Kalimat Interogatif dalam Bahasa Indonesia

Posted: November 29, 2011 in Linguistik

 

Latar Belakang

Bahasa adalah fenomena yang menghubungkan dunia makna dengan dunia bunyi. Lalu, sebagai penghubung di antara kedua dunia itu, bahasa dibangun oleh tiga buah komponen, yaitu komponen leksikon, komponen gramatika, dan komponen fonologi.

Kalau bahasa itu merupakan suatu sistem (Chaer, 2009), maka sistem bahasa itu memiliki tiga buah sibsistem, yaitu subsistem leksikon, subsistem gramatika, dan subsistem fonologi. Komponen makna berisi konsep-konsep, ide-ide, pikiran-pikiran, atau pendapat-pendapat yang berada dalam otak atau pemikiran manusia. Komponen leksikon dengan satuannya yang disebut leksem merupakan wadah penampung makna secara leksika, juga bersifat abstrak. Komponen gramatika atau subsistem gramatika terbagi lagi menjadi dua subsistem, yaitu subsistem morfologi dan subsistem sintaksis.

Subsistem sintaksis membicarakan penataan dan pengaturan kata-kata itu ke dalam satuan-satuan yang lebih besar, yang disebut satuan-satuan sintaksis, yakni kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana.

Kalimat umumnya berwujud rentetan kata yang disusun sesuai dengan kaidah yang berlaku. Setiap kata termasuk kelas kata atau kategori kata, dan mempunyai fungsi dalam kalimat. Pengurutan rentetan kata serta macam kata yang dipakai dalam kalimat menentukan pula macam kalimat yang dihasilkan.

Jika ditinjau dari segi bentuknya, kalimat dapat berupa kalimat tunggal atau kalimat majemuk. Sedangkan jika dilihat dari segi maknanya kalimat dapat dibedakan menjadi kalimat deklaratif (kalimat berita), kalimat interogatif (kalimat tanya), kalimat imperatif (kalimat perintah), kalimat eksklamatif (kalimat seruan), dan kalimat emfatik (kalimat penegas) (Moeliono, 1988: 32)

Dilihat dari namanya, sudah tampak makna macam-ragam kalimat itu : kalimat berita menyampaikan berita pernyataan, kalimat tanya mengajukan pertanyaan, dan kalimat perintah memberikan perintah kepada yang bersangkutan. Kalimat seruan mengungkapkan perasaan keheranan atau kekaguman atas sesuatu, dan kalimat penegasan khusus kepada pokok pembicaraan.

Dalam setiap bahasa, dibedakan dua jenis klausa interogatif: „pertanyaan ya/tidak” (atau „pertanyaan y/t”), dan „pertanyaan apa”. (Verhaar, 19  : 248).

Jenