpul selanjutnya adalah tahap analisis data. Pada tahap ini digunakan metode deskriptif fungsional berdasarkan fungsinya sebagai alat komunikasi. Analisis fungsional dilakukan dengan menggunakan metode kontekstual (pendekatan yang memperhatika konteks situasi). Selain itu dapat dianalisis berdasarkan wujud dan latar belakang campur kode setelah hasil analisis didapatkan, selanjutnya dilakukan pembahasan untuk bahan penarikan kesimpulan.

1.4.3        Tahap Penyajian Data

Hasil penelitian ini disajikan secara informal. Penyajian secara informal merupakan penyajian berupa perumusan dengan menggunakan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1993:144-157). Data-data yang telah terkumpul kemudian diidentifikasi dna diklasifikasikan berdasarkan campur kode serta penyebab terjadinya fungsi sosial. Kemudian melakukan penafsiran hasil analisis yang berisi pembahasan penyebab serta latar belakang terjadinya campur kode yang ditemukan pada data.

 

1.5  Landasan Teori

1.5.1        Bahasa pada Konteks Sosial

Sistem komunikasi yang terjadi dalam masyarakat cenderung berkembang, hal ini menimbulkan berbagai variasi yang digunakan seseorang. Variasi bahasa ialah bentuk atau variasi dalam bahasa yang pada tiap-tiap hal memiliki pola-pola yang menyerupai pola umum bahasa induknya (Poedjosoedarmo dalam Suwito, 1985: 23).

Wujud variasi bahasa itu berupa idiolek, dialek, ragam bahasa, register dan tingkat tutur. Variasi bahasa mungkin terdapat dalam kelompok pemakai di dalam domain-domain sosial masyarakat yang kecil, bahkan terdapat di dalam pemakaian bahasa perorangan (Suwito, 1985: 23). Faktor yang mempengaruhi variasi bahasa adalah tata susunan masyarakat setempat sehingga bahasa digunakan sebagai sarana aktivitas antaranggota masyarakat. Faktor luar yang memepengaruhi adalah faktor penutur, sosial, dan situasional (Suwito, 1985: 5-22). Faktor penutur mempengaruhi bahasa yang digunakan sebab setiap penutur memiliki sifat-sifat khusus yang tidak dimiliki oleh penutur lain. Sifat-sifat khusus ini meliputi sifat yang bersifat fisis-fisiologis dan yang bersifat psikis-mentalis. Faktor situasional turut mempengaruhi variasi bahasa.

Dialek dapat dijadikan alat untuk mengenali asal-usul seorang penutur. Tingkat tutur melambangi hubungan antara si penutur dengan mitra bicara merupakan cakapan akrab atau berjarak dan saling menghormati atau tidak. Ragam melambangi warna situasi percakapan. Register melambangkan maksud yang ingin disampaikan oleh penutur kepada orang yang diajak bicara.

1.5.2        Kedwibahasaan

Istilah bilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan kedwibahasaan, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau kode bahasa. Untuk dapat menggunakan dua bahasa, tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertama (B1), dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (B2). Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa tersebut disebut dwibahasawan.

Kedwibahasaan menurut Nababan (1984:27) adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa dalam interaksi dengan orang lain. Suwito (1985:40) berpendapat bahwa istilah kedwibahasaan pengertiannya bersifat nisbi (relatif). Kenisbian tersebut karena batas seseorang untuk dapat disebut dwibahasawan itu bersifat arbitrer (tidak ada batas pemisahnya) dan hampir tidak dapat ditentukan secara pasti. Hal ini disebabkan karena pandangan orang terhadap kedwibahasaan berbeda-beda.

Sangatlah sulit menemukan orang yang bilingualitas sejati, dalam artian kemampuannya dalam kedua bahasa tersebut sama benar dan mampu menggunakannya secara seimbang.

Bahasa Inggris merupakan bahasa asing pertama yang wajib diajarkan kepada siswa-siswa sekolah. Hal wajar jika masyarakat Indonesia mengunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai bahasa pertama, kemudian mereka akan mengenal bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua di sekolah atau secara informal dalam masyarakat. Dan pada jenjang yang lebih tinggi mereka akan mengenal dan mempelajari bahasa asing. Kemultibahasaan inilah yang menyebabkan timbulnya pencampuran bahasa dalam situasi pemakaian bahasa.

1.5.3    Kode

Pada suatu aktivitas bicara yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seseorang melakukan pembicaraan sebenarnya mengirimkan kode-kode pada lawan bicaranya (Pateda, 1990:83). Pengkodean itu melalui proses yang terjadi kepada pembicara maupun mitra bicara. Kode-kode yang dihasilkan oleh tuturan tersebut harus dimengerti oleh kedua belah pihak. Di dalam proses pengkodean jika mitra bicara atau pendengar memahami apa yang dikodekan oleh lawan bicara, maka ia pasti akan mengambil keputusan dan bertindak sesuai  dengan apa yang disarankan oleh penutur. Tindakan itu misalnya dapat berupa pemutusan pembicaraan atau pengulangan pernyataan (Pateda, 1991: 84).

Kode menurut Suwito (1985:67-68) adalah untuk menyebutkan salah satu varian didalam hierarki kebahasaan, misalnya varian regional, kelas sosial, raga, gaya, kegunaan, dan sebagainya. Dari sudut lain, varian sering disebut sebagai dialek geografis yang dapat dibedakan menjadi dialek regional dan dialek lokal.

Ragam dan gaya dirangkum dalam laras bahasa, sedangkan varian kegunaannya disebut register. Pembedaan ragam sebagai varian bahasa didasarkan pada nada situasi bahasa yang mewadahinya. Nada situasi tutur umumnya dibedakan menjadi situasi formal, informal.

Ragam formal dipergunakan untuk situasi yang bersifat resmi tahu relasi penutur dan mitra tutur berjarak. Dalam ragam formal, bentuk wacana, kalimat dan kata-katanya dituntut lengkap dan menaati kaidah kebahasaan. Oleh karena itu ragam formal disebut juga ragam lengkap, ragam resmi dan ragam standar. Sebaliknya ragam informal dipergunakan dalam situasi santai. Wacana kalimat dan kata-kata yang dipergunakan dalam raga mini banyak mengalami penanggalan dan penyingkatan. Jadi bahasa yang dipergunakan tidak mengikuti kaidah kebahasaan.

Dalam percakapan sehari-hari sring dijumpai penggunaan bahasa yang berbeda-beda antar kelompok atau dalam urusan tertentu yang berbeda. Varian bahasa seperti itu disebut register. Jadi register adalah varian bahasa yang perbedaannya ditentukan oleh peristiwa bicara (speech act). Register tidak ditentukan oleh unsur-unsur bahasa yang perbedaannya ditentukan oleh unsur-unsur bahasa seperti fonem, morfem, kalimat, leksikon maupun tipe struktur wacana secara keseluruhan. Ragam tingkat tutur dan register merupakan kode tutur.

Kode tutur merupakan varian bahasa yang secara rill dipakai oleh masyarakat bahasa yang bersangkutan (Poedjosoedarmo, 1987:5).  Poedjosoedarmo (1975:4) memberikan pengertian tentang campur kode sebagai suatu sistem tutur yang penerapan unsur bahasanya mempunyai ciri-ciri khas sesuai dengan latar belakang si penutur, relasi penutur dan lawan bicara dengan situasi tutur yang ada. Jadi dalam kode itu terdapat suatu pembatasan umum yang membatasi pemakaian unsur-unsur bahasa tersebut. Dengan demikian pemakaian unsur-unsur tersebut memiliki keistimewaan-keistimewaan. Keistimewaan itu antara lain terdapat bentuk, distribusi dan frekuensi unsur-unsur kebahasaan tersebut.

1.5.4    Campur Kode

Elisabeth Marasigan (melalui Suyanto, 1993:34) dalam bukunya Code Switching and Code Mixing in Multilingual Societies mengungkap kasus campur kode yang terjadi di Filipina, antara bahasa Filipina dengan bahasa Inggris. Istilah yang digunakan olehnya untuk menyebut campur kode adalah mix-mix. Menurutnya campur kode merupakan hasil kombinasi secara sistematis antara bahasa Inggris dan bahasa Filipina yang terkontrol secara baik yang berdiri sebagai variasi bahasa secara tersendiri dan dipergunakan oleh orang-orang yang terdidik, khususnya di Metro Manila.

