METAFORA DALAM PUISI “MAWAR DAN PENJARA”

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1 Latar Belakang

Bahasa merupakan salah satu saran untuk mengungkapkan pikiran atau gagasan seseorang. Bahasa juga tidak hanya sebagai alat komunikasi yang sederhana, dalam arti komunikasi antarindividu yang bersifat umum, tetapi dalam pemakaian bahasa itu sendiri ada cara-cara untuk mengungkapkannya. Cara itu antara lain disebut dengan gaya bahasa. Gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Gaya bahasa atau style ini menjadi bagian dari diksi, yaitu pilihan kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata. Frasa atau klausa tertentu untuk mengungkapkan situasi tertentu (Keraf, 1991:136).

Masalah gaya bahasa sering dipergunakan dalam satra, karena sastra lebih bertujuan untuk menggugah pembacanya agar menimbulkan efek-efek tertentu seperti yang diharapkan pengarangnya (misalnya puisi). Agar tujuan itu tercapai maka penulis karya sastra berusaha memilih kata atau ungkapan yang tidak hanya tepat, tetapi kata tersebut harus dalam maknanya sehingga pendengar atau pembaca dapat tergugah perasaannya (Pradopo, 1987:48)

Salah satu bentuk gaya bahasa yang banyak dikenal adalah ‘metafora’. Metafora banyak digunakan dalam karya sastra baik dalam jenis puisi maupun novel. Metafora merupakan pemakaian kata-kata yang bukan dalam arti yang sebenarnya. Suatu ungkapan metaforis ditentukan oleh persamaan atau perbandingan kata-kata yang digunakan untuk melukiskan realitas yang sesungguhnya dengan gagasan-gagasan yang abstrak yang ingin dilukiskan.

Gaya bahasa metafora berkaitan langsung dengan tekstur tuturan manusia. Edi Subroto (1996:37) mengungkapkan metafora adalah salah satu wujud daya kreatif bahasa di dalam penerapan makna. Artinya berdasarkan kata-kata tertentu yang telah dikenalnya dan berdasarkan keserupaan atau kemiripan referen, pemakaian bahasa dapat memberi lambing baru pada referen tertentu. Baik referen baru itu telah memiliki lambang maupun belum. Pada dasarnya penciptaan metafora tidak ada habis-habisnya, dengan kata lain metafora memberi kesegaran dalam berbahasa, mengaktualkan sesuatu yang sebenarnya lumpuh, menghidupkan sesuatu yang sebenarnya tidak bernyawa.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Bagaimana wujud tuturan metaforis dalam puisi “Setangkai Puisi di Malam Bulan Separuh” dan “Kepada Bulan Separuh”?
  2. Jenis metafora apa saja yang dipergunakan dari segi ruang persepsi manusia (ekologi) dalam dua puisi tersebut?

1.3 Metode Penelitian

Sumber data dalam makalah ini diambil dari dua buah puisi karangan Andhika Mappsomba yang berjudul “Setangkai Puisi di Malam Bulan Separuh dan “Kepada Bulan Separuh” yang diambil dari buku “Mawar dan Penjara.”

Penelitian dalam makalah ini termasuk penelitian deskriptif. Menurut Gay (dalam Sevilla, 1993:71) mengatakan bahwa penelitian deskriptif adalah suatu metode yang menganalisis dan mendeskripsikan data berdasarkan bahan yang diperoleh tanpa menambah dan menguranginya kecuali menganalisisnya.

Teknik yang digunakan dalam makalah ini adalah teknik catat. Yang dimaksud catat adalah mengadakan pencatatan terhadap data relevan yang sesuai dengan sasaran dan tujuan penelitian (Edi Subroto, 1992:41). Pencatatan data dalam penelitian ini dilakukan dengan mengambil kata atau kalimat dalam puisi yang mengandung ungkapan metaforis

1.4 Landasan Teori

1.4.1 Metafora

Tarigan (1985:183) mendefinisikan bahwa metafora berasal dari bahasa Yunani metaphora yang berarti ‘memindah’ berasal dari kata meta ‘diatas’ atau melebihi’ dan pharein ‘membawa.’ Jadi dalam metafora membuat perbandingan antara dua hal untuk menciptakan suatu kesan mental yang hidup walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit dengan menggunakan kata-kata seperti, ibarat, bagaikan, umpama, laksana, dan sebagainya seperti halnya perumpamaan. Keraf (1991:139) berpendapat bahwa metafora adalah sejenis gaya bahasa perbandingan yang singkat, padat dan tersusun rapi. Di dalamnya terlihat dua gagasan, yang satu adalah suatu kenyataan, sesuatu yang dipikirkan dan yang menjadi objek, dan yang satunya lagi merupakan pembanding terhadap kenyataan tadi dan menggantikan yang di belakang itu menjadi yang terdahulu. Metafora merupakan bahasa kiasan seperti perbandingan hanya tidak menggunakan kata pembanding saja.

Dalam Wahab (1990:142) dijelaskan bahwa metafora sudah menjadi bahan studi sejak lama yaitu sejak zaman kuno. Quintilian (35-95), dalam Wahab, 1990:142) mengatakan bahwa metaphor adalah ungkapan kebahasaan untuk mengatakan sesuatu yang hidup bagi makhluk hidup lainnya, yang hidup untuk yang mati, yang mati untuk yang hidup, atau yang mati untuk yang mati. Abdul Wahab sendiri mendifinisikan bahwa metafora adalah ungkapan kebahasaan yang tidak dapat diartikan secara langsung dari lambing yang dipakai baik oleh lambing maupun oleh makna yang dimaksudkan oleh ungkapan kebahasaan itu.

Metafora sebagai salah satu wujud daya kreatif bahasa di dalam penerapan makna, artinya berdasarkan keserupaan atau kemiripan referen tertentu, baik referen baru itu telah memiliki nama lambing (sebutan atau kata) ataupun belum. (Edi Subroto, 1996:38) menyatakan bahwa metafora adalah suatu perbandingan langsung karena kesamaan intuitif maupun nyata antara dua referen. Misalnya adalah sebutan lambe sumur ‘bibir sumur’ dalam bahasa Jawa. Terdapat dua referen, yang pertama yaitu ‘bagian mulut sumur atau perigi’ yang mempunyai lambing (wujud kata) dan ada referen ‘bibir’ manusia yang telah dikenal oleh pemakai bahasa. Karena referen pertama menurut persepsi pemakai bahasa serupa dengan referen kedua, maka disebut orang lambe atau sumur. Dalam hal ini referen pertama sebagai tenor dan referen kedua sebagai wahana. Munculnya kata ‘sumur’ di belakang ‘lambe’ untuk mengacu referen pertama semata-mata sebagai pembatas agar tidak terdapat kekeliruan penangkapan.

Metafora sebagai sumber ekspresi personal dari seorang penutur. Perubahan makna sering berakar pada keadaan jiwa penutur, hal itu terjadi pada bentuk ungkapan metaforis yang memiliki kemiripan emotif. Perubahan makna ini bersumber dari diri pengarang (secara psikologis). Dalam penciptaan metafora, seorang pengarang juga dipengaruhi oleh hal-hal yang terjadi disekitarnya. Hal-hal yang terjadi misalnya minat atau kesenangan, kesusahan, ketakutan, jatuh cinta, aspirasi atau gagasan-gagasan masyarakat cenderung mempengaruhi pengarang dalam penciptaan metafora.

1.4.2 Keekspresifan Metafora

Dalam kemetaforaan terdapat beberapa kemiripan atau keserupaan antara dua referen atau elemen kesamaan antara tenor dan wahananya dapat bersifat objektif, perceptual dan kultural. Bersifat objektif berarti memiliki hubungan kesamaan wujud atau berwujud realistis dianggap benar atau nyata, bersifat perceptual atau emosi berdasarkan khasanah budaya seorang penutur (Edi Subroto, 1989:4). Jika jarak antara tenor dan wahana itu berdekatan, artiinya kemiripan (kesamaan) antara dua referen nyata dan berwujud, maka akan menciptakan metafora yang kurang ekspresif karena kemiripannya begitu jelas. Contoh metafora ini misalnya kumis kucing dan lidah buaya. Kumis kucing dan lidah buaya adalah bentuk-bentuk metafora dengan bentuk benda aslinya yaitu bulu-bulu yang tumbuh di bawah hidung seekor kucing, dan bentuk lidah buaya merupakan salah satu bagian mulut dari seekor buaya.

Faktor tertentu dalam keekspresifan dan keefektifan metafora adalah jarak antara tenor dan wahana. Artinya kemiripan antara dua referen begitu nyata dan berwujud menciptakan metafora yang konvensional. Misalnya punggung bukit, kaki gunung, kaki meja, dan sebagainya (Edi Subroto, 1989:4). Adapun keserupaan maupun kemiripan sekaligus perbedaan dari suatu referen dapat diketahui dengan metode analisis komponen, seperti dalam Edi Subroto (1996:33) yaitu, yang dimaksud dengan metode analisis komponen dalam semantik adalah menguraikan atau proses mengurai arti konsep suatu kata ke dalam komponen maknanya. Ciri semantik dari sebuah kata adalah seperangkat ciri pembeda arti yang bersifat hakii yang benar-benar mewakili dan diperlukan untuk membedakan unit leksikon yang satu dari unit leksikon yang lain yang sedomain

Misalnya kata kaki (manusia) dan kaki meja dapat diananlisis sebagai berikut:

Kaki (manusia) : (-) bagian dari tubuh manusia, terbentuk dari daging dan tulang, untuk berjalan,

(+) benda konkret, bagian di bawah, sebagai penyangga atasnya

Kaki meja        : (-) bagian dari meja, terbuat dari kayu, untuk berdiri

                           (+) benda konkret, bagian bawah, sebagai penyangga bagian atasnya.

Dari analisis di atas diketahui adanya keserupaan atau kemiripan makna yaitu sama-sama benda komkret, sama-sama bagian terbawah dan sama-sama berfungsi sebagai penyangga bagian atasnya. Dari kaki (manusia) dapat diterapkan pada bagian meja.

1.4.3 Metafora dalam kaitannya dengan Ruang Persepsi Manusia

Manusia dan lingkungan berhubungan erat satu sama lain. Manusia tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan lingkungan di sekitarnya. Manusia, flora, fauna, dunia kosmos, dan segala benda yang ada di permukaan bumi saling mengalami ketergantungan. Karena manusia tergantung dari keadaan alam lingkungannya, maka di dalam berpikir dan menciptakan metafora manusia tidak dapat melepaskan diri dari lingkungannya, sebab ia selalu mengadakan interaksi antara manusia dan lingkungannya (makhluk bernyawa maupun tidak bernyawa) disebut sistem ekologi.

Sistem ekologi yang dipersepsikan oleh manusia tersusun di dalam suatu hirarki yang sangat teratur. Dengan demikian, ruang persepsi manusia yang mempengaruhi penciptaan metafora pada kalangan penyair dan sastrawan juga tersusun menurut hirarki yang teratur pula (Wahab, 1991:78)

Dari hirarki persepsi manusia, terbagi menjadi sembilan kat egori yang dapat lebih menjelaskan adanya hubungan metafora dengan ekologi. Yaitu:

  1. Kategori manusia (Human)
  2. Kategori makhluk bernyawa (Animate)
  3. Kategori kehidupan (Living)
  4. Kategori benda (Objects)
  5. Kategori teristerial (Terrestrial)
  6. Kategori substansi (Substance)
  7. Kategori energi (Energy)
  8. Kategori kosmos (Cosmic)
  9. Kategori keadaan (Being)

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       Analisis Data Wujud Metafora

(1) Akan ada hati yang berdarah

Dalam kalimat metaforis di atas yang menjadi inti atau pusat adalah kata hati dan berdarah sebagai pelengkapnya. Dalam kalimat tersebut, kata ‘hati’ berarti sesuatu yg ada di dalam tubuh manusia yg dianggap sebagai tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian, perasaan, dan sebagainya. Sedangkan ‘berdarah’ berarti mengeluarkan darah, yang indentik dengan terluka. Jadi kalimat metaforis tersebut mengandung makna hati yang terluka.

(2) Dan ditulis dengan tinta darah dan perahan air mata

Dalam metafora frase tinta darah di atas tidak berarti tinta dari darah yang sesungguhnya. ‘Tinta darah’ dalam kalimat tersebut mengacu pada sebuah penderitaan yang di alami atau luka yang dirasakan. Sedangkan frase perahan air mata berarti tetesan air mata yang jatuh, perahan memang berarti hasil memerah sesuatu, namun ‘perahan’ dalam kalimat tersebut di kiaskan menjadi kumpulan air mata yang menetes jatuh dari wajah.

(3) Untuk menaklukkan puncak-puncak rindu menjadi perpisahan

Dalam metafora frase puncak-puncak rindu di atas yang menjadi inti atau pusat adalah kata rindu, sedangkan puncak-puncak merupakan atribut (pelengkap). Puncak dalam frase tersebut adalah bagian yang di atas sekali dari sebuah benda,bagian yang tertinggi, teratas dari suatu tingkatan sedangkan rindu adalah suatu perasaa yang sangat ingin bertemu dan berharap sekali baik pada teman, keluarga, kekasih, dsb.

Jadi, puncak-puncak rindu dalam metafora di atas sebenarnya hanya merupakan perasaan rindu yang sudah sangat mendalam dan tidak dapat di tahan lagi.

(4) Menutup ruang rasa

Frase ruang rasa, yang menjadi inti atau pusat frase adalah kata rasa, dan kata ruang merupakan atribut (pelengkap). Ruang adal;ah rongga yang terbatas atau terlingkung oleh bidang, tempat segala yang ada, sedangkan rasa adalah tanggapan indra terhadap rangsangan saraf atau tanggapan hati terhadap sesuatu.

Ruang rasa dalam frase tersebut merupakan sebuah tempat dimana seseorang menyimpan sebuah tanggapan hatinya terhadap sesuatu.

Jadi “menutup ruang rasa dengan paksa” berarti seseorang tersebut ingin menyudahi untuk memberi tanggapan lagi terhadap apapun, dia ingin mengunci perasaan yang dimiliki.

(5) Menyanyikan namanya dalam senyapku mengarungi malam

Dari kalimat metaforis di atas, makna dari menyanyikan namanya adalah menyebut-nyebut namanya dalam kesepian yang dirasakan. Sedangkan ‘mengarungi malam’ dalam kalimat tersebut berarti melewati dan menghabiskan malam hingga pagi datang.

(6) Seperti sentuhan sutera dan belaian butiran salju di tengah gurun

Dalam kalimat metaforis di atas sentuhan sutera dan belaian butiran salju memiliki makna lembut, sejuk dan ketenangan. Terlebih lagi, sentuhan dan belaian tersebut di ibaratkan berada di tengah gurun yang jelas-jelas memiliki cuaca yang panas dan gersang.

(7) Membawakan segenggam rindunya

Dalam kalimat metaforis di atas, segenggam rindunya memiliki makna kumpulan rindu yang dimiliki.

(8) Lalu ia mengabarkan rindunya

Dalam kalimat metaforis di atas, kata mengabarkan merupakan predikat dari subyek ‘ia’, dan rindu merupakan obyek. Kata mengabarkan sebenarnya cocok di ikuti oleh objek konkret seperti berita, dll. Namun rindu disini merupakan benda abstrak yaitu sebuah rasa ingin bertemu yang dimiliki oleh manusia.

Jadi, kalimat metaforis di atas berarti ‘menyampaikan rasa ingin bertemu’ yang di rasakan oleh ‘ia’ kepada seseorang.

(9) Tertikam kata dan cinta dari sekuntum mawar lain

Makna dari kalimat di atas yaitu, merasa terhina dan terluka. Sekuntum mawar dalam kalimat tersebut diasosiasikan sebagai seorang wanita. Jadi makna keseluruhan dalam kalimat tersebut yaitu seseorang yang merasa terhina dan terluka oleh seorang wanita.

(10) Adakah ia menikmati bulan yang muram ini pula.

Makna dari frase bulan yang muram adalah bulan yang cahayanya redup. Jika melihat kata ‘muram’, kata tersebut lebih cocok digunakan oleh manusia, karena kata muram lebih sering mengacu pada wajah. Namun dalam kalimat tersebut kata bulan diasosiasikan sebgai wajah seorang manusia yang muram, sehingga frase tersebut memiliki makna cahaya bulan yang redup.

(11) Tatapan itu beradu disana

Dalam kalimat metaforis di atas, kata beradu yang sebenarnya lebih cocok digunakan untuk makhluk hidup. Sedangkan tatapan adalah suatu proses menatap yang dilakukan oleh mata. Jadi, makna dari kalimat tersebut adalah saling menatap tajam.

(12) Entah sang mawar akan menikam kulitku mana lagi

Dalam kalimat metaforis di atas, kata sang mawar diasosiasikan sebagai seorang wanita. Sedangkan kata ‘menikam kulitku’ berarti melukai. Makna dari kalimat di atas yaitu entah apakah wanita itu akan melukaiku lagi atau tidak. Seorang wanita disana diibaratkan sebagai ‘mawar’ karena secara fisik bunga mawar memiliki bentuk yang indah dan anggun namun juga memiliki duri tajam yang bisa melukai. Jadi, seorang wanita yang telah melukai tersebut di ibaratkan sebagai mawar.

(13) Dari belati lidahnya

Dari frase belati lidahnya di atas, yang merupakan pusat dari frase tersebut yaitu lidah, sedangkan belati merupakan pelengkap. Makna dari frase tersebut yaitu tajamnya lidah yang mengucapkan kata-kata yang dapat menyakitkan dan menyinggung perasaan. Kata belati berarti sesuatu yang runcing dan tajam yang digunakan untuk mengiris, sedangkan lidah adalah salah satu bagian dari mulut yang dapat bergerak dengan mudah dan digunakan untuk mengecap dan berkata-kata. Seringkali lidah di ibaratkan sebagai pisau karena lidah tak memiliki tulang sehingga dengan mudah dapat mengeluarkan kata-kata yang bisa menyinggung dan menyakiti perasaan seseorang yang di ajak bicara. Maka dari itu makna dari frase belati lidahnya yaitu tajam lidahnya.

2.2 Jenis Metafora dari Segi Ruang Persepsi Manusia (Ekologi)

Hierarki persepsi manusia dimulai dari manusia itu sendiri, karena manusia dengan segala macam tingkah lakunya merupakan lingkungan manusia yang terdekat. Jenjang ruang persepsi yang ada di atas manusia ialah makhluk bernyawa sebab manusia hanyalah satu bagian saja dari makhluk bernyawa. Selanjutnya, kategori di atasnya ialah LIVING, termasuk disini alam tetumbuhan. Begitu hierarki ini berlanjut seterusnya ke jenjang yang ada di atasnya, sampai pada segala sesuatu yang ada di jagad ini, termasuk konsep yang bersifat abstrak yang tidak dapat dihayati oleh indra, walaupun tak dapat disangkal keberadaannya. Karena itu, kategori ruang persepsi yang paling atas ialah BEING untuk mewakili semua konsep abstrak yang tidak dapat dihayati dengan indra manusia.

Dari persepsi manusia tersebut terbagi menjadi sembilan kategori. Dari data yang di dapat dan telah di uraikan di atas. Terdapat beberapa kalimat metaforis yang dapat di kategorikan ke dalam metafora berdasarkan ruang persepsi manusia.

  1. Kategori Manusia (Human)

Manusia dengan segala tingkah lakunya dan daya pikir, serta intelegensinya merupakan ciri yang ada pada tipe ini. Manusia dengan kemampuan berpikirnya dapat mengerjakan sesuatu hingga mampu mengubah wajah dunia ini. Dengan presiksi yang tidak terdapat pada kategori lain menjadikan manusia lebih tinggi dari makhluk hidup yang lain.

– Akan ada hati yang berdarah

Dari kalimat metaforis di atas, ‘hati’ dihayati sebagai manusia yang dapat mengeluarkan darah. Hal tersebut digambarkan bahwa ‘hati’ dapat terluka jika disakiti sehingga diibaratkan seperti berdarah.

Tertikam kata dan cinta dari sekuntum mawar lain

Dari kalimat metaforis di atas, ‘sekuntum mawar’ di hayati sebagai manusia yang melakukan tindakan menikam dengan menggunakan kata dan cinta. Hal tersebut digambarkan bahwa ‘sekuntum mawar’ di asosiasikan sebagai seorang wanita yang telah menyakiti dan menghina. Tindakan menyakiti dan menghina tersebut di gambarkan melalui kalimat yang menyatakan ‘tertikam kata dan cinta.

Metaforis dalam kalimat di atas juga berlaku pada kalimat ”Entah sang mawar akan menikam kulitku mana lagi” dimana ‘sang mawar’ merujuk pada seorang wanita.

– Tatapan itu beradu disana

Dalam kalimat meaforis di atas, ‘tatapan’ di hayati sebagai manusia yang dapat beradu satu sama lain. Hal tersebut menggambarkan bahwa tatapan yang beradu tersebut memiliki makna sepasang mata yang saling menatap tajam.

  1. Kategori Teristerial

– Seperti sentuhan sutera dan belaian butiran salju di tengah gurun.

Sutera merupakan kain yang lembut dan halus, sedangkan butiran salju yaitu butiran es yang dingin. Hal tersebut digambarkan melalui kalimat metaforis di atas, yaitu sentuhan kain sutera yang halus, lembut dan butiran salju yang sejuk dan dingin.

  1. Kategori Kosmos

Biasanya kosmos ini berkaitan dengan benda-benda angkasa. Prediksi kategori ini adalah menggunakan ruang (Wahab, 1991:79)

– Adakah ia menikmati bulan yang muram ini pula.

Pada waktu malam hari, sinar bulan bersinar cerah dan terang. Berdasarkan kalimat metaforis di atas. Bulan di ibaratkan seperti wajah dan dikatakan muram mengikuti wajah penulis tersebut yang juga muram karena bersedih.

BAB III

KESIMPULAN

 

  • Dari hasil analisa data yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, terdapat 13 kalimat metafora yang ditemukan dalam puisi “Setangkai Puisi di Malam Bulan Separuh” dan “Kepada Bulan Separuh.”
  • Metafora-metafora tersebut banyak berbicara tentang kehidupan manusia, yang dikategorikan ke dalam metafora ruang persepsi manusia, yaitu metafora tentang manusia (Human), teristerial (Terrestrial), dan kosmos (Cosmic).
  • Metafora digunakan untuk menjelaskan sesuatu dengan hal lain, dan digunakan untuk mengekspresikan sesuatu hal yang belum memiliki acuan yang tepat dalam bahasanya.
  • Metafora dapat mempengaruhi persepsi seseorang akan suatu hal dan metafora adalah hasil dari pengalaman penutur bahasa itu sendiri.

 

Daftar Pustaka

 

Keraf, Gorys. 1991. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Mappasomba, Andhika. 2010. Mawar dan Penjara: Kisah-Kisah yang Nyaris Terlupakan. Makassar: P3i Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada

Press.

Sevilla, Consuelo G. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Penerjemah Alimuddin Tuwu.

Jakarta: UI Press.

Subroto, Edi. 1996. Semantik Leksikal I (BPK). Surakarta: Universitas Sebelas Maret

Press.

—————-. 1996. Semantik Leksikal II (BPK). Surakarta: Universitas Sebelas Maret

Press.

—————-. 1992. Metode Penelitian Linguistik Struktural (BPK). Surakarta:

Universitas Sebelas Maret Press.

—————-. 1989. Metafora dan Kemetaforaan (Makalah). Surakarta: Universitas

Sebelas Maret Press.

Tarigan, Henry Guntur. 1995. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa.

Wahab, Abdul. 1991. Isu Linguistik. Surabaya: Universitas Airlangga Press.

LAMPIRAN

 

Setangkai Puisi di Malam Bulan Separuh

 

Setelah puisi ini aku bacakan

Akan ada hati yang berdarah

Sebab ia kubacakan dengan napas tersengal

Dan ditulis dari tinta darah dan perahan air mata

Yang dirangkai dari sisa kejujuran yang tergali dari kesadaran

Wahai bulan separuh

Simaklah jiwa yang terluka

Tentang sebuah pengakuan yang mungkin tak sempurna

Tentang anak manusia yang akan melangkah ke medan peperangan

Untuk menaklukkan puncak-puncak rindu menjadi perpisahan

Dua anak manusia yang mungkin saling mencintai

Mengantarnya ke dalam pintu-pinru penutup kisah yang haru

Wahai bulan separuh

Malam ini

Simak dan dengarlah pengakuannya

Aku sangat mencintainya

Merindukannya tanpa ujung batas

Menyanyikan namanya dalam senyapku mengarung malam

Walau kutahu jarak yang tak mungkin kulipat

Dan hadir menatap matanya dalam sekedip mata setiap perpisahanku

Aku sangat mencintainya

Merindukanya di setiap tarikan napasku

Dan bahkan kurasakan tatapannya selalu hadir dalam aliran darahku

Bayangnya seakan tak pernah lepas menjadi selimut dalam tidurku

Bagiku

Menatap ,matanya adalah kesejukan

Seperti sentuhan sutera dan belaian butiran salju di tengah gurun

Wahai bulan separuh

Pernahkah kau melihatnya merindukanku juga

Seperti kerinduan dahsyat yang selalu kupendam

Pernahkah ia mengerti tentang rindu dan kedamaian cinta ini

Wahai bulan separuh

Malam ini

Kurasakan cahayamu dipaksakan menjadi purnama

Lalu meneteskan air mata

Adakah air matanya yang menyesali diam dan

Ketidak mengertiannya

Atau itu adalah tetesan darahku sendiri yang akan mengakhiri kisah

Cinta ini

Malam ini

Dengan segala kesadaran kunyatakan rasa dengan seksama

Aku menyudahi segala kisah

Menutup ruang rasa dengan paksa

Setelah puisi dan kisah ini usai

Izinkanlah aku melangkah pergi

Menangis diam-diam

Mungkin membawa rasa sesal yang tak terbahasakan

Malam ini dengan kesadaran yang tersisa

Kunyatakan rasa dengan seksama

Aku menyudahi segala kisah

Menutup ruang rasa dengan paksa

Isinkanlah aku pergi

Menghilang dengan malam

Pinrang, 3 Agustus 2006

Kepada Bulan Separuh

 

Malam ini

Ia hadir menyapaku

Membawakan segenggam rindunya

Ketika kulitku masih berdarah

Tertikam kata dan cinta dari sekuntum mawar lain

Yang mungkin tak mampu menangkap makna gerakku

Yang telah cukup panjang

Malam ini

Bulan tepat separuh

Aku bertanya pada cahayanya

Adakah ia menikmati bulan yang muram ini pula

Seperti aku yang tak hendak beranjak tatap

Ataukah mungkin tatapan itu beradu di sana

Lalu ia mengabarkan rindunya

Malam ini

Ia hadir menyapaku

Setelah ia pernah tak tampak lagi

Dan aku menganggapnya usai

Ia datang dengan rindu yang lama berjelaga

Berkabar pada pucuk dan tangkai tentang lukanya pula

Malam ini

Penuhlah sudah

Dua luka akan menyatu berubah bangkit

Memahat guratan cinta dari luka

Bulan penuhlah terpaksa sudah

Dan esok ketika purnama

Entah sang mawar akan menikam kulitku mana lagi

Atau mungkin mawar belati itu

Akan menikam bayangannya sendiri yang tersentak

Sebab aku belum mayat walau seribu sayatan luka

Dari belati lidahnya

Kepada bulan separuh malam ini

Aku sampaikan

Untuk perinduku, aku siap menanti dua puluh tujuh purnama

Kepada mawar yang menggenggam belati

Maafkan aku, cukup sudah lukaku

Makassar, 22 Agustus 2005

KLITIK DALAM BAHASA SASAK DIALEK MENO-MENE – PRAYA

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Sasak adalah bahasa Melayu Polinesia Barat yang digunakan di Pulau Lombok, provinsi Nusa Tenggara Barat di sebelah timur Indonesia. (Austin, 2000). Bahasa tersebut hampir berkerabat dengan Samawa (bahasa yang digunakan di sebagian barat Pulau Sumbawa, sebelah timur Lombok) dan Bali, dan sub-grup dengan bahasa-bahasa tersebut sebagai bagian dari Melayu-Polinesia Barat, cabang dari Austronesia (Adelaar, 2002). Memiliki jangkauan yang luas dalam variasi dialek lokal dalam leksikon dan sintaks.

Bahasa Sasak yang berkembang di Lombok sangat beragam, baik dialek (cara pengucapan) maupun kosa katanya. Ini sangat unik dan bisa menunjukkan banyaknya pengaruh dalam perkembangannya. Saat Pemerintah Kabupaten Lombok Timur ingin membuat Kamus Sasak saja, mereka kewalahan dengan beragamnya bahasa sasak yang ada di lombok timur, Walaupun secara umum bisa diklasifikasikan ke dalam: Kuto-Kute (Lombok Bagian Utara), Ngeto-Ngete (Lombok Bagian Tenggara), Meno-Mene (Lombok Bagian Tengah), Ngeno-Ngene (Lombok Bagian Tengah), Mriak-Mriku (Lombok Bagian Selatan) Menu-Meni (Lombok bagian Selatan) (www.sasak.org)

Bahasa Sasak memiliki sistem morfologi seperti bahasa-bahasa daerah lainnya. Makalah ini akan membahas tentang distribusi klitisasi atau juga disebut klitik dalam bahasa Sasak, bahasa yang digunakan kurang lebih oleh 2 juta penduduk di Pulau Lombok. Ada beberapa variasi klitisasi dalam bahasa Sasak yang ditemukan oleh para linguis pada dalam penelitian-penelitian sebelumnya.

Ternyata tidak semua bentuk atau satuan unit bahasa dapat dikategorikan dengan mudah ke dalam satu bentuk tertentu karena beberapa sifatnya. Salah satu bentuk yang sulit diidentifikasikan dan diklasifikasikan tersebut adalah klitik. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh beberapa ahli bahasa, salah satunya Halpern. Halpern (dalam Spencer dan Zwicky, 2001:101) mengemukakan bahwa untuk membedakan kata bebas atau frasa dari afiks sangatlah jelas, tapi banyak bahasa yang memiliki berbagai macam formatif yang sulit diklasifikasikan dan dikategorikan. Formatif tersebut dinamai dengan klitik.

Hal serupa pun dikemukakan pula oleh Zwicky (1977:1), yang dikutip oleh Katamba (1993:245). Menurutnya hampir semua bahasa memiliki morfem yang sulit dianalisis karena tidak menunjukkan batasan yang jelas apakah termasuk ke dalam kategori kata atau afiks. Dalam bahasa Inggris morfem yang sulit untuk dikategorikan tersebut adalah klitik. Fenomena klitik ini membuat para linguis mengalami kesulitan untuk memberikan definisi yang memadai

Bahkan Hudson (2007:2) mengatakan bahwa klitik merupakan tantangan dalam arsitektur gramatika karena perilaku kebahasaannya yang berada diantara batasan kata dan morfem serta diantara sintaksis dan morfologi. Marantz (1988:253), yang dikutip oleh Hudson, pun mengatakan bahwa klitik adalah unit yang berupa kata untuk sintaksis dan berupa morfem untuk morfologi dan fonologi.

Di dalam bahasa Sasak khususnya dialek meno-mene, klitik dapat terikat pada kata kerja, kata depan, kata benda, dan auxiliary dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. (Musgrave, 1998).

 

 

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apakah jenis dan fungsi klitik yang terdapat dalam bahasa Sasak?
  2. Kelas kata apa sajakah yang dapat diletaki oleh klitik?

 

1.3 Kajian Pustaka

Penelitian bahasa Sasak belum banyak dilakukan oleh para ahli bahasa. data menunjukkan bahwa masalah struktur bahasa Sasak sudah tiga kali diteliti oleh tim Fakultas Sastra universitas Udayana Denpasar. Ketiga penelitian masing-masing dilakukan pada tahun 1977/1978, tahun 1978/1979, dan tahun 1979/1980. Penelitian pertama menghasilkan laporan yang berjudul Sekilas tentang Latar Belakang Sosial Budaya dan Struktur Bahasa Sasak di Lombok (1977/1978). Penelitian kedua menghasilkan laporan yang berjudul Morfologi dan Sintaksis Bahasa Sasak (1978/1979). Penelitian ketiga menghasilakan laporan yang berjudul Sistem Morfologi Kata Kerja Bahasa Sasak (1979/1980). Hal-hal yang dikemukakan sehubungan dengan kedua bidang tersebut belumlah dapat dikatakan lengkap. Terlebih pada sistem klitika dalam bahasa Sasak.

Klitika biasanya adalah morfem yang pendek, terdiri dari satu atau dua silabe, tidak dapat diberi aksen atau tekanan apa-apa, melekat pada kata atau frasa yang lain, dan memuat artri yang tidak mudah dideskripsikan secara leksikal. Klitika juga tidak terikat pada kelas kata tertentu, seperti biasanya ada keterikatan itu dengan morfem-morfem terikat. (Verhaar, 1996:119)

Kata “klitika” bila dianalisa berasal dari kata kerja bahasa Yunani “klinein” yang artinya “bersandar.” Menurut Verhaar, klitika dibagi menjadi dua, yaitu proklitik dan enklitik. Proklitika adalah klitika pada awal kata dan enklitika terdapat pada akhir kata. Karena semua klitika didekatkan pada kata sebagai ko-konstituennya (konstituen yang menyertainya). (Verhaar, 1993, 61-62)

Istilah klitik sering dipakai untuk menyebutkan kata-kata singkat yang tidak beraksen dan oleh karena itu selalu harus bersandar pada suatu kata yang beraksen sebagai konstituennya. Suatu klitik paling sedikit dapat berupa kata. Dalam pengertian disini klitik selalu merupakan morfem terikat. Sebagai contoh klitik dalam bahasa Indonesia : akhiran –lah, -kah, dan –pun. Meskipun, imbuhan tersebut mirip dengan afiks, jelas berbeda karena dapat diletakkan pada macam-macam jenis kata (afiksasi selalu merupakan cirri khas dari jenis kata tertentu, seperti kata benda atau kata kerja).

Klitik memiliki beberapa macam variasi dan telah diteliti secara intensif (lihat Napoli,1996 dalam Austin, 2004). Klitik dapat memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Tidak seperti afiksasi, klitisasi bisa terikat pada kelas-kelas kata yang berbeda, termasuk kata depan atau kata keteranganyang biasanya tidak memiliki imbuhan
  • Klitik bukan merupakan unit prosodi yang beridiri sendiri dan secara fonologi berpasangan pada kata yang merupakan “tuan rumahnya” yang dapat berupa kata atau frasa
  • Klitik dapat muncul dalam kluster dengan banyak klitik dalam fungsi yang berbeda
  • Klitik dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe menjadi 3 kelas (Napoli, 1996) :

– Simple clitics (klitik sederhana)

– Special clitics (klitik khusus)

– Bound word clitics (klitik kata terikat)

 

1.4 Landasan Teori

1.4.1  Morfologi

Morfologi adalah salah satu cabang linguistic yang mengkaji bagaimana struktur kata dan bagaimana kata dibentuk dari unit-unit yang lebih kecil. Unit terkecil yang memiliki makna tersebut dinamai dengan morfem. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Verhaar (1996: 97) bahwa morfologi adalah cabang linguistic yang mengidentifikasikan satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal yang dinamai morfem.

Morfem sebagai unit bahasa terkecil yang memiliki makna atau fungsi gramatikal dapat dibedakan menjadi dua jenis:

1.      Morfem bebas (free morphemes)

Morfem bebas adalah morfem yang dapat berdiri sendiri sebagai kata. Artinya morfem bebas tidak membutuhkan bentuk lain yang digabung dengannya dan dapat dipisahkan dari bentuk-bentuk ‘bebas’ lainnya di depannya dan di belakangnya. (Verhaar, 1996:97). Menurut Katamba (1994:41) yang termasuk ke dalam morfem bebas adalah lexical morphemes seperti nomina, verba, adjektiva, preposisi atau adverbial, yang memiliki makna secara penuh, dan function words, yang mengandung informasi gramatikal atau hubungan logis dalam suatu kalimat seperti: artikel, demonstrativa, pronominal, dan konjungsi.

2.      Morfem terikat (bound morphemes)

Berbeda dengan morfem bebas, morfem terikat tidak dapat berdiri sendiri dan harus menempel pada morfem lainnya. Yang termasuk ke dalam morfem terikat salah satunya adalah afiks.

1.4.2 Klitik

Terdapat beberapa linguis yang telah mencoba untuk memeberikan definisi terhadap klitik. Salah satunya adalah Bauer. Bauer (1988: 99) berpendapat bahwa klitik adalah bentuk kontraksi suatu kata dengan keberadaannya yang independent. Bentuk-bentuk seperti ‘ve, ‘d, ‘s, dan ‘ll sebagai bentuk kontraksi dari have, had, has, dan will adalah contoh-contoh klitik dalam bahasa Inggris.

Selain pendapat Bauer, Katamba pun mencoba memberikan definisi terhadap klitik. Beliau mengatakan bahwa :

…there is another class of bound morphemes called clitics, which may be appended to independent words by syntactically motivated rules. Words to which clitics are attached are called hosts (or anchors)… Clitics attached to the beginning of a host is called a proclitic and one attached at the end is called an enclitic.” (Katamba, 1994: 245).

 

Berbeda dengan Bauer yang mengatakan bahwa klitik adalah kata, Katamba mendefinisikan klitik sebagai kelas yang berbeda dari morfem terikat yang ditambahkan pada kata-kata yang independent karena aturan yang dimotivasi secara sintaksis. Klitik tersebut kemudian melekat pada kata-kata yang disebut hosts atau anchors. Jika klitik melekat di awal host disebut proklitik dan jika melekat di akhir host disebut dengan enklitik.

Berdasarkan perilaku fonologisnya, klitik merupakan unsur yang tidak mendapatkan aksen dan bukan berupa bentuk dasar afiks infleksi maupun afiks derivatif. Klitik tidak mendapatkan aksen baik secara inheren ataupun proses kontraksi, sehingga klitik harus diinkorporasi dengan struktur pendamping seperti kata atau frasa yang mendapatkan tekanan, yang disebut dengan host. Jika terdapat unit prosodi dengan host yang berada disamping kirinya, maka disebut enklitik, dan jika host berada di samping kanan unit prosodi, maka disebut dengan proklitik. (Halpern, 2001: 101). Selanjutnya Halpern pun mengatakan bahwa sifat klitik yang selalu harus melekat pada struktur pendamping yang mendapatkan tekanan digunakannya sebagai pembeda klitik dengan kata yang independent.

1.4.3 Simple Clitics

Menurut Katamba, “Simple clitics belongs to the same word-class as some independent word of the language that could substitute for it in that syntactic position.” (Katamba, 2001: 245). Dengan demikian yang dimaksud dengan simple clitics adalah klitik yang memiliki kelas kata dan posisi sintaksis yang sama dengan kata independent yang digantikannya. Dalam bahasa Inggris verba Bantu seperti have, is, dan has dapa tmenjadi simple clitics ketika dikontraksikan dan dilekatkan di kata terakhir pada frasa nomina yang ada dibelakangnya. Contoh:

(6) They’ve eaten = They have eaten

      She’s eaten = She has eaten

      The big bag’s empty = The big bag is empty.

Simple clitics ‘ve, ‘s, dan ‘s memiliki posisi sintaksis yang sama dan peran yang sama seperti kata penih yang diacunya yaitu have, has, dan is.

1.4.4 Special Clitics

Berbeda dengan simple clitics, “…special clitics are not contracted form of self standing words. Rather, they are forms that can only occus as bound morphemes appended to hosts on certain syntactic contexts.” (Katamba, 2001: 246).

 

1.5 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunkan pendekatan kualitatif. Kekualitatifan penelitian ini berkaitan dengan data penelitian yang tidak berupa angka-angka, tetapi berupa kualitas bentuk verbal yang berwujud tuturan (Muhadjir, 1996:29).

Kemudian metode yang digunakan yaitu studi kepustakaan dan deskriptif. Dengan metode studi kepustakaan (Libarary Research), yaitu metode yang mengutamakan pengumpulan data-data atau informasi dengan cara mengumpulkan buku-buku. Studi kepustakaan ini merupakan metode yang menggunakan sumber-sumber pustaka, berupa buku, artikel atau yang lainnya. Dalam metode ini peneliti tidak perlu menggunakan observasi atau eksperimen.

Metode deskriptif, yaitu suatu metode yang dipakai untuk memecahkan dengan cara mengumpulkan, menyususn, mengklasifikasikan, mengkaji dan menginterpretasi data.

Data yang disajikan dalam makalah ini disajikan dengan metode penyajian informal. Penerapan metode penelitian informal dalam makalah ini dilakukan dengan memaparkan analisis tentang variasi kode bahasa, alih kode, dan campur kode

 

PEMBAHASAN

 

2.1 Jenis dan Fungsi Klitik

Di dalam bahasa Sasak, enklitik dapat terikat pada kata kerja, kata depan, kata benda dan auxiliary dan memiliki fungsi yang berbeda-beda. (Musgrave, 1998).

  • Enklitik bahasa Sasak yang terikat pada kata kerja, dapat berfungsi sebagai subyek dan sebagai obyek

1] lalo-k        “I went”    “Saya pergi”

go-1SG

 

2] empuk- t   “hit us”      memukul kami”

hit- 1PL

 

  • Enklitik dalam bahasa Sasak yang terikat pada auxiliary yang menunjukkan sebuah aspek dan berfungsi sebagai subyek.

1] mu-n         “Past – he”

past-3SG

 

2] mu-k         “Past-I”

past-1SG

 

  • Enklitik yang terikat pada kata benda. Enklitik –k menjadi –ek jika kata yang menjadi tuan rumahnya berakhiran konsonan q.

1] isiq-ek      “by me”     “oleh saya”

by-1SG

 

2] lai-k          “from me” “dari saya”

from-1SG

 

  • Enklitik yang terikat pada konjungsi

1] terus-k      “I then”  Saya lalu”

then-1SG

 

  • Enklitik yang terikat pada kata benda, berfungsi sebagai genitif

1] bale-n Ahmat       “Ahmat’s house”   “Rumah Ahmat”

house-3SG

 

2] buku-m                 “your book”    “Bukumu”

Book-2SG

 

Menurut klasifikasi klitik yang dikemukakan oleh Napoli, bahasa Sasak memiliki klitik sederhana (simple clitics) dan klitik khusus (special clitics), keduanya muncul diluar wilayah tekanan, dan memiliki penghubung nasal (linker).

