Review buku “Fonologi Bahasa Indonesia”

Posted: November 29, 2011 in Book Review

Muslich, Masnur. 2010. Fonologi Bahasa Indonesia: Tinjauan Deskriptif Sistem Bunyi Bahasa. Jakarta: Bumi Aksara.

 

Buku ini pertama kali dicetak pada Mei 2008. Cetakan kedua dibuat pada Juli 2009. dan terakhir dicetak kembali pada April 2010.

 

Tentang Pengarang

 

Masnur Muslich dilahirkan di Mojokerto, 22 Februari 1956. pendidikan dasar ditempuhnya di Madrasah Ibtidaiyah (MI). Pendidikan Menengah ditempuhnya di PGAN Mojokerto. Beliau mendapatkan gelar sarjana muda pendidikan (BA) dan sarjana lengkap pendidikan (Drs.) bidang Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Negeri Malang masing-masing pada tahun 1987 dan 1980.Dan gelar M.Si. beliau peroleh di Universitas Airlangga pada tahun 1998 dengan sponsor Bank Dunia. Sejak tahun 1980 sampai sekarang.

Banyak kegiatan yang pernah beliau lakukan, diantarany tentang Sistem Morfologi Bahasa Tetun  di Timor Timur, Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia Siswa SD Jawa Timur. Pengabdian beliau pada masyarakat diarahkan pada pembinaan penulisan buku pelajaran terhadap guru-guru SD, SMP, SMA yang ingin mengembangkan keterampilan menulis. Beliau sendiri telah menulis 72 jilid. Di sela kesibukannya sebagai dosen da penulis, ia juga menjadi narasumber pada berbagai forum seminar dan penataran dalam rangka sosialisasi KTSP dan sertifikasi guru.

 

Ringkasan Bab

 

Bab 1: Pendahuluan

Dalam bab 1 terdapat sub-sub bab yang memaparkan tentang fonologi dan bidang pembahasannya, kedudukan fonologi dalam cabang-cabang linguistik serta manfaat fonologidalam penyusunan ejaan bahasa.

 

Bab 2 : Fonetik : Gambaran Umum

Bab 2 membahas tentang fonetik dan bidang kajiannya. Secara umum, fonetik dapat dibagi menjadi tiga bidang kajian, yaitu fonetik fisiologis, fonetik akustis, fonetik auditoris atau fonetik pesepsi.

Permasalahan ketidaklancaran berujar yang terkait dengan kajian fonetik yang disebabkan oleh kegagapan (stuttering), kelumpuhan saraf otak (cerebral palsied), afasia (aphasia), disleksia (dyslexia), disatria (disathria), dan lain-lain.

Kondisi kajian fonetik dan beberapa tokoh ilmu fonetik dikemukakan dalam bab ini. Seperti Bertil Malmberg  yang mendefinisikan fonetik sebagai pengkajian bunyi-bunyi bahasa. Serta David Ambercrombie yang berpendapat bahwa fonetik adalah ilmu yang bersifat teknis.

 

Bab 3 Fonetik : Tahapan Komunikasi, Proses Pembentukan, Transkripsi Fonetis

Bab 3 membahas tentang peristiwa komunikasi dengan bahasa lisan. Proses diman serorang pembicara menyampaikan maksud kepada yang diajak bicara, yang didengar sebagai rangkaian bunyi, kemudian menjadi bunyi yang mengandung makan atau maksud sesuai dengan tujuan komunikasi.

Terjadinya proses pembentukan bunyi yang diperankan oleh saran-sarana utama seperti arus udara, pita suara, alat-alat ucap (komponen supraglotal, komponen laring, dan komponen subglotal).

 

Bab 4 Klasifikasi Bunyi Segmental dan Deskripsi Bunyi Segmental Bahasa Indonesia

Dasar klasifikasi bunyi segmental yang didasarkan pada berbagai macam criteria, seperti (1) ada tidaknya gangguan, (2) mekanisme udara, (3) arah udara, (4) pita suara, (5) lubang lewatan udara, (6) mekanisme artikulasi, (7) cara gangguan, (8) maju mundurnya lidah, (9) tinggi rendahnya lidah, dan (10) bentuk bibir.

Deskripsi bunyi segmental baik vokoid maupun kontoid, yang diucapkan oleh penutur bahasa Indonesia yang sangat variatif setelah diterapkan dalam berbagai distribusi dan lingkungan.

 

Bab 5 Bunyi Suprasegmental, Bunyi Pengiring, Diftong, Kluster, dan Silaba

Oleh para fonetisi, bunyi-bunyi suprasegmental dikelompokkan menjadi empat jenis, yaitu yang menyangkut aspek (a) tinggi-rendah  bunyi (nada), (b) keras-lemah bunyi (tekanan), (c) panjang-pendek bunyi (tempo), dan (d) kesenyapan (jeda).

Bunyi sertaan atau pengiring dapat dikelompokkan menjadi 9, yaitu bunyi efektif, bunyi klik, bunyi aspirasi, bunyi eksplosif (bunyi lepas), bunyi retrofleksi, bunyi labialisasi, bunyi palatalisasi, bunyi glotalisasi, bunyi nasalisasi.

Dalam praktiknya diftong terdiri dari dua macam, yaitu diftong menurun (falling diphthong), dan diftong menaik (rising diphthong). Kombinasi kluster dalam bahasa Indonesia yaitu kluster yg terdiri dari dua kontoid, dan kluster yang terdiri dari tiga kontoid.

Dalam memahami suku kata, para linguis atau fonetisi berlandaskan pada teori sonoritas dan teori prominans

 

Bab 6 Fonem dan Dasar Analisisnya

Pokok-pokok pikiran atau premis-premis yang dijadikan sebagai sutau pegangan dalam menganalisis fonem-fonem suatu bahasa yaitu, (1) suatu bahasa cenderung dipengaruhi oleh lingkungannya, (2) sistem bunyi suatu bahasa berkecenderungan bersifat simetris, (3) bunyi-bunyi suatu bahasa cenderung berfluktuasi, (4) mempunyai kesamaan fonetis digolongkan tidak berkontras apabila berdistribusi  komplementer dan atau bervariasi bebas, (5) mempunyai kesamaan fonetis digolongkan ke dalam fonem yang berbeda apabila berkontras dalam lingkungan yang sama atau mirip.

Prosedur analisis fonem terdiri dari beberapa langkah, yaitu (1) mencatat korpus data setepat mungkin dalam transkripsi fonetis, (2) mencatat bunyi yang ada dalam korpus data ke dalam peta bunyi, (3) memasangkan bunyi-bunyi yang dicurigai karena mempunyai kesamaan fonetis, (4) mencatat bunyi-bunyi selebihnya karena tidak mempunyai kesamaan fonetis, (5) mencatat bunyi-bunyi yang berdistribusi komplementer, (6) mencatat bunyi-bunyi yang bervariasi bebas, (7) mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang sama (identis), 8 mencatat bunyi-bunyi yang berkontras dalam lingkungan yang mirip (analogis), (9) mencatat bunyi-bunyi yang berubah karena lingkungan, (10) mencatat bunyi-bunyi dalam inventori fonetis dan fonemis, condong menyebar sevara simetris, (11) mencatat bunyi-bunyi yang berfluktuasi, (12) mencatat bunyi-bunyi selebihnya sebagai fonem tersendiri.

 

Bab 7 Klasifikasi, Distribusi, dan Realisasi Fonem Bahasa Indonesia

Jumlah dan variasi bunyi bahasa Indonesia yang tak bias dipastikan jumlahnya, merupakan realisasi dari sistem fonem yang terbatas jumlahnya. Berdasarkan hasil penelitian, fonem bahasa Indonesia berjumlah sekitar 6 fonem vocal dan 22 fonem konsonan.