Menurut Nababan (1986:32), ciri yang menonjol dalam peristiwa campur kode adalah kesantaian atau situasi informal. Jadi, campur kode umumnya terjadi saat berbicara santa, sedangkan pada situasiformal hal ini jarang sekali terjadi. Apabila dalam situasi formal terjadi campur kode, hal ini disebabkan tidak adanya istilah yang merajuk pada konsep yang dimaksud.

Kemampuan komunikatif penutur dalam suatu masyarakat bahasa akan sangat mempengaruhi hasil yang diharapkan penutur tersebut. Yang dimaksud kemampuan komunikatif menurut Nababan (1984:10) adalah kemampuan untuk memilih dan menggunakan satuan-satuan bahasa itu disertai dengan aturan-aturan penggunaan bahasa dalam suatu masyarakat bahasa. Menurut Suwito (1985:401) mengatakan bahwa ccampur kode adalah penyusupan unsur-unsur kalimat dari suatu bahasa kedalam bahasa yang lain, berwujud kata, frasa, pengulangan kata, ungkapan atau idiom.

Pengkajian tentang bentuk-bentuk serta perubahan bahasa khususnya variasi bahasa dalam penelitian ini akan dibahas tentang campur kode. Menurut Thelander (melalui Chaer, 1995:152) apabila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode. Sementara apabila suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun frasa-frasa yang digunakan terdiri dari klausa dan frasa campuran, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode.

1.5.5    Tipe Campur Kode

Campur kode diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu, camour kode bersifat kedalam (intern) dan campur kode bersifat keluar (ekstern) (Suwito, 1985:76). Dikatakan campur kode kedalam (intern) apabila antara bahasa sumber dengan bahasa sasaran masih mempunyai hubungan kekerabatan secara geografis maupun secara geanologis, bahasa yang satu dengan bahasa yang lain merupakan bagian-bagian sehingga hubungan antarbahasa ini bersifat vertikal.

Kemudian dikatakan bahwa campur kode ekstern apabila antara bahasa sumber dengan bahasa sasaran tidak mempunyai hubungan kekerabatan, secara geografis, geanologis ataupun secara politis. Campur kode ekstern ini terjadi diantaranya karena kemampuan intelektualitas yang tinggi, memancarkan nilai moderat. Dengan demikian hubungan campur kode tipe ini adalah keasingan antar bahasa yang terlibat.

1.5.6    Bentuk-Bentuk Campur Kode

Menurut Suwito (1985:78) selain tipe-tipe campur kode juga memiliki wujud yang ditentukan oleh wujud bahasa tercampur yaitu seberapa besar unsur bahasa tercampur menyusup kedalam bahasa utama. Berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat didalamnya, campur kode dapat dibedakan menjadi beberapa macam antara lain ialah penyisipan yang berupa kata, penyisipan unsur berupa frasa, penyisipan unsur yang berupa bentuk baster, penyusupan unsur perulangan kata dan penyusupan unsur berupa idiom atau ungkapan.

1.5.7        Latar Belakang Terjadinya Campur Kode

Faktor-faktor bahasa yang mempengaruhi penggunaan bahasa adalah faktor-faktor yang diungkapkan Dell Hymes (melalui Nababan, 1993:7) dengan akronim SPEAKING yang bila dijabarkan berarti:

  1. Setting dan Scene, dalam bagian ini unsur-unsur yang dimaksud yaitu keadaan, suasana, serta situasi penggunaan bahasa tersebut pada waktu dilakukan, hal in akan mempengaruhi tuturan seseorang dalam suatu komunikasi.
  2. Participant, yaitu siapa-siapa yang terlibat dalam peristiwa berbahasa, hal ini berkaitan antara penutur dan lawan tutur. Keputusan tindak bahasa penutur pada bagian ini dipengaruhi oleh kedudukan dan permasalahan yang melatari suatu komunikasi
  3. End (purpose and goal), dalam unsur ini yang  dibicarakan adalah akibat atau hasil dan tujuan apa yang dikehendaki oleh pembicara, hal ini akan berpengaruh pada bentuk bahasa serta tuturan pembicara.
  4. Act Sequence, dalam unsur ini yang dibicarakan adalah bentuk, isi pesan dan topil yang akan dibicarakan dalam komunikasi. Hal ini juga berpengaruh pada bentuk bahasa serta tuturan pembicara.
  5. Key/ tone of spirit of art, unsur nada suara yang bagaimana serta ragam bahasa yang digunakan dalam komunikasi akan berpengaruh pada bentuk tuturan.
  6. Instrumentalis, yaitu tuturan akan dipakai dalam komunikasi. Jalur ini bisa berupa tuturan melalui media cetak, media dengar, dan sebagainya.
  7. Norm of intersection and interpretation, unsur norma atau tuturan yang harus dimengerti dan ditaati dalam suatu komunikasi. Norma yang dimaksud dapat berupa norma bahasa yang mengatur bagaimana agar bahasa tersebut mudah dipahami.
  8. Genres, yaitu unsur berupa jenis penyampaian pesan. Jenis penyampaian pesan ini berwujud puisi, dialog, cerita dan lain-lain. Hal ini juga dipengaruhi oleh bentuk bahasa yang digunakan.

 

Menurut Weinrich (1963) menjelaskan mengapa seseorang harus meminjam kata-kata dari bahasa lain. Hal ini pada dasarnya memiliki dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal.

  1. Faktor Internal

Faktor ini menunjukkan bahwa seseorang meminjam kata dari bahsa lain karena dorongan yang ada dalam dirinya. Adapun faktor tersebut meliputi tiga macam yaitu:

  1. Low Frequency of Word

Seseorang melakukan campur kode karena kata-kata yang sering digunakan biasanya mudah diingat dan lebih stabil maknanya. Dengan demikian peminjaman kata dari bahasa lain bertujuan untuk menghindari pemakaian kata yang jarang didengar orang. Atau dengan kata lain menggunakan kata yang biasanya dipakai sehingga lawan tutur mudah memahami makna yang ingin disampaikan penutur.

  1. Pernicious Homonymy

Kata-kata yang dipinjam dari bahasa lain juga digunakan untuk memecahkan masalah homonim yang ada dalam bahasa penutur. Maksudnya adakalanya jika penutur menggunakan kata dalam bahasanya sendiri, maka kata tersebut dapat menimbulkan masalah homonim yaitu makna ambigu. Sehingga untuk menghindari keambiguan makna penutur menggunakan kata dari bahasa lain.

  1. Need for Synonym

Penutur sengaja menggunakan kata dari bahasa lain yang bersinonim dengan tujuan untuk menyelamatkan muka lawan tutur.

  1. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah suatu dorongan yang berasal dari luar penutur, yang menyebabkan penutur meminjam kata dari bahasa lain. Terdapat empat faktor eksternal, yaitu:

  1. Perkembangan atau perkenalan dengan budaya baru.

Faktor ini terjadi karena aadanya perkembangan budaya baru misalnya perkembangan teknologi di Indonesia, mau tidak mau orang Indonesia banyak menggunakan bahasa Inggris karena banyak sekali alat-alat teknologi yang berasal dari negara asing.

  1. In Sufficiently Differentiated

Menunjukkan makna tertentu yang memiliki maksud tertentu misalnya karena kebiasaan

  1. Social Value

Penutur mengambil kata dari bahasa lain dengan mempertimbangkan faktor sosial, sehingga diharapkan dengan penggunaan kata-kata tersebut dapat menunjukkan status sosial dari penutur.