Klitik khusus terikat pada kata benda untuk menandakan kepemilikan. Bentuk-bentuknya dalam berbagai dialek Sasak digambarkan dalam table dibawah ini:

 

 

Menó

1sg k
1pl t
2masculine m
2feminine m
3 n

 

Perbandingan dengan bentuk kata ganti bebas:

Menó

1sg aku
1pl ite
2 masculine kamu
2feminine kamu
3 ie

 

Dalam contoh:

ime      ‘hand’        ‘tangan’        ime-ng-k       ‘my hand’           ‘tangan saya’

inaq     ‘mother’    ‘ibu’              inaq-m          ‘your mother’     ‘ibu kamu’

 

Klitik khusus (special clitics) terikat pada kelas kata lainnya dan masuk ke dalam kategori nominal dan fungsi gramatikal.

 

 

 

 

Bahasa Sasak dialek Menó-Mené digunakan di seluruh Lombok bagian tengah, seperti Praya dan Desa Puyung. Srtuktur yang dimiliki adalah ACTOR V (UNDERGOER) (THEME). Kata kerja transitif juga tak berawalan dan bentuk nasal, namun penggunaannya berbeda. Kata kerja nasal berawalan digunakan dengan undergoer yang tidak dituju (non-referensial) :

 

Kanak=nó          bace              buku=ni

child=that           read              book=this

‘That child reads this book’

‘Anak itu membaca buku ini’

 

Kanak=nó          m-bace

child=that           N-read

‘That child is reading’

‘Anak itu membaca’

 

Ada beberapa klitik khusus (special clitics) untuk menandakan kategori nominal dan fungsi: enklitik yang dikemukakan Wackernagel yang menandakan ACTOR (pelaku) terikat pada konstituen non-NP pertama pada klausa (konjungsi, kata keterangan, kata depan, auxiliary)

  • Konjungsi

Guru          iaq=n     tulak          malik         sengaqm       mpuk=k

teacher       fut=3      return         again          because=2    hit=1

‘The teacher will come back again because you hit me’

‘Guru aka dating kembali karena kamu memukulku’

  • Adverbia

Terus=k           iaq          bedait                 kance            guru=nó

then=1             fut          meet                   with              teacher=that

‘Then I will meet that teacher’

‘Kemudian saya akan bertemu guru itu’

Telu           jam=k           antih=m          wah

three          hour=1          wait=2             already

‘I already waited you for three hours’

‘Saya sudah menunggumu selama tiga jam’

 

  • Auxiliary

Inaq           iaq=n        lalo            jok             peken         lemaq

mother       fut=3         go              to               market       tomorrow

‘Mother will go to market tomorrow’

‘Ibu akan pergi ke pasar besok’

 

  • Preposition

Mbe           eleq=n          tulak

where        from=3         return

‘where is he coming back from?’

‘kemana dia kembali?’

 

  • Kata kerja intransitif

Jika kata kerjanya intransitif dan tidak ada tuan rumah (host) lainnya yang potensial dalam klausa maka akan mengambil enklitik penanda pelaku:

Tulak=n          eleq               peken

return=3          from             market

‘He comes back from the market’

‘Dia kembali dari pasar’

 

Jika ada beberapa tuan rumah yang memungkinkan maka enklitik akan mengikuti tuan rumah pertama:

Kanak=no       ndeq=n         iaq          mancing

child=that        not=3            fut          N.fish

‘That child will not fishing’

‘Anak itu tidak akan memancing’

 

Klitik khusus dalam dialek Menó-Mené juga terikat sebagai enklitik untuk kata kerja transitif dan ditransitif untuk menandakan UNDERGOER khusus.

Iaq=m             gitaq=n           leq             peken

fut=2               see=3               loc             market

‘Will you see him at the market?’

‘Akankah kamu melihatnya di pasar?’

 

Iaq=m          beng=k               kepeng

fut=2            give-link=1sg     money

‘Will you give me some money?’

‘Akankah kamu memberi saya uang?’

 

Jika kata kerjanya merupakan kata kerja transitif dan ditransitif dan tidak ada tuan rumah (host) yang potensial untuk klitik  pelaku (ACTOR) maka auxiliary khusus muq akan muncul untuk mendukung klitik ACTOR:

Muq=k         gitaq=n        leq                   peken

AUX=1sg    see=3            loc                   market

‘I saw him at the market’

‘Saya melihatnya di pasar’

 

Muq=n         bace              buku=ni           isiq                kanak=no

AUX=3        read              book=this        by                 child=that

‘That child reads this book’

‘Anak itu membaca buku ini’

 

KESIMPULAN

 

Berdasarkan paparan yang telah dikemukakan diatas, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

–          Klitik adalah bentuk terikat yang secara fonologis tidak mendapatkan aksen dan sifatnya selalu melekat pada kata atau frasa lain yang disebut dengan host. Klitik terbagi menjadi dua jenis berdasarkan posisi letaknya terhadap host; (1) proklitik, jika klitik melekat di samoing kiri host; (2) enklitik, jika klitik melekat di samping kanan host-nya.

–          Klitik dalam bahasa Sasak termasuk ke dalam kategori enklitik yang dapat terikat dalam beberapa kelas kata dan memiliki fungsi yang berbeda-beda.

–          Yang dapat berperan sebagai host untuk klitik dalam bahasa Sasak adalah kata kerja kerja, auxiliary, konjungsi, genitive, kata benda, adverbia, preposisi,

–          Klitik dapat pula dibedakan menjadi dua jenis yaitu simple clitics, yaitu klitik yang memiliki kelas kata dan posisi sintaksis yang sama dengan independent yang digantikannya, dan special clitics, yaitu klitik yang bukan bentuk kontraksi dari kata yang dapat berdiri sendiri.

–          Klitik khusus (special clitics) yang  menandakan kategori nominal seseorang dan jumlah. Dalam Menó-Mené dialek, klitikUNDERGOER terikat pada kata kerja sedangkan klitik ACTOR terikat pada tuan rumah pertama yang tersedia, dalam hal lainnya kata bantu (auxiliary) khusus yang ada untuk mendukung klitik jika kata kerjanya transitif dan telah ada pada klitik UNDERGOER.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Adelaar, K. Alexander. 2002. Classification of Sasak. Papers in Languages of Bali, Lombok and Sumbawa.

Austin, Peter K. 2000. Working Papers in Sasak, Volume 2. Melbourne: University of Melbourne.

Bauer, L. 1988. Introducing Linguistic Morphology. Edinburg: Edinburg University Press.

Hudson, R. 2007. Clitics in Word Grammar.

http://mail2.phon.ucl.ac.uk/publications/WPL/01papers/hudson.pdf

Katamba, F. 1994. Modern Linguistics: Morphology. London: The Macmillan Press Ltd.

Muhadjir, Noeng. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi ketiga. Yogyakarta: Rakesarasin.

Musgrave, Simon. 1998. ‘A Note an Animacy Hierarchy Effects in Sasak and Sumbawan’ In P.K Austin (ed) Sasak. Working Papers in Sasak. Vol 2, ps. 49-83.

Napoli, Donna Jo. 1996. Linguistics. Oxford: Oxford University Press.

Spencer, A. dan Zwicky, A.M. (editors). 2001. The Handbook of Morphology. Oxford: Blackwell Publisher.

Verhaar, J. W. M. 1993. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

———————–. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Sumber Lain

www.sasak.org. diakses pada tanggal 15 Juni 2011 pukul 10.00 WIB.

 

 

 

 

 

 

 

Campur Kode dalam Rubrik “Life & Entertainment” Majalah Kawanku

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar belakang

Bahasa sebagai wahana komunikasi digunakan setiap saat. Bahasa merupakan alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Keraf, 1982: 19). Manusia menggunakan bahasa dalam komunikasi dengan sesamanya pada seluruh bagian kehidupan.

Sebagai alat komunikasi dengan sesamanya bahasa terdiri atas dua bagian yaitu bentuk atau arus ujaran dan makna atau isi. Bentuk bahasa adalah bagian dari bahasa yang diserap panca indera entah dengan mendengar atau membaca. Sedangkan makna adalah isi yang terkandung didalam bentuk-bentuk tadi, yang dapat menimbulkan reaksi tertentu (Keraf, 1982: 6).

Hubungan antara bahasa dengan sistem sosial dan sistem komunikasi sangat erat. Sebagai sistem sosial pemakaian bahasa dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti usia, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan profesi. Sedangkan sebagai sistem komunikasi, pemakaian bahasa dipengaruhi oleh faktor situasional yang meliputi siapa yang berbicara dengan siapa, tentang apa (topik) dalam situasi bagaimana, dengan tujuan apa (tulisan, lisan) dan ragam bagaimana (Nababan, 1986: 7).

Berdasarkan sarana tuturnya bahasa dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan. Pada bahasa lisan pembicara dan pendengar saling berhadapan secara langsung sehingga mimic, gerak, dan intonasi pembicara dapat memperjelas maksud yang akan disampaikan. Sedangkan untuk bahasa tulisan walaupun penulis dan pembaca tidak berhadapan langsung tulisan dapat dimengerti oleh pembaca berkat penggunaan tanda baca, penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

Lindgren sebagaimana dikutip Poejosoedarmo (1073: 30) mengatakan bahwa fungsi bahasa yang paling mendasar adalah alat pergaulan dan perhubungan manusia. Baik tidaknya jalinan komunikasi antara manusia ditentukan oleh baik tidaknya bahasa mereka.

Bahasa sebagai objek dalam sosiolinguistik tidak dilihat atau didekati sebagai bahasa, sebagaimana linguistik umum tetapi sebagai sarana komunikasi dalam masyarakat. Dalam masyarakat manusia bahasa merupajan faktor yang penting untuk menentukan lancar tidaknya suatu komunikasi. Oleh karena itu ketepatan berbahasasangat diperlukan demi kelancaran komunikasi. Ketepatan berbahasa tidak hanya berupa ketepatan memilih kata dan merangkai kalimat tetapi juga ketepatan melihat situasi. Artinya seorang pemakai bahasa selalu harus tahu bagaimana menggunakan kalimat yang baik atau tepat, juga harus melihat dalam situasi apa dia berbicara, kapan, dimana, dengan siapa, untuk tujuan apa dan sebagainya.

1.2  Permasalahan

Berdasarkan uraian diatas, ada beberapa permasalahan yang dikaji oleh penulis diantaranya:

  1. Wujud dan tipe campur kode apa yang terjadi?
  2. Faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya campur kode pada rubric “Life & Entertainment” dalam majalah kawanku?

1.3  Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

  1. Mengidentifikasi wujud dan tipe campur kode yang terjadi
  2. Mengidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode

1.4  Metode dan Teknik Penelitian

1.4.1        Tahap Pengumpulan Data

Pada tahap pengumpulan data, metode yang digunakan adalah metode simak dan teknik catat. Metode simak adalah metode yang bekerja dengan cara mengamati sumber data untuk mendapatkan data yang sesuai dengan ciri-ciri yang telah ditetapkan (Sudaryanto, 1992:11). Penggunaan metode simak karena menyimak pemakaian campur kode yang terdapat dalam majalah Kawanku. Teknik catat merupakan pencatatan hasil penyimakan data yang dilanjutkan dengan klasifikasi atau pengelompokkan.

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu rubric “Life & Enetrtainment” yang terdapat dalam majalah kawanku no. 82 edisi 22 September-06 Oktober 2010.

1.4.2        Teknik Analisa Data

Setelah data terkumpul selanjutnya adalah tahap analisis data. Pada tahap ini digunakan metode deskriptif fungsional berdasarkan fungsinya sebagai alat komunikasi. Analisis fungsional dilakukan dengan menggunakan metode kontekstual (pendekatan yang memperhatika konteks situasi). Selain itu dapat dianalisis berdasarkan wujud dan latar belakang campur kode setelah hasil analisis didapatkan, selanjutnya dilakukan pembahasan untuk bahan penarikan kesimpulan.

1.4.3        Tahap Penyajian Data

Hasil penelitian ini disajikan secara informal. Penyajian secara informal merupakan penyajian berupa perumusan dengan menggunakan kata-kata biasa (Sudaryanto, 1993:144-157). Data-data yang telah terkumpul kemudian diidentifikasi dna diklasifikasikan berdasarkan campur kode serta penyebab terjadinya fungsi sosial. Kemudian melakukan penafsiran hasil analisis yang berisi pembahasan penyebab serta latar belakang terjadinya campur kode yang ditemukan pada data.

 

1.5  Landasan Teori

1.5.1        Bahasa pada Konteks Sosial

Sistem komunikasi yang terjadi dalam masyarakat cenderung berkembang, hal ini menimbulkan berbagai variasi yang digunakan seseorang. Variasi bahasa ialah bentuk atau variasi dalam bahasa yang pada tiap-tiap hal memiliki pola-pola yang menyerupai pola umum bahasa induknya (Poedjosoedarmo dalam Suwito, 1985: 23).

Wujud variasi bahasa itu berupa idiolek, dialek, ragam bahasa, register dan tingkat tutur. Variasi bahasa mungkin terdapat dalam kelompok pemakai di dalam domain-domain sosial masyarakat yang kecil, bahkan terdapat di dalam pemakaian bahasa perorangan (Suwito, 1985: 23). Faktor yang mempengaruhi variasi bahasa adalah tata susunan masyarakat setempat sehingga bahasa digunakan sebagai sarana aktivitas antaranggota masyarakat. Faktor luar yang memepengaruhi adalah faktor penutur, sosial, dan situasional (Suwito, 1985: 5-22). Faktor penutur mempengaruhi bahasa yang digunakan sebab setiap penutur memiliki sifat-sifat khusus yang tidak dimiliki oleh penutur lain. Sifat-sifat khusus ini meliputi sifat yang bersifat fisis-fisiologis dan yang bersifat psikis-mentalis. Faktor situasional turut mempengaruhi variasi bahasa.

Dialek dapat dijadikan alat untuk mengenali asal-usul seorang penutur. Tingkat tutur melambangi hubungan antara si penutur dengan mitra bicara merupakan cakapan akrab atau berjarak dan saling menghormati atau tidak. Ragam melambangi warna situasi percakapan. Register melambangkan maksud yang ingin disampaikan oleh penutur kepada orang yang diajak bicara.

1.5.2        Kedwibahasaan

Istilah bilingualisme dalam bahasa Indonesia disebut juga dengan kedwibahasaan, yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau kode bahasa. Untuk dapat menggunakan dua bahasa, tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertama (B1), dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (B2). Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa tersebut disebut dwibahasawan.

Kedwibahasaan menurut Nababan (1984:27) adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa dalam interaksi dengan orang lain. Suwito (1985:40) berpendapat bahwa istilah kedwibahasaan pengertiannya bersifat nisbi (relatif). Kenisbian tersebut karena batas seseorang untuk dapat disebut dwibahasawan itu bersifat arbitrer (tidak ada batas pemisahnya) dan hampir tidak dapat ditentukan secara pasti. Hal ini disebabkan karena pandangan orang terhadap kedwibahasaan berbeda-beda.

Sangatlah sulit menemukan orang yang bilingualitas sejati, dalam artian kemampuannya dalam kedua bahasa tersebut sama benar dan mampu menggunakannya secara seimbang.

Bahasa Inggris merupakan bahasa asing pertama yang wajib diajarkan kepada siswa-siswa sekolah. Hal wajar jika masyarakat Indonesia mengunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai bahasa pertama, kemudian mereka akan mengenal bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua di sekolah atau secara informal dalam masyarakat. Dan pada jenjang yang lebih tinggi mereka akan mengenal dan mempelajari bahasa asing. Kemultibahasaan inilah yang menyebabkan timbulnya pencampuran bahasa dalam situasi pemakaian bahasa.

1.5.3    Kode

Pada suatu aktivitas bicara yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari seseorang melakukan pembicaraan sebenarnya mengirimkan kode-kode pada lawan bicaranya (Pateda, 1990:83). Pengkodean itu melalui proses yang terjadi kepada pembicara maupun mitra bicara. Kode-kode yang dihasilkan oleh tuturan tersebut harus dimengerti oleh kedua belah pihak. Di dalam proses pengkodean jika mitra bicara atau pendengar memahami apa yang dikodekan oleh lawan bicara, maka ia pasti akan mengambil keputusan dan bertindak sesuai  dengan apa yang disarankan oleh penutur. Tindakan itu misalnya dapat berupa pemutusan pembicaraan atau pengulangan pernyataan (Pateda, 1991: 84).

Kode menurut Suwito (1985:67-68) adalah untuk menyebutkan salah satu varian didalam hierarki kebahasaan, misalnya varian regional, kelas sosial, raga, gaya, kegunaan, dan sebagainya. Dari sudut lain, varian sering disebut sebagai dialek geografis yang dapat dibedakan menjadi dialek regional dan dialek lokal.

Ragam dan gaya dirangkum dalam laras bahasa, sedangkan varian kegunaannya disebut register. Pembedaan ragam sebagai varian bahasa didasarkan pada nada situasi bahasa yang mewadahinya. Nada situasi tutur umumnya dibedakan menjadi situasi formal, informal.

Ragam formal dipergunakan untuk situasi yang bersifat resmi tahu relasi penutur dan mitra tutur berjarak. Dalam ragam formal, bentuk wacana, kalimat dan kata-katanya dituntut lengkap dan menaati kaidah kebahasaan. Oleh karena itu ragam formal disebut juga ragam lengkap, ragam resmi dan ragam standar. Sebaliknya ragam informal dipergunakan dalam situasi santai. Wacana kalimat dan kata-kata yang dipergunakan dalam raga mini banyak mengalami penanggalan dan penyingkatan. Jadi bahasa yang dipergunakan tidak mengikuti kaidah kebahasaan.

Dalam percakapan sehari-hari sring dijumpai penggunaan bahasa yang berbeda-beda antar kelompok atau dalam urusan tertentu yang berbeda. Varian bahasa seperti itu disebut register. Jadi register adalah varian bahasa yang perbedaannya ditentukan oleh peristiwa bicara (speech act). Register tidak ditentukan oleh unsur-unsur bahasa yang perbedaannya ditentukan oleh unsur-unsur bahasa seperti fonem, morfem, kalimat, leksikon maupun tipe struktur wacana secara keseluruhan. Ragam tingkat tutur dan register merupakan kode tutur.

Kode tutur merupakan varian bahasa yang secara rill dipakai oleh masyarakat bahasa yang bersangkutan (Poedjosoedarmo, 1987:5).  Poedjosoedarmo (1975:4) memberikan pengertian tentang campur kode sebagai suatu sistem tutur yang penerapan unsur bahasanya mempunyai ciri-ciri khas sesuai dengan latar belakang si penutur, relasi penutur dan lawan bicara dengan situasi tutur yang ada. Jadi dalam kode itu terdapat suatu pembatasan umum yang membatasi pemakaian unsur-unsur bahasa tersebut. Dengan demikian pemakaian unsur-unsur tersebut memiliki keistimewaan-keistimewaan. Keistimewaan itu antara lain terdapat bentuk, distribusi dan frekuensi unsur-unsur kebahasaan tersebut.

1.5.4    Campur Kode

Elisabeth Marasigan (melalui Suyanto, 1993:34) dalam bukunya Code Switching and Code Mixing in Multilingual Societies mengungkap kasus campur kode yang terjadi di Filipina, antara bahasa Filipina dengan bahasa Inggris. Istilah yang digunakan olehnya untuk menyebut campur kode adalah mix-mix. Menurutnya campur kode merupakan hasil kombinasi secara sistematis antara bahasa Inggris dan bahasa Filipina yang terkontrol secara baik yang berdiri sebagai variasi bahasa secara tersendiri dan dipergunakan oleh orang-orang yang terdidik, khususnya di Metro Manila.

Menurut Nababan (1986:32), ciri yang menonjol dalam peristiwa campur kode adalah kesantaian atau situasi informal. Jadi, campur kode umumnya terjadi saat berbicara santa, sedangkan pada situasiformal hal ini jarang sekali terjadi. Apabila dalam situasi formal terjadi campur kode, hal ini disebabkan tidak adanya istilah yang merajuk pada konsep yang dimaksud.

Kemampuan komunikatif penutur dalam suatu masyarakat bahasa akan sangat mempengaruhi hasil yang diharapkan penutur tersebut. Yang dimaksud kemampuan komunikatif menurut Nababan (1984:10) adalah kemampuan untuk memilih dan menggunakan satuan-satuan bahasa itu disertai dengan aturan-aturan penggunaan bahasa dalam suatu masyarakat bahasa. Menurut Suwito (1985:401) mengatakan bahwa ccampur kode adalah penyusupan unsur-unsur kalimat dari suatu bahasa kedalam bahasa yang lain, berwujud kata, frasa, pengulangan kata, ungkapan atau idiom.

Pengkajian tentang bentuk-bentuk serta perubahan bahasa khususnya variasi bahasa dalam penelitian ini akan dibahas tentang campur kode. Menurut Thelander (melalui Chaer, 1995:152) apabila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode. Sementara apabila suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun frasa-frasa yang digunakan terdiri dari klausa dan frasa campuran, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode.

1.5.5    Tipe Campur Kode

Campur kode diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu, camour kode bersifat kedalam (intern) dan campur kode bersifat keluar (ekstern) (Suwito, 1985:76). Dikatakan campur kode kedalam (intern) apabila antara bahasa sumber dengan bahasa sasaran masih mempunyai hubungan kekerabatan secara geografis maupun secara geanologis, bahasa yang satu dengan bahasa yang lain merupakan bagian-bagian sehingga hubungan antarbahasa ini bersifat vertikal.

Kemudian dikatakan bahwa campur kode ekstern apabila antara bahasa sumber dengan bahasa sasaran tidak mempunyai hubungan kekerabatan, secara geografis, geanologis ataupun secara politis. Campur kode ekstern ini terjadi diantaranya karena kemampuan intelektualitas yang tinggi, memancarkan nilai moderat. Dengan demikian hubungan campur kode tipe ini adalah keasingan antar bahasa yang terlibat.

1.5.6    Bentuk-Bentuk Campur Kode

Menurut Suwito (1985:78) selain tipe-tipe campur kode juga memiliki wujud yang ditentukan oleh wujud bahasa tercampur yaitu seberapa besar unsur bahasa tercampur menyusup kedalam bahasa utama. Berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat didalamnya, campur kode dapat dibedakan menjadi beberapa macam antara lain ialah penyisipan yang berupa kata, penyisipan unsur berupa frasa, penyisipan unsur yang berupa bentuk baster, penyusupan unsur perulangan kata dan penyusupan unsur berupa idiom atau ungkapan.

1.5.7        Latar Belakang Terjadinya Campur Kode

Faktor-faktor bahasa yang mempengaruhi penggunaan bahasa adalah faktor-faktor yang diungkapkan Dell Hymes (melalui Nababan, 1993:7) dengan akronim SPEAKING yang bila dijabarkan berarti:

  1. Setting dan Scene, dalam bagian ini unsur-unsur yang dimaksud yaitu keadaan, suasana, serta situasi penggunaan bahasa tersebut pada waktu dilakukan, hal in akan mempengaruhi tuturan seseorang dalam suatu komunikasi.
  2. Participant, yaitu siapa-siapa yang terlibat dalam peristiwa berbahasa, hal ini berkaitan antara penutur dan lawan tutur. Keputusan tindak bahasa penutur pada bagian ini dipengaruhi oleh kedudukan dan permasalahan yang melatari suatu komunikasi
  3. End (purpose and goal), dalam unsur ini yang  dibicarakan adalah akibat atau hasil dan tujuan apa yang dikehendaki oleh pembicara, hal ini akan berpengaruh pada bentuk bahasa serta tuturan pembicara.
  4. Act Sequence, dalam unsur ini yang dibicarakan adalah bentuk, isi pesan dan topil yang akan dibicarakan dalam komunikasi. Hal ini juga berpengaruh pada bentuk bahasa serta tuturan pembicara.
  5. Key/ tone of spirit of art, unsur nada suara yang bagaimana serta ragam bahasa yang digunakan dalam komunikasi akan berpengaruh pada bentuk tuturan.
  6. Instrumentalis, yaitu tuturan akan dipakai dalam komunikasi. Jalur ini bisa berupa tuturan melalui media cetak, media dengar, dan sebagainya.
  7. Norm of intersection and interpretation, unsur norma atau tuturan yang harus dimengerti dan ditaati dalam suatu komunikasi. Norma yang dimaksud dapat berupa norma bahasa yang mengatur bagaimana agar bahasa tersebut mudah dipahami.
  8. Genres, yaitu unsur berupa jenis penyampaian pesan. Jenis penyampaian pesan ini berwujud puisi, dialog, cerita dan lain-lain. Hal ini juga dipengaruhi oleh bentuk bahasa yang digunakan.

 

Menurut Weinrich (1963) menjelaskan mengapa seseorang harus meminjam kata-kata dari bahasa lain. Hal ini pada dasarnya memiliki dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal.

  1. Faktor Internal

Faktor ini menunjukkan bahwa seseorang meminjam kata dari bahsa lain karena dorongan yang ada dalam dirinya. Adapun faktor tersebut meliputi tiga macam yaitu:

  1. Low Frequency of Word

Seseorang melakukan campur kode karena kata-kata yang sering digunakan biasanya mudah diingat dan lebih stabil maknanya. Dengan demikian peminjaman kata dari bahasa lain bertujuan untuk menghindari pemakaian kata yang jarang didengar orang. Atau dengan kata lain menggunakan kata yang biasanya dipakai sehingga lawan tutur mudah memahami makna yang ingin disampaikan penutur.

  1. Pernicious Homonymy

Kata-kata yang dipinjam dari bahasa lain juga digunakan untuk memecahkan masalah homonim yang ada dalam bahasa penutur. Maksudnya adakalanya jika penutur menggunakan kata dalam bahasanya sendiri, maka kata tersebut dapat menimbulkan masalah homonim yaitu makna ambigu. Sehingga untuk menghindari keambiguan makna penutur menggunakan kata dari bahasa lain.

  1. Need for Synonym

Penutur sengaja menggunakan kata dari bahasa lain yang bersinonim dengan tujuan untuk menyelamatkan muka lawan tutur.

  1. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah suatu dorongan yang berasal dari luar penutur, yang menyebabkan penutur meminjam kata dari bahasa lain. Terdapat empat faktor eksternal, yaitu:

  1. Perkembangan atau perkenalan dengan budaya baru.

Faktor ini terjadi karena aadanya perkembangan budaya baru misalnya perkembangan teknologi di Indonesia, mau tidak mau orang Indonesia banyak menggunakan bahasa Inggris karena banyak sekali alat-alat teknologi yang berasal dari negara asing.

  1. In Sufficiently Differentiated

Menunjukkan makna tertentu yang memiliki maksud tertentu misalnya karena kebiasaan

  1. Social Value

Penutur mengambil kata dari bahasa lain dengan mempertimbangkan faktor sosial, sehingga diharapkan dengan penggunaan kata-kata tersebut dapat menunjukkan status sosial dari penutur.

  1. Oversight

Maksudnya ada keterbatasan kata-kata yang dimiliki oleh bahasa penutur dalam kaitannya dengan topik yang disampaikan sehingga penutur harus mengambil kata dari bahasa lain. Contohnya terbatasnya kata dalam bidang kefokteran dalam bahasa Indonesia maka banyak istilah kedokteran yang diambil dari bahasa Latin yang mempunyai istilah yang tepat dalam bidang kedokteran.

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1       Wujud dan Tipe Campur Kode

2.1.1    Campur Kode Berupa Kata

Kata adalah satuan gramatikal bebas yang terkecil. Maksudnya tidak dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil yang masing-masing mengandung makna (Kentjono, 1982:44). Berdasarkan bentuknya kata dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu: kata dasar, kata turunan, kata ulang, dan kata majemuk. Selain itu menurut Ramlan (1981:22) kata dapat terbagi menjadi tujuh kategori yaitu kata benda (nomina), kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), kata keterangan (adverbia), kata bilangan (numeralia) dan kata tugas.

Terdapat beberapa penyusupan berupa kata dalam rubrik yang di tulis oleh penulis, yang terdiri dari bahasa asing semua yaitu bahasa Inggris. Campur kode berupa kata yang ditemukan berupa pada data berupa kata dasar, kata berimbuhan dan kata ulang.

a. Berupa Kata Dasar

Kata dasar KBII (1997) artinya adalah elemen terkecil dari sebuah bahasa yang diucapkan atau dituliskan dan merupakan realisasi kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa.

Berikut beberapa unsur berupa kata dasar dengan tipe ekstern yang terdapat pada data: premiere, cool,  preview, font, season, dress, leopard, jean, behavior, chubby, curvy, edgy, club, fun, mood, juice, dan cover.

Dari data campur kode yang berupa kata dasar tersebut, kata-kata tersebut berupa kata benda dan kata sifat atau adjektiva.

Bentuk campur kode berupa kata dasar dalam bahasa asinguang menyusup ke dalam bahasa sasaran dalam majalah masih ada yang sesuai dengan makna asalnya dan ada yang tidak sesuai dengan makna asalnya.

Berikut contoh kata yang penggunaannya oleh penulis masih sesuai dengan makna aslinya.

(1)   “…Aku cuma sekali datang ke LA, waktu premiere film Harry Potter and The Order of The Phoenix.”

(2)   “…kita bisa memilih jenis font dengan berbagai bentuk untuk melihat preview bentuk font, biasanya kita akan disuguhi teks berbunyi…”

Kata premiere dalam kalimat (1) berarti ‘pertunjukan perdana’, penggunaan kata premiere sebenarnya dapat digantu dengan makna aslinya. Namun ternyata penggunaan kata premiere dianggap dapat lebih meyakinkan pembaca.

Kata lain seperti season, dress, leopard, jean, behavior, chubby, curvy, edgy, club, fun, mood, juice, dan cover penggunaannnya dalam kalimat masih sesuai dengan makna aslinya dalam kamus.

Selain kata yang tersebut terdapat kata cool yang maknanya tidak sesuai dengan asliny. Berikut ini penggunaannya:

(3)”…buku ini memakan biaya $2000 (kurang lebih Rp 18 juta) untuk pembuatannya, cool!”

Pada kalimat (3) terdapat kata cool pada akhir kalimat. Sebenarnya kata cool memiliki makna ‘sejuk’, ‘tenang’. Tapi penggunaan kata cool dalam kalimat tersebut lebih mendekati makna ‘keren’ untuk menyatakan bahwa pembuatan buku yang memakan biaya kurang lebih Rp 18 juta tersebut merupakan hal yang luar biasa untuk sekedar pembuatan buku saja.

b. Berupa Kata Berimbuhan

Afiks atau imbuhan adalah semacam morfem non dasar yang secara struktural didekatkan pada kata dasar atau bentuk dasar untuk membentuk kata-kata baru. Bentuk kata dasar merupakan bentuk yang dijadikan landasan untuk tahap pembentukan berikutnya. Sedangkan menurut Ramlan (1983:47) dalam kata berimbuhan penyusupan unsur yang terjadi pertimbangannya sama dengan kata dasar, yang membedakan yaitu bahwa kata dasar merupakan morfem bebas sedangkan kata berimbuhan terdiri dari morfem bebas dan terikat, sehingga sudah berwujud kata kompleks.

Bentuk penyusupan berupa baster yang terdapat pada data adalah sebagai berikut: didelivery, ngewrite, ngeblend, ngedance, ngemix, ngedate, ngepop, merequest. Dari keseluruhan bentuk baster tersebut proses afiksasi atau pembubuhan afiks dapat dilihat dari posisi melekatnya pada bentuk dasar sehingga bentuk baster dapat dibedakan menjadi prefiks, yaitu afiks yang di imbuhkan dimuka bentuk dasar.

Bentuk baster yang termasuk dalam kategori prefiks adalah sebagai berikut, di-delivery, nge-write, nge-blend, nge-dance,, nge-mix, nge-date, nge-pop, dah me-request yang semuanya merupakan bentuk prefiks dalam bahasa Indonesia yang dibubuhkan kedalam bentuk dasar dalam bahasa asing atau bahasa Inggris.

Selain bentuk prefiks, proses afiksasi yang terjadi dapat pula berupa bentuk sufiks. Yang dimaksud dengan sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar (Chaer:1995). Pada keseluruhan data sufiks yang terjadi adalah bentuk sufiks –nya. Hal ini terjadi pada bentuk dasar dalam bahasa asing. Penggunaan bentuk baster yang masuk kedalam kategori sufiks adalah: feel-nya, storyboard-nya, mellow-nya.

c. Berupa Kata Ulang

Ramlan (1983:60) menyatakan bahwa kata ulang merupakan kata yang telah mengalami proses morfologis berupa pengulangan bentuk dasarnya, baik pengulangan seluruh, sebagian ataupun pengulangan dengan perubahan bunyi. Bentuk perulangan kata sama halnya dengan reduplikasi.

Reduplikasi menurut Chaer (1995) adalah proses morfemis yang mengulang bentuk-bentuk dasar, baik secara keseluruhan, secara sebagian maupun dengan perubahan bunyi. Bentuk perulangan yang terdapat pada data termasuk dalam bentuk perulangan secara keseluruhan atau bentuk reduplikasi penuh.

Bentuk perulangan yang ditemukan pada data adalah perulangan dalam bahasa asing yaitu kata: gadget-gadget yang memiliki bentuk dasar gadget. Penggunaan kata gadget oleh penulis adalah untuk lebih menyingkat maksud dengan hanya menggunakan perulangan kata sebagai strateginya.

d. Campur Kode Berupa Frasa

Frasa adalah kesatuan yang terdiri atas dua kata atau lebih yang mestinya mempertahankan makna kata dasarnya. Sementara gabungan itu menghasilkan suatu relasi tertentu dan tiap pembentuknya tidak dapat berfungsi sebagai subjek dan predikat dalam konstruksi tersebut (Keraf, 1991:175).

Penggunaan unsur-unsur bahasa Inggris dalam majalah kawanku tidak hanya terbatas pada kata, tetapi juga  dapat berwujud frasa. Berdasarkan letak kelas katanya, unsur bahasa Inggris berwujud frasa terdiri atas frasa nominal, frasa verbal, dan frasa depan.

1. Frasa Nominal

Frasa nominal adalah frasa yang induknya berupa nomina atau kata benda (Alwi,dkk., 2003:244). Dari data yang ada ditemukan beberapa frasa nominal, yaitu summer outfit, bar code, lilac purple, hoodie jacket, harem pants, snake skin, animal printed, science fiction, fashion merchandise, handphone, surf store, modem boot, playboy, eye shadow, eye liner, public enemy, blush on, movie freak, mix tap, swimsuit dan sunblock.

Contoh:

(4)”Selain musik idolanya Dave Grohl, Emir paling suka nonton film. Boleh dibilang dia itu movie freak.”

Dalam contoh no (4) di atas, movie freak artinya penggila film atu ddapat disebut sebagai pecinta film. Movie freak merupakan frasa yang terdiri atas unsur pusat movie ‘film’ yang berjenis kata benda dan unsur tambahan freak ‘penggila’ atau ‘keranjingan’.

2. Frasa Verbal

Frasa verbal adalah frasa yang induknya berupa verbal atau kata kerja (Alwi, dkk., 2003:157)

Ada beberapa frasa verbal yang ditemukan dalam data, yaitu: dyed  black, hang out, makeover, dan make up.

Contoh :

(5)”Kalau bosen, biasanya aku hang out bareng teman-teman.”

Data (5) di atas terdiri dari frasa verbal, yaitu hang out yang berarti ‘…..’

3. Frasa Adjektival

Frasa adjektival adalah frasa yang terdiri atas kata sifat sebagai penanda. Ada beberapa frasa tersebut yang ditemukan dalam data, yaitu: floppy hats, global warming, soundtrack, rock star, slim cropped, perfect trouser, true straight, comfort zone, round face, dan easy listening. Contoh :

(6)”Saat itu enggak bakal ada orang yang percaya kali, ya, kalau dibilang dunia bakal mengalami global warming.”

Frasa dalam kalimat di atas merupakan frasa adjektiva yang terdiri dari adjektiva global sebagai penanda, diikuti kata warming, yang berarti pemanasan global.

2.2  Faktor Terjadinya Campur Kode

Faktor utama penyebab penutur menggunakan unsur bahasa Inggris dalam tuturannya adalah karena faktor kedwibahasaan. Pendapat Weinrich dalam Suhardi Prawiroatmojo, mengemukakan kedwibahasaan sebagai pemakaian dua bahasa (oleh sesorang) secara bergantian (Kentjono (Ed), 1982:124). Seseorang sering menggunakan atau mencampur-campur suatu bahasa dengan bahasa lain dikarenakan dia menguasai, baik aktif maupun pasif kedua bahasa itu.

Kedwibahasaan terjadi karena adanya kontak antara bahasa yang satu dengan yang lain. Mackey dalam Suwito (1985:39) mengemukakan kontak bahasa sebagai pengaruh bahasa yang satu kepada bahasa yang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga menimbulkan perubahan bahasa yang dimiliki ekabahasawan. Kontak bahasa ini menimbulkan terjadinya kedwibahasaan.

Di era modern ini, pemasukan unsur asing, yang bersifat internasional tidak dapat dihindari lagi. Tidak adanya padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia menyebabkan para ahli terpaksa memungut unsur-unsur asing tersebut. Faktor penyebab masuknya unsur bahasa asing tersebut yaitu : (1) lebih populer, (2) lebih ringkas (Weinrich, 1963) (3) lebih bergengsi, dan (4) lebih santai (Nababan, 1984; Suwito,1985).

a. Lebih Populer

Dewasa ini, penggunaan unsur asing, khususnya bahasa Inggris semakin marak diman-mana. Meskipun sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia, masyarakat kita lebih suka memakai istilah bahasa Inggris tersebut. Ini dikarenakan masyarakat telah mengenal lebih dahulu istilah bahasa Inggrisnya daripada padanan kata bahasa Indonesianya, sehingga yang terasa akran di telingalah yang lebih dipilih.

Contoh :

(7) “Gara-gara Dougy, Indonesia masuk ke sejarah soundtrack film Hollywood untuk pertama kalinya.”

Soundtrack adalah istilah khusus yang digunakan dalam bidang seni, baik itu seni musik maupun seni perfilman. Dalam masyarakat kita, istilah soundtrack lebih populer dari pada lajur bunyi, sebab yang dimaksud dengan lajur bunyi disini tidka jelas. Soundtrack dikhususkan pada musik/lagu yang mengiringi sebuah film. Sedangkan yang dimaskud dengan lajur bunyi itu lebih luas yaitu semua bunyi-bunyian bisa berupa suara orang, hewan, benda jatuh dan tidak hanya digunakan pada bidang perfilman. Jadi, penggunaan istilah soundtrack dipilih untuk mempermudah pemahaman pembaca karena lebih dikenal dahulu.

b. Lebih Ringkas

Masyarakat kita lebih suka menggunakan istilah bahasa Inggris karena lebih ringkas. Suatu istilah jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi sangat panjang, sehingga mempersulit pembaca untuk mengingatnya. Satu istilah bahasa Inggris bila diterjemahkan dapat menjadi beberapa atau banyak kata dalam bahasa Indonesia, sehingga tidak efektif. Maka dari itu, pembaca lebih suka memilih istilah bahasa Inggris yang ringkas daripada terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang sangat panjang.

Contoh:

(8) “Lagian aku kan tampil begitu untuk di panggung, bukan di club malam.”

Club berarti ‘perkumpulan’ adalah istilah yang telah umum digunakan sehingga menjadi istilah umum. Sekarang istilah itu tidak hanya digunakan dalam bidang tersebut tetapi meluas ke bidang-bidang lain.  Club  berarti perkumpulan yang kegiatannya mengadakan persekutuan untuk maksud tertentu. Kata tersebut sering dipadankan dengan perkumpulan, tetapi sebenarnya club lebih luas daripada perkumpulan. Sehingga penggunaan kata perkumpulan sebagai padanan kata club kurang tepat maknanya juga untuk keefektifan karena lebih ringkas dibandingkan istilah terjemahannya dalam bahasa Indonesia.

c. Lebih Bergengsi

Penggunaan unsur bahasa Inggris dalam tuturan akibat adanya faktor kegengsian. Faktor gengsi, berkaitan dengan status sosial seseorang. Biasanya orang yang menggunakan unsur bahasa Inggris karena faktor ini adalah mereka yang berasal dari latar belakang pendidikan yang tinggi.

Kefasihan berbahasa asing, khususnya bahasa yang dikaitkan dengan peradaban yang tinggi, kadang-kadang disangka penutur bahasa akan meningkatkan kedudukan sosialnya di mata orang lain.

Contoh:

(9)”Musik kita emang instrumental, tapi musik yang kita sajikan easy listening banget.”

Penggunaan unsur bahasa Inggris dalam kalimat di atas dilakukan karena faktor gengsi. Kata di atas adalah kata bahasa Inggris yang belum populer dalam masyarakat. Easy listening berarti ‘enak didengar’. Dengan menggunakan kata-kata yang belum populer seolah penutur ingin menunjukkan bahwa dia bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar tidak sekedar ikut-ikutan saja.

d. Lebih Santai

Nababan mengatakan bahwa ciri yang menonjol seseorang menggunakan unsur bahasa Inggris adalah kesantaian atau situasi formal (1984:32). Dalam suasana santai tersebut akan terciptalah keakraban.

Penggunaan unsur-unsur bahasa Inggris oleh penutur adalah untuk menimbulkan kesan akrab dan santai. Faktor ini berhubungan dengan kesederajatan sesorang. Maksudnya, dilakukan pada situasi santai dan pada seseorang yang mempunyai derajat sama. Ada beberapa data yang menunjukkan kesan akrab dalam penggunaannya, yaitu: man, girls, cool. Kita seringkali mendengar para remaja menggunakan kata-kata seperti itu kepada teman sebayanya dalam suasana santai. Untuk itulah dalam majalah kawanku digunakan kata-kata seperti itu untuk menarik perhatian remaja. Dengan menggunakan kata-kata yang tidak formal dan tidak kaku diharapkan akan tercipta suasana santai sehingga para remaja menyukai majalah tersebut.

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Berdasarkan analisis data yang telah di uraikan pada bab sebe,umnya, maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut:

  • Macam-macam campur kode dalam rubrik ”Life & Entertainment” majalah kawanku mencakup: (1) wujud kata, terdiri atas : kata benda dan kata sifat; (2)wujud baster (kata berimbuhan), yaitu terdiri atas prefiks dan sufiks; (3) wujud frasa, yaitu terdiri dari frasa nominal, frasa verbal, dan frasa adjektival.
  • Faktor utama penyebab terjadinya campur kode yaitu : (1) lebih populer, (2) lebih ringkas, (3) lebih bergengsi, dan (4) lebih santai.

 

Daftar Pustaka

 

Alwi, Hasan. dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta

Echols dan Hassan Shadily. 2001. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Kentjono, Djoko (Ed). 1982. Dasar-Dasar Linguistik Umum. Jakarta: Fakultas Sastra UI.

 

Keraf, Gorys. 1992. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia.

—————-. 1991. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia

Nababan, P.W.J. 1984. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia

Pateda, Mansur. 1991. Sosiolinguistik. Jakarta: Gramedia.

Ramlan. 1987. Sintaksis. Yogyakarta: Karyono.

———-. 1987. Morfologi. Yogyakarta: Karyono.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Suwito. 1985. Sosiolinguistik Pengantar Awal. Solo: Hendri Offset.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembina dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Winreich, Uriel. 1963. Languages in Contact: Finding and Problem. New York: Mouton Publishers the Houge.

Review buku “Fonologi Bahasa Indonesia”

Muslich, Masnur. 2010. Fonologi Bahasa Indonesia: Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Buku ini pertama kali dicetak pada Mei 2008. Cetakan kedua dibuat pada Juli 2009. dan terakhir dicetak kembali pada April 2010.

 

Tentang Pengarang

 

Masnur Muslich dilahirkan di Mojokerto, 22 Februari 1956. pendidikan dasar ditempuhnya di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Pendidikan Menengah ditempuhnya di PGAN Mojokerto. Beliau mendapatkan gelar sarjana muda pendidikan (BA) dan sarjana lengkap pendidikan (Drs.) bidang Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Negeri Malang masing-masing pada tahun 1987 dan 1980.Dan gelar M.Si. beliau peroleh di Universitas Airlangga pada tahun 1998 dengan sponsor Bank Dunia. Sejak tahun 1980 sampai sekarang.

Banyak kegiatan yang pernah beliau lakukan, diantarany tentang Sistem Morfologi Bahasa Tetun  di Timor Timur, Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia Siswa SD Jawa Timur. Pengabdian beliau pada masyarakat diarahkan pada pembinaan penulisan buku pelajaran terhadap guru-guru SD, SMP, SMA yang ingin mengembangkan keterampilan menulis. Beliau sendiri telah menulis 72 jilid. Di sela kesibukannya sebagai dosen da penulis, ia juga menjadi narasumber pada berbagai forum seminar dan penataran dalam rangka sosialisasi KTSP dan sertifikasi guru.

 

Ringkasan Bab

 

Bab 1: Pendahuluan

Dalam bab 1 terdapat sub-sub bab yang memaparkan tentang fonologi dan bidang pembahasannya, kedudukan fonologi dalam cabang-cabang linguistik serta manfaat fonologidalam penyusunan ejaan bahasa.

 

Bab 2 : Fonetik : Gambaran Umum

Bab 2 membahas tentang fonetik dan bidang kajiannya. Secara umum, fonetik dapat dibagi menjadi tiga bidang kajian, yaitu fonetik fisiologis, fonetik akustis, fonetik auditoris atau fonetik pesepsi.

Permasalahan ketidaklancaran berujar yang terkait dengan kajian fonetik yang disebabkan oleh kegagapan (stuttering), kelumpuhan saraf otak (cerebral palsied), afasia (aphasia), disleksia (dyslexia), disatria (disathria), dan lain-lain.

Kondisi kajian fonetik dan beberapa tokoh ilmu fonetik dikemukakan dalam bab ini. Seperti Bertil Malmberg  yang mendefinisikan fonetik sebagai pengkajian bunyi-bunyi bahasa. Serta David Ambercrombie yang berpendapat bahwa fonetik adalah ilmu yang bersifat teknis.

 

Bab 3 Fonetik : Tahapan Komunikasi, Proses Pembentukan, Transkripsi Fonetis

Bab 3 membahas tentang peristiwa komunikasi dengan bahasa lisan. Proses diman serorang pembicara menyampaikan maksud kepada yang diajak bicara, yang didengar sebagai rangkaian bunyi, kemudian menjadi bunyi yang mengandung makan atau maksud sesuai dengan tujuan komunikasi.

Terjadinya proses pembentukan bunyi yang diperankan oleh saran-sarana utama seperti arus udara, pita suara, alat-alat ucap (komponen supraglotal, komponen laring, dan komponen subglotal).

 

Bab 4 Klasifikasi Bunyi Segmental dan Deskripsi Bunyi Segmental Bahasa Indonesia

Dasar klasifikasi bunyi segmental yang didasarkan pada berbagai macam criteria, seperti (1) ada tidaknya gangguan, (2) mekanisme udara, (3) arah udara, (4) pita suara, (5) lubang lewatan udara, (6) mekanisme artikulasi, (7) cara gangguan, (8) maju mundurnya lidah, (9) tinggi rendahnya lidah, dan (10) bentuk bibir.

Deskripsi bunyi segmental baik vokoid maupun kontoid, yang diucapkan oleh penutur bahasa Indonesia yang sangat variatif setelah diterapkan dalam berbagai distribusi dan lingkungan.

 

Bab 5 Bunyi Suprasegmental, Bunyi Pengiring, Diftong, Kluster, dan Silaba

Oleh para fonetisi, bunyi-bunyi suprasegmental dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu yang menyangkut aspek (a) tinggi-rendah  bunyi (nada), (b) keras-lemah bunyi (tekanan), (c) panjang-pendek bunyi (tempo), dan (d) kesenyapan (jeda).

Bunyi sertaan atau pengiring dapat dikelompokkan menjadi 9, yaitu bunyi efektif, bunyi klik, bunyi aspirasi, bunyi eksplosif (bunyi lepas), bunyi retrofleksi, bunyi labialisasi, bunyi palatalisasi, bunyi glotalisasi, bunyi nasalisasi.

Dalam praktiknya diftong terdiri dari dua macam, yaitu diftong menurun (falling diphthong), dan diftong menaik (rising diphthong). Kombinasi kluster dalam bahasa Indonesia yaitu kluster yg terdiri dari dua kontoid, dan kluster yang terdiri dari tiga kontoid.

Dalam memahami suku kata, para linguis atau fonetisi berlandaskan pada teori sonoritas dan teori prominans

 

Bab 6 Fonem dan Dasar Analisisnya

Pokok-pokok pikiran atau premis-premis yang dijadikan sebagai sutau pegangan dalam menganalisis fonem-fonem suatu bahasa yaitu, (1) suatu bahasa cenderung dipengaruhi oleh lingkungannya, (2) sistem bunyi suatu bahasa berkecenderungan bersifat simetris, (3) bunyi-bunyi suatu bahasa cenderung berfluktuasi, (4) mempunyai kesamaan fonetis digolongkan tidak berkontras apabila berdistribusi  komplementer dan atau bervariasi bebas, (5) mempunyai kesamaan fonetis digolongkan ke dalam fonem yang berbeda apabila berkontras dalam lingkungan yang sama atau mirip.

Prosedur analisis fonem terdiri dari beberapa langkah, yaitu (1) mencatat korpus data setepat mungkin dalam transkripsi fonetis, (2) mencatat bunyi yang ada dalam korpus data ke dalam peta bunyi, (3) memasangkan bunyi-bunyi yang dicurigai karena mempunyai kesamaan fonetis, (4) mencatat bunyi-bunyi selebihnya karena tidak mempunyai kesamaan fonetis, (5) mencatat bunyi-bunyi yang berdistribusi komplementer, (6) mencatat bunyi-bunyi yang bervariasi bebas, (7) mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang sama (identis), 8 mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang mirip (analogis), (9) mencatat bunyi-bunyi yang berubah karena lingkungan, (10) mencatat bunyi-bunyi dalam inventori fonetis dan fonemis, condong menyebar sevara simetris, (11) mencatat bunyi-bunyi yang berfluktuasi, (12) mencatat bunyi-bunyi selebihnya sebagai fonem tersendiri.

 

Bab 7 Klasifikasi, Distribusi, dan Realisasi Fonem Bahasa Indonesia

Jumlah dan variasi bunyi bahasa Indonesia yang tak bias dipastikan jumlahnya, merupakan realisasi dari sistem fonem yang terbatas jumlahnya. Berdasarkan hasil penelitian, fonem bahasa Indonesia berjumlah sekitar 6 fonem vocal dan 22 fonem konsonan.

 

Bab 8 Ciri Ciri Prosidi atau Suprasegmental dalam Bahasa Indonesia

Bunyi-bunyi suprasegmental dalam tuturan bahasa Indonesia, yaitu nada. Nada dalam bahasa Indonesia tidak fonemis. Ketidakfonemisan ini tidak berarti nada tidak ada dalam bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor ketegangan pita suara, arus udara, dan posisi pita suara ketika bunyi itu diucapkan. Tekanan, berfungsi membedakan makna  dalam tataran kalimat (sintaksis), tetapi tidak berfungsi membedakan makna dalam tataran kata (leksis). Durasi, durasi atau panjang-pendek ucapan dalam bahasa Indonesia tidak fungsional dalam tataran kata, tetapi fungsional dalam tataran kalimat. Jeda, terjadi di antara dua bentuk linguistic, baik antarkalimat, antarfrase, antarkata, antarmorfem, antarsilaba, maupun antarfonem. Intonasi, sangat berperan dalam pembedaan maksud kalimat.

 

Bab 9 Perubahan Bunyi dalam Bahasa Indonesia

Jenis-jenis perubahan bunyi dalam bahasa Indonesia antara lain, Asimilasi, perubahan bunyi dari dua bunyi yang tidak sama menjadi bunyi yang sama atau yang hamper sama. Disimilasi, perubahan bunyi dari dua bunyi yang sama atau mirip menjadi dua bunyi yang tidak sama atau berbeda. Modifikasi vocal, perubahan bunyi vocal sebagai akibat dari pengaruh  bunyi lain yang mengikutinya. Netralisasi, perubahan bunyi fonemis sebagai akibat pengaruh lingkungan. Zeroisasi, penghilangan bunyi fonemis sebagai akibat upaya penghematan atau ekonomisasi pengucapan. Metafisis, perubahan urutan bunyi fonemis pada suatu kata sehingga menjadi dua bentuk kata yang bersaing. Diftongisasi, perubahan bunyi vocal tunggal (monoftong) menjadi dua bunyi vokal atau vokal rangkap (diftong) secara berurutan. Monoftongisasi, perubahan dua bunyi vokal atau vokal rangkap (diftong) menjadi vokal tunggal (monoftong). Anaptiksis, perubahan bunyi dengan jalan menambahkan bunyi vokal tertentu di antara dua konsonan untuk memperlancar ucapan.

 

Sebagai bidang yang berkonsentrasi dalam deskripsi dan analisis bunyi-bunyi ujar, hasil kerja fonologi berguna bahkan sering dimanfaatkan oleh cabang-cabang linguistik yang lain, baik linguistik teoretis maupun terapan. Misalnya, morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi, dialektologi, pengajaran bahasa, dan psikolinguistik. Pemerolehan bunyi bahasa ini bisa dikaji secara scientific (ilmiah). Oleh karena itu, buku ini akan memberikan kita mengenai bagaimana bunyi atau pengucapan yang benar dalam berbahasa Indonesia. Bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan bisa dijelaskan secara lebih detail atau rinci dalam ilmu bunyi atau fonetik. Buku ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan dan pemahaman yang utuh tentang seluk-beluk bunyi bahasa Indonesia.

Sajian dalam buku ini diawali dengan konsep-konsep teoritis yang diikuti dengan bunyi konkret dan aktual dalam kenyataan berbahasa. Di setiap sajian buku ini, dilengkapi dengan bahan diskusi yang berisi serangkaian persoalan yang terkait dengan materi sajian pada akhir setiap bab, sebagai bahan pendalaman materi sajian.

Di dalam setiap terdapat catatan-catatan pendek yang berupa informasi tambahan  bagi para pembaca. Buku ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar yang memungkinkan para pembaca untuk memahami setiap penjelasan, seperti contohnya gambar proses pembentukan bunyi, bagan-bagan tiga komponen fisiologis alat-alat ucap, dll. Yang bertujuan untuk memudahkan para pembaca mendapatkan gambaran atas penjelasan-penjelasan yang terdapat dalam buku ini.

 

 

 

 

Kalimat Interogatif dalam Bahasa Indonesia

 

Latar Belakang

Bahasa adalah fenomena yang menghubungkan dunia makna dengan dunia bunyi. Lalu, sebagai penghubung di antara kedua dunia itu, bahasa dibangun oleh tiga buah komponen, yaitu komponen leksikon, komponen gramatika, dan komponen fonologi.

Kalau bahasa itu merupakan suatu sistem (Chaer, 2009), maka sistem bahasa itu memiliki tiga buah sibsistem, yaitu subsistem leksikon, subsistem gramatika, dan subsistem fonologi. Komponen makna berisi konsep-konsep, ide-ide, pikiran-pikiran, atau pendapat-pendapat yang berada dalam otak atau pemikiran manusia. Komponen leksikon dengan satuannya yang disebut leksem merupakan wadah penampung makna secara leksika, juga bersifat abstrak. Komponen gramatika atau subsistem gramatika terbagi lagi menjadi dua subsistem, yaitu subsistem morfologi dan subsistem sintaksis.

Subsistem sintaksis membicarakan penataan dan pengaturan kata-kata itu ke dalam satuan-satuan yang lebih besar, yang disebut satuan-satuan sintaksis, yakni kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana.

Kalimat umumnya berwujud rentetan kata yang disusun sesuai dengan kaidah yang berlaku. Setiap kata termasuk kelas kata atau kategori kata, dan mempunyai fungsi dalam kalimat. Pengurutan rentetan kata serta macam kata yang dipakai dalam kalimat menentukan pula macam kalimat yang dihasilkan.