 

Bab 8 Ciri Ciri Prosidi atau Suprasegmental dalam Bahasa Indonesia

Bunyi-bunyi suprasegmental dalam tuturan bahasa Indonesia, yaitu nada. Nada dalam bahasa Indonesia tidak fonemis. Ketidakfonemisan ini tidak berarti nada tidak ada dalam bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya faktor ketegangan pita suara, arus udara, dan posisi pita suara ketika bunyi itu diucapkan. Tekanan, berfungsi membedakan makna  dalam tataran kalimat (sintaksis), tetapi tidak berfungsi membedakan makna dalam tataran kata (leksis). Durasi, durasi atau panjang-pendek ucapan dalam bahasa Indonesia tidak fungsional dalam tataran kata, tetapi fungsional dalam tataran kalimat. Jeda, terjadi di antara dua bentuk linguistic, baik antarkalimat, antarfrase, antarkata, antarmorfem, antarsilaba, maupun antarfonem. Intonasi, sangat berperan dalam pembedaan maksud kalimat.

 

Bab 9 Perubahan Bunyi dalam Bahasa Indonesia

Jenis-jenis perubahan bunyi dalam bahasa Indonesia antara lain, Asimilasi, perubahan bunyi dari dua bunyi yang tidak sama menjadi bunyi yang sama atau yang hamper sama. Disimilasi, perubahan bunyi dari dua bunyi yang sama atau mirip menjadi dua bunyi yang tidak sama atau berbeda. Modifikasi vocal, perubahan bunyi vocal sebagai akibat dari pengaruh  bunyi lain yang mengikutinya. Netralisasi, perubahan bunyi fonemis sebagai akibat pengaruh lingkungan. Zeroisasi, penghilangan bunyi fonemis sebagai akibat upaya penghematan atau ekonomisasi pengucapan. Metafisis, perubahan urutan bunyi fonemis pada suatu kata sehingga menjadi dua bentuk kata yang bersaing. Diftongisasi, perubahan bunyi vocal tunggal (monoftong) menjadi dua bunyi vokal atau vokal rangkap (diftong) secara berurutan. Monoftongisasi, perubahan dua bunyi vokal atau vokal rangkap (diftong) menjadi vokal tunggal (monoftong). Anaptiksis, perubahan bunyi dengan jalan menambahkan bunyi vokal tertentu di antara dua konsonan untuk memperlancar ucapan.

 

Sebagai bidang yang berkonsentrasi dalam deskripsi dan analisis bunyi-bunyi ujar, hasil kerja fonologi berguna bahkan sering dimanfaatkan oleh cabang-cabang linguistik yang lain, baik linguistik teoretis maupun terapan. Misalnya, morfologi, sintaksis, semantik, leksikologi, dialektologi, pengajaran bahasa, dan psikolinguistik. Pemerolehan bunyi bahasa ini bisa dikaji secara scientific (ilmiah). Oleh karena itu, buku ini akan memberikan kita mengenai bagaimana bunyi atau pengucapan yang benar dalam berbahasa Indonesia. Bagaimana bunyi-bunyi itu dihasilkan bisa dijelaskan secara lebih detail atau rinci dalam ilmu bunyi atau fonetik. Buku ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan dan pemahaman yang utuh tentang seluk-beluk bunyi bahasa Indonesia.

Sajian dalam buku ini diawali dengan konsep-konsep teoritis yang diikuti dengan bunyi konkret dan aktual dalam kenyataan berbahasa. Di setiap sajian buku ini, dilengkapi dengan bahan diskusi yang berisi serangkaian persoalan yang terkait dengan materi sajian pada akhir setiap bab, sebagai bahan pendalaman materi sajian.

Di dalam setiap terdapat catatan-catatan pendek yang berupa informasi tambahan  bagi para pembaca. Buku ini juga dilengkapi dengan gambar-gambar yang memungkinkan para pembaca untuk memahami setiap penjelasan, seperti contohnya gambar proses pembentukan bunyi, bagan-bagan tiga komponen fisiologis alat-alat ucap, dll. Yang bertujuan untuk memudahkan para pembaca mendapatkan gambaran atas penjelasan-penjelasan yang terdapat dalam buku ini.

 

 

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s