  1. Oversight

Maksudnya ada keterbatasan kata-kata yang dimiliki oleh bahasa penutur dalam kaitannya dengan topik yang disampaikan sehingga penutur harus mengambil kata dari bahasa lain. Contohnya terbatasnya kata dalam bidang kefokteran dalam bahasa Indonesia maka banyak istilah kedokteran yang diambil dari bahasa Latin yang mempunyai istilah yang tepat dalam bidang kedokteran.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1       Wujud dan Tipe Campur Kode

2.1.1    Campur Kode Berupa Kata

Kata adalah satuan gramatikal bebas yang terkecil. Maksudnya tidak dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang masing-masing mengandung makna (Kentjono, 1982:44). Berdasarkan bentuknya kata dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu: kata dasar, kata turunan, kata ulang, dan kata majemuk. Selain itu menurut Ramlan (1981:22) kata dapat terbagi menjadi tujuh kategori yaitu kata benda (nomina), kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), kata keterangan (adverbia), kata bilangan (numeralia) dan kata tugas.

Terdapat beberapa penyusupan berupa kata dalam rubrik yang di tulis oleh penulis, yang terdiri dari bahasa asing semua yaitu bahasa Inggris. Campur kode berupa kata yang ditemukan berupa pada data berupa kata dasar, kata berimbuhan dan kata ulang.

a. Berupa Kata Dasar

Kata dasar KBII (1997) artinya adalah elemen terkecil dari sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.

Berikut beberapa unsur berupa kata dasar dengan tipe ekstern yang terdapat pada data: premiere, cool,  preview, font, season, dress, leopard, jean, behavior, chubby, curvy, edgy, club, fun, mood, juice, dan cover.

Dari data campur kode yang berupa kata dasar tersebut, kata-kata tersebut berupa kata benda dan kata sifat atau adjektiva.

Bentuk campur kode berupa kata dasar dalam bahasa asinguang menyusup ke dalam bahasa sasaran dalam majalah masih ada yang sesuai dengan makna asalnya dan ada yang tidak sesuai dengan makna asalnya.

Berikut contoh kata yang penggunaannya oleh penulis masih sesuai dengan makna aslinya.

(1)   “…Aku cuma sekali datang ke LA, waktu premiere film Harry Potter and The Order of The Phoenix.”

(2)   “…kita bisa memilih jenis font dengan berbagai bentuk untuk melihat preview bentuk font, biasanya kita akan disuguhi teks berbunyi…”

Kata premiere dalam kalimat (1) berarti ‘pertunjukan perdana’, penggunaan kata premiere sebenarnya dapat digantu dengan makna aslinya. Namun ternyata penggunaan kata premiere dianggap dapat lebih meyakinkan pembaca.

Kata lain seperti season, dress, leopard, jean, behavior, chubby, curvy, edgy, club, fun, mood, juice, dan cover penggunaannnya dalam kalimat masih sesuai dengan makna aslinya dalam kamus.

Selain kata yang tersebut terdapat kata cool yang maknanya tidak sesuai dengan asliny. Berikut ini penggunaannya:

(3)”…buku ini memakan biaya $2000 (kurang lebih Rp 18 juta) untuk pembuatannya, cool!”

Pada kalimat (3) terdapat kata cool pada akhir kalimat. Sebenarnya kata cool memiliki makna ‘sejuk’, ‘tenang’. Tapi penggunaan kata cool dalam kalimat tersebut lebih mendekati makna ‘keren’ untuk menyatakan bahwa pembuatan buku yang memakan biaya kurang lebih Rp 18 juta tersebut merupakan hal yang luar biasa untuk sekedar pembuatan buku saja.

b. Berupa Kata Berimbuhan

Afiks atau imbuhan adalah semacam morfem non dasar yang secara struktural didekatkan pada kata dasar atau bentuk dasar untuk membentuk kata-kata baru. Bentuk kata dasar merupakan bentuk yang dijadikan landasan untuk tahap pembentukan berikutnya. Sedangkan menurut Ramlan (1983:47) dalam kata berimbuhan penyusupan unsur yang terjadi pertimbangannya sama dengan kata dasar, yang membedakan yaitu bahwa kata dasar merupakan morfem bebas sedangkan kata berimbuhan terdiri dari morfem bebas dan terikat, sehingga sudah berwujud kata kompleks.

Bentuk penyusupan berupa baster yang terdapat pada data adalah sebagai berikut: didelivery, ngewrite, ngeblend, ngedance, ngemix, ngedate, ngepop, merequest. Dari keseluruhan bentuk baster tersebut proses afiksasi atau pembubuhan afiks dapat dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar sehingga bentuk baster dapat dibedakan menjadi prefiks, yaitu afiks yang di imbuhkan dimuka bentuk dasar.