Jika ditinjau dari segi bentuknya, kalimat dapat berupa kalimat tunggal atau kalimat majemuk. Sedangkan jika dilihat dari segi maknanya kalimat dapat dibedakan menjadi kalimat deklaratif (kalimat berita), kalimat interogatif (kalimat tanya), kalimat imperatif (kalimat perintah), kalimat eksklamatif (kalimat seruan), dan kalimat emfatik (kalimat penegas) (Moeliono, 1988: 32)

Dilihat dari namanya, sudah tampak makna macam-ragam kalimat itu : kalimat berita menyampaikan berita pernyataan, kalimat tanya mengajukan pertanyaan, dan kalimat perintah memberikan perintah kepada yang bersangkutan. Kalimat seruan mengungkapkan perasaan keheranan atau kekaguman atas sesuatu, dan kalimat penegasan khusus kepada pokok pembicaraan.

Dalam setiap bahasa, dibedakan dua jenis klausa interogatif: „pertanyaan ya/tidak” (atau „pertanyaan y/t”), dan „pertanyaan apa”. (Verhaar, 19  : 248).

Jenis ”y/t” itu adalah pertanyaan yang jawabannya dapat berupa ya atau tidak, umpamanya klausa Apakah anda sudah lapor pada piket?. Jenis ”apa” adalah pertanyaan dengan konstituen interogatif seperti apa?, siapa?, mengapa?, berapa?, dan lain sebgainya. Pertanyaan “-apa” tidak dapat dijawab dengan ya atau tidak, dan menuntut informasi yang lain.

Makalah ini akan membahas secara khusus tentang penggunaan kalimat interogatif atau kalimat tanya dalam Bahasa Indonesia dan jenis-jenisnya yang  akan dibahas pada bab selanjutnya.

Untuk sumber data pada contoh-contoh kalimat dalam pembahasan diperoleh dalam buku “Cerpen Kompas Terpilih 1981-1990).

PEMBAHASAN

 

Beberapa bahasa-bahasa yang telah diteliti semuanya memiliki tanda gramatikal yang mengindikasikan bahwa tujuan dari sebuah kalimat adalah untuk mendapatkan atau mengumpulkan informasi. Dan harus dapat membedakan beberapa perbedaan tipe pencarian informasi.

Tipe dasar dari sebuah kalimat interogatif yang paling luas distribusinya adalah pertanyaan ya-ntidak, yang telah di observasi oleh beberapa peneliti, kalimat tanya tersebut memiliki ciri intonasi akhir yang meninggi. Pola intonasi ini terdapat dalam beberapa kasus menjadi sebuah fitur gramatikal penanda interogasi. Seperti pendapat (Jacaltec, dalam Craig 1977) yang menyatakan bahwa intonasi akhir yang meninggi adalah salah satu indikasi yang frekuensi kemunculannya sangat sering ditemukan sebagai aturan interogasi dan satu-satunya fitur yang membedakan kalimat interogatif dari kalimat deklaratif.

Ciri yang lainnya yaitu terdapatnya partikel awal sebuah kalimat, partikel akhir sebuah kalimat, kata kerja khusus, dan ‘word order’.

Kalimat tanya y/t mirip dengan pertanyaan yang berat sebelah pada beberapa tingkatan, yang memperlihatkan keinginan pembicara pada suatu keadaan adalah benar seperti apa yang diharapkan, dimana pembicara tersebut lebih mengharapkan jawaban ya atau betul.

Tipe kalimat tanya yang kedua yaitu  pertanyaan yang mengharapkan informasi. Jumlah dari kata tanya sangat bervariasi. Kebanyakan bahasa memiliki interogatif pronomina , ada juga yang memiliki interogatif adverbial (when, where, how dalam bahasa Inggris).Sementara mereka menginterogasi bagian suatu keadaan, pertanyaan informasi selalu memperlihatkan letak suatu keadaan sebagai informasi pra anggapan. Informasi baru adalah permintaan identitas dari suatu bagian kalimat yang di tanyakanBagian kalimat yang dipertanyakan bisa disebut juga dengan ‘fokus’ suatu kalimat, tapi juga merupakan menyangkut hal apakah suatu kalimat tersebut. Maka istilah ‘topik’ diperlukan.

Bentuk interogatif biasanya ditemukan dalam posisi dari fokus dan topik , dimana kebanyakan bahasa disebut posisi awal kalimat. Secara semantik, pertanyaan informasi sama seperti pertanyaan alternatif dalam menspesifikasikan suatu batasan atau jangkauan dimana jawabannya harus ditemukan. Kata interogatif mengindikasikan semuanya sendiri., atau dengan bantuan fitur sintaktik suatu pertanyaan tempat letaknya, ketertarikan seorang penanya pada bagian keadaan tertentu yang ingin diketahui. Namun kata interogatif juga memiliki tipikal untuk membatasi lahan seorang penanya dari suatu bagian hal yang belum diketahui tersebut. Dengan demikian, kata tanya siapa mengindikasikan bahwa seorang penanya menginginkan yang tertuju tersebut untuk menunjuk pada seseorang, kapan menunjuk pada waktu, dimana menunjuk pada tempat, dan sebagainya.

Kalimat interogatif adalah kalimat yang mengharapkan adanya jawaban secara verbal. Jawaban ini dapat berupa pengakuan, keterangan, alasan atau pendapat dari pihak pendengar atau pembaca (Chaer, 2009:189)

Berdasarkan penjelasan diatas, kalimat interogatif dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pertanyaan y/t dan pertanyaan –apa. Pertanyaan y/t dimarkahi hanya dengan intonasi saja (yang meninggi pada akhir kalimat). Pertanyaan dengan susunan beruntun yang sama dengan klausa deklaratif biasanya menunjukkan rasa heran.

Di lain pihak, sepengetahuan para ahli bahasa, kebanyakan bahasa di dunia memiliki struktur sintaksis yang khusus untuk klausa interogatif. Dalam bahasa Indonesia, memiliki partikel tanya apa atau apakah atau klitika –kah dimana pertanyaan tersebut bertujuan untuk mendapatkan informasi lainnya.

Berikut adalah jenis dan pemakaian kalimat tanya :

  • Kalimat interogatif yang meminta pengakuan jawaban ”ya” atau “tidak”, kalimat tersebut dapat dibentuk dengan cara memberi intonasi tanya pada sebuah klausa (kalimat). Bisa dilihat dari kalimat-kalimat berikut :

– Jadi rakyat kita suruh bikin pabrik tepung ketela?

– Mereka bekerja sama dengan penduduk?

Kalimat jawaban dari kalimat-kalimat tersebut dapat dibuat dalam bentuk singkat, tetapi dapat juga dalam bentuk lengkap, seperti ya dan ya, rakyat kita suruh bikin pabrik tepung ketela… atau tidak dan tdak, mereka tidak bekerja sama denga penduduk.  

Kalimat interogatif juga dapat dibentuk dengan cara memberi apakah di muka sebuah klausa (kalimat), dapat dilihat dari contoh berikut :

Serta memberi partikel tanya –kah pada bagian kalimat yang ingin ditanyakan. Dalam hal ini bagian kalimat yang diberi partikel –kah tersebut lazim ditempatkan pada awal kalimat

–          Ditahan KPKkah pejabat itu?

–          Guru SMPkah suaminya?

–          Apakah kamu cukup sehat?

  • Kalimat interogatif yang meminta jawaban mengenai salah satu unsur kalimat dibentuk dengan bantuan kata tanya (apa, siapa, mana, berapa, dan kapan) sesuai dengan bagian mana dari kalimat yang ingin ditanyakan

(a) Penggunaan apa, yaitu untuk menanyakan benda, contoh :

– Apa isi peti itu?

– Apa yang kau sumbangkan kepada mereka?

– Apa bedanya sih dengan teknologi?

(b) Penggunaan kata tanya siapa, yaitu untuk menanyakan orang

– Siapa nama gadis itu?

– Selama bapak di rumah sakit, siapa saja yang mengunjunginya?

– Oleh siapa dia dimarahi?

(c) Penggunaan kata tanya mana, untuk menanyakan keberadaan benda (termasuk

orang)

– Mana Pak Lurah?

– Istrimu yang mana?

– Mana buku itu?

Untuk menyatakan tempat keberadaan, tempat kedatangan, dan tempat tujuan dengan lebih tepat di muka kata mana ditempatkan preposisi di, ke, dan dari. Contoh :

–        Darimana kau dapat anakku?

–                Telepon dari mana kamu?

–                Dari mana mereka mendatangkan gandum?

(d) Penggunaan kata tanya berapa, yaitu untuk menanyakan jumlah atau banyaknya

sesuatu digunakan

– Berapa harga yang kau pinta?

– Berapa yang kudengar?

– Berapa order?

(e) Penggunaan kata tanya kapan, untuk menanyakan waktu

– Kapan kamu akan menikah?

– Kapan kamu kembali?

Untuk menanyakan permulaan terjadinya sesuatu harus digunakan kata tanya sejak kapan, dan untuk menanyakan batas akhur akan terjadinya sesuatu harus digunakan kata tanya sampai kapan.

  • Kalimat interogatif yang meminta jawaban berupa alasan yang dibentuk dengan bantuan kata tanya mengapa atau kenapa

– Mengapa kamu sering terlambat?

– Kenapa anggota DPR itu ditangkap?

– Mengapa anjing dan kucing sering berkelahi?

  • Kalimat interogatif yang meminta jawaban berupa pendapat (mengenai hal yang ditanyakan) dibentuk dengan bantuan kata tanya bagaimana

– Bagaimana kalian menyelamatkan diri?

– Bagaimana dengan rumah ini, kalau kita dapat rumah dinas?

  • Kalimat interogatif yang mengharapkan jawaban untuk menguatkan yang ditanyakan. Oleh karena itu, jawaban yang diharapkan adalah “ya” atau “betul”, meskipun secara eksplisit kata “ya” atau “betul” itu tidak diucapkan

– Anda berasal dari Papua, bukan?

– Kamu sudah punya anak, bukan?

– Tetapi ia pernah ditangkap petani timun, bukan?

Fungsi berbagai kata tanya ditentukan berdasarkan kemungkinan kalimat jawabnya. Kata tanya apa berbeda dengan kata tanya siapa. Misalnya, seperti data kalimat di atas Apa isi peti itu?menghendaki jawaban Isi peti itu buku-buku bekas, koran, dan sebagainya, sedangkan kalimat Siapa nama gadis itu? menghendaki jawaban Nama gadis itu Nina. Jelaslah bahwa kata apa menanyakan benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, sedangkan kata tanya siapa menanyakan orang.

Kata tanya mengapa dan kenapa menghendaki jawaban yang diawali dengan kata karena atau dengan kata lain, kata tanya mengapa berfungsi menanyakan sebab dan alasan. Misalnya, Mengapa kamu sering terlambat? pertanyaan tersebut menghendaki jawaban karena saya terlambat bangun, dan kalimat Kenapa anggota DPR itu ditangkap? Menghendaki jawaban karena dia telah melakukan tindak korupsi, melanggar peratutan, dan sebagainya.

Kata tanya bagaimana dalam kalimat Bagaimana dengan rumah ini, kalau kita dapat rumah dinas? menghendaki jawaban Rumah ini aka dijual. Maka dapat dikatakan bahwa kata tanya bagaimana dalam kalimat tersebut menanyakan keadaan, berbeda dengan kata tanya bagaimana dalam kalimat Bagaimana kalian menyelamatkan diri? Yang menghendaki jawaban yang diawali dengan kata dengan sevagai penanda cara, misalnya dengan cara berteriak meminta tolong, dengan cara kabur, dan sebagainya. Maka dapat dikatakan bahwa kata tanya bagaimana tersebut menanyakan cara.

Kata tanya mana menanyakan tempat, misalnya Mana pak lurah? Dan Mana buku itu? yang mana pertanyaan tersebut mungkin dijawab Di rumah dan di dalam laci. Maka dari itu, kata tanya mana tersebut dapat dijelaskan sebagai kata tanya yang menanyakan tempat.

Sedangkan kata tanya mana dalam kalimat Istrimu yang mana? Menghendaki jawaban yang membedakan seorang istri yang ditanyakan dengan istri-istri lain yang dimiliki oleh orang yang ditujukan pertanyaan. Maka dari itu, kata tanya mana tersebut dijelaskan sebagai kata tanya yang menanyakan sesuatu atau seseorang dalam suatu kelompok.

KESIMPULAN

 

 

§  Kalimat interogatif berfungsi menggantikan sesuatu yang ingin diketahui oleh pembicara atau penanya dan mengukuhkan apa yang telah diketahui oleh si pembicara atau penanya

§  Secara garis besar jenis kalimat interogatif dapat dibedakan menjadi dua, yaitu jenis pertanyaan ya/tidak, dimana jawaban yang diharapkan hanya berupa jawaban ya dan tidak. Kalimat tanya jenis ini memiliki ciri intonasi tinggi pada akhir kalimat

§  Jenis yang berikutnya yaitu pertanyaan –apa, dimana tidak hanya sebuah jawaban ya atau tidak yang diharapkan tetapi juga menuntut informasi yang lain. Kata-kata tanya yang menunjuk pada tuntutan pencarian informasi yaitu kata apa, siapa, mana, berapa, dan kapan yang berfungsi meminta keterangan mengenai salah satu unsur kalimat, kata mengapa dan kenapa berfungsi untuk meminta alasan, kata tanya bagaimana berfungsi untuk meminta pendapat mengenai hal yang ditanyakan, kata tanya yang berfungsi menyuguhkan untuk menguatkan suatu hal yang ditanyakan, yang ditandai dengan adanya ‘question tag’ atau label pertanyaan bukan?

§  Fungsi kata-kata tanya ditentukan berdasarkan kemungkinan jawabannya.

Daftar Pustaka

 

Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dahana, Radhar Panca. Riwayat Negeri yang Haru: Cerpen Kompas Terpilih 1981-1990. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Moeliono, Anton M. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ramlan, M. 1981. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono.

Shopen, Timothy. 1985. Language Typology and Syntactic Description. Cambridge Unversity Press.

Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Disusun oleh : Navissa