Bentuk baster yang termasuk dalam kategori prefiks adalah sebagai berikut, di-delivery, nge-write, nge-blend, nge-dance,, nge-mix, nge-date, nge-pop, dah me-request yang semuanya merupakan bentuk prefiks dalam bahasa Indonesia yang dibubuhkan kedalam bentuk dasar dalam bahasa asing atau bahasa Inggris.

Selain bentuk prefiks, proses afiksasi yang terjadi dapat pula berupa bentuk sufiks. Yang dimaksud dengan sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar (Chaer:1995). Pada keseluruhan data sufiks yang terjadi adalah bentuk sufiks –nya. Hal ini terjadi pada bentuk dasar dalam bahasa asing. Penggunaan bentuk baster yang masuk kedalam kategori sufiks adalah: feel-nya, storyboard-nya, mellow-nya.

c. Berupa Kata Ulang

Ramlan (1983:60) menyatakan bahwa kata ulang merupakan kata yang telah mengalami proses morfologis berupa pengulangan bentuk dasarnya, baik pengulangan seluruh, sebagian ataupun pengulangan dengan perubahan bunyi. Bentuk perulangan kata sama halnya dengan reduplikasi.

Reduplikasi menurut Chaer (1995) adalah proses morfemis yang mengulang bentuk-bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian maupun dengan perubahan bunyi. Bentuk perulangan yang terdapat pada data termasuk dalam bentuk perulangan secara keseluruhan atau bentuk reduplikasi penuh.

Bentuk perulangan yang ditemukan pada data adalah perulangan dalam bahasa asing yaitu kata: gadget-gadget yang memiliki bentuk dasar gadget. Penggunaan kata gadget oleh penulis adalah untuk lebih menyingkat maksud dengan hanya menggunakan perulangan kata sebagai strateginya.

d. Campur Kode Berupa Frasa

Frasa adalah kesatuan yang terdiri atas dua kata atau lebih yang mestinya mempertahankan makna kata dasarnya. Sementara gabungan itu menghasilkan suatu relasi tertentu dan tiap pembentuknya tidak dapat berfungsi sebagai subjek dan predikat dalam konstruksi tersebut (Keraf, 1991:175).

Penggunaan unsur-unsur bahasa Inggris dalam majalah kawanku tidak hanya terbatas pada kata, tetapi juga  dapat berwujud frasa. Berdasarkan letak kelas katanya, unsur bahasa Inggris berwujud frasa terdiri atas frasa nominal, frasa verbal, dan frasa depan.

1. Frasa Nominal

Frasa nominal adalah frasa yang induknya berupa nomina atau kata benda (Alwi,dkk., 2003:244). Dari data yang ada ditemukan beberapa frasa nominal, yaitu summer outfit, bar code, lilac purple, hoodie jacket, harem pants, snake skin, animal printed, science fiction, fashion merchandise, handphone, surf store, modem boot, playboy, eye shadow, eye liner, public enemy, blush on, movie freak, mix tap, swimsuit dan sunblock.

Contoh:

(4)”Selain musik idolanya Dave Grohl, Emir paling suka nonton film. Boleh dibilang dia itu movie freak.”

Dalam contoh no (4) di atas, movie freak artinya penggila film atu ddapat disebut sebagai pecinta film. Movie freak merupakan frasa yang terdiri atas unsur pusat movie ‘film’ yang berjenis kata benda dan unsur tambahan freak ‘penggila’ atau ‘keranjingan’.

2. Frasa Verbal

Frasa verbal adalah frasa yang induknya berupa verbal atau kata kerja (Alwi, dkk., 2003:157)

Ada beberapa frasa verbal yang ditemukan dalam data, yaitu: dyed  black, hang out, makeover, dan make up.

Contoh :

(5)”Kalau bosen, biasanya aku hang out bareng teman-teman.”

Data (5) di atas terdiri dari frasa verbal, yaitu hang out yang berarti ‘…..’

3. Frasa Adjektival

Frasa adjektival adalah frasa yang terdiri atas kata sifat sebagai penanda. Ada beberapa frasa tersebut yang ditemukan dalam data, yaitu: floppy hats, global warming, soundtrack, rock star, slim cropped, perfect trouser, true straight, comfort zone, round face, dan easy listening. Contoh :

(6)”Saat itu enggak bakal ada orang yang percaya kali, ya, kalau dibilang dunia bakal mengalami global warming.”

Frasa dalam kalimat di atas merupakan frasa adjektiva yang terdiri dari adjektiva global sebagai penanda, diikuti kata warming, yang berarti pemanasan global.

2.2  Faktor Terjadinya Campur Kode

Faktor utama penyebab penutur menggunakan unsur bahasa Inggris dalam tuturannya adalah karena faktor kedwibahasaan. Pendapat Weinrich dalam Suhardi Prawiroatmojo, mengemukakan kedwibahasaan sebagai pemakaian dua bahasa (oleh sesorang) secara bergantian (Kentjono (Ed), 1982:124). Seseorang sering menggunakan atau mencampur-campur suatu bahasa dengan bahasa lain dikarenakan dia menguasai, baik aktif maupun pasif kedua bahasa itu.

Kedwibahasaan terjadi karena adanya kontak antara bahasa yang satu dengan yang lain. Mackey dalam Suwito (1985:39) mengemukakan kontak bahasa sebagai pengaruh bahasa yang satu kepada bahasa yang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga menimbulkan perubahan bahasa yang dimiliki ekabahasawan. Kontak bahasa ini menimbulkan terjadinya kedwibahasaan.

Di era modern ini, pemasukan unsur asing, yang bersifat internasional tidak dapat dihindari lagi. Tidak adanya padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia menyebabkan para ahli terpaksa memungut unsur-unsur asing tersebut. Faktor penyebab masuknya unsur bahasa asing tersebut yaitu : (1) lebih populer, (2) lebih ringkas (Weinrich, 1963) (3) lebih bergengsi, dan (4) lebih santai (Nababan, 1984; Suwito,1985).

a. Lebih Populer

Dewasa ini, penggunaan unsur asing, khususnya bahasa Inggris semakin marak diman-mana. Meskipun sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, masyarakat kita lebih suka memakai istilah bahasa Inggris tersebut. Ini dikarenakan masyarakat telah mengenal lebih dahulu istilah bahasa Inggrisnya daripada padanan kata bahasa Indonesianya, sehingga yang terasa akran di telingalah yang lebih dipilih.

Contoh :

(7) “Gara-gara Dougy, Indonesia masuk ke sejarah soundtrack film Hollywood untuk pertama kalinya.”

Soundtrack adalah istilah khusus yang digunakan dalam bidang seni, baik itu seni musik maupun seni perfilman. Dalam masyarakat kita, istilah soundtrack lebih populer dari pada lajur bunyi, sebab yang dimaksud dengan lajur bunyi disini tidka jelas. Soundtrack dikhususkan pada musik/lagu yang mengiringi sebuah film. Sedangkan yang dimaskud dengan lajur bunyi itu lebih luas yaitu semua bunyi-bunyian bisa berupa suara orang, hewan, benda jatuh dan tidak hanya digunakan pada bidang perfilman. Jadi, penggunaan istilah soundtrack dipilih untuk mempermudah pemahaman pembaca karena lebih dikenal dahulu.

b. Lebih Ringkas

Masyarakat kita lebih suka menggunakan istilah bahasa Inggris karena lebih ringkas. Suatu istilah jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi sangat panjang, sehingga mempersulit pembaca untuk mengingatnya. Satu istilah bahasa Inggris bila diterjemahkan dapat menjadi beberapa atau banyak kata dalam bahasa Indonesia, sehingga tidak efektif. Maka dari itu, pembaca lebih suka memilih istilah bahasa Inggris yang ringkas daripada terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang sangat panjang.

Contoh:

(8) “Lagian aku kan tampil begitu untuk di panggung, bukan di club malam.”

Club berarti ‘perkumpulan’ adalah istilah yang telah umum digunakan sehingga menjadi istilah umum. Sekarang istilah itu tidak hanya digunakan dalam bidang tersebut tetapi meluas ke bidang-bidang lain.  Club  berarti perkumpulan yang kegiatannya mengadakan persekutuan untuk maksud tertentu. Kata tersebut sering dipadankan dengan perkumpulan, tetapi sebenarnya club lebih luas daripada perkumpulan. Sehingga penggunaan kata perkumpulan sebagai padanan kata club kurang tepat maknanya juga untuk keefektifan karena lebih ringkas dibandingkan istilah terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

c. Lebih Bergengsi

Penggunaan unsur bahasa Inggris dalam tuturan akibat adanya faktor kegengsian. Faktor gengsi, berkaitan dengan status sosial seseorang. Biasanya orang yang menggunakan unsur bahasa Inggris karena faktor ini adalah mereka yang berasal dari latar belakang pendidikan yang tinggi.

Kefasihan berbahasa asing, khususnya bahasa yang dikaitkan dengan peradaban yang tinggi, kadang-kadang disangka penutur bahasa akan meningkatkan kedudukan sosialnya di mata orang lain.

Contoh:

(9)”Musik kita emang instrumental, tapi musik yang kita sajikan easy listening banget.”

Penggunaan unsur bahasa Inggris dalam kalimat di atas dilakukan karena faktor gengsi. Kata di atas adalah kata bahasa Inggris yang belum populer dalam masyarakat. Easy listening berarti ‘enak didengar’. Dengan menggunakan kata-kata yang belum populer seolah penutur ingin menunjukkan bahwa dia bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar tidak sekedar ikut-ikutan saja.

d. Lebih Santai

Nababan mengatakan bahwa ciri yang menonjol seseorang menggunakan unsur bahasa Inggris adalah kesantaian atau situasi formal (1984:32). Dalam suasana santai tersebut akan terciptalah keakraban.

Penggunaan unsur-unsur bahasa Inggris oleh penutur adalah untuk menimbulkan kesan akrab dan santai. Faktor ini berhubungan dengan kesederajatan sesorang. Maksudnya, dilakukan pada situasi santai dan pada seseorang yang mempunyai derajat sama. Ada beberapa data yang menunjukkan kesan akrab dalam penggunaannya, yaitu: man, girls, cool. Kita seringkali mendengar para remaja menggunakan kata-kata seperti itu kepada teman sebayanya dalam suasana santai. Untuk itulah dalam majalah kawanku digunakan kata-kata seperti itu untuk menarik perhatian remaja. Dengan menggunakan kata-kata yang tidak formal dan tidak kaku diharapkan akan tercipta suasana santai sehingga para remaja menyukai majalah tersebut.

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Berdasarkan analisis data yang telah di uraikan pada bab sebe,umnya, maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut:

  • Macam-macam campur kode dalam rubrik ”Life & Entertainment” majalah kawanku mencakup: (1) wujud kata, terdiri atas : kata benda dan kata sifat; (2)wujud baster (kata berimbuhan), yaitu terdiri atas prefiks dan sufiks; (3) wujud frasa, yaitu terdiri dari frasa nominal, frasa verbal, dan frasa adjektival.
  • Faktor utama penyebab terjadinya campur kode yaitu : (1) lebih populer, (2) lebih ringkas, (3) lebih bergengsi, dan (4) lebih santai.

 

Daftar Pustaka

 

Alwi, Hasan. dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta

Echols dan Hassan Shadily. 2001. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Kentjono, Djoko (Ed). 1982. Dasar-Dasar Linguistik Umum. Jakarta: Fakultas Sastra UI.

 

Keraf, Gorys. 1992. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia.

—————-. 1991. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia

Nababan, P.W.J. 1984. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia

Pateda, Mansur. 1991. Sosiolinguistik. Jakarta: Gramedia.

Ramlan. 1987. Sintaksis. Yogyakarta: Karyono.

———-. 1987. Morfologi. Yogyakarta: Karyono.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Suwito. 1985. Sosiolinguistik Pengantar Awal. Solo: Hendri Offset.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembina dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Winreich, Uriel. 1963. Languages in Contact: Finding and Problem. New York: Mouton Publishers the Houge.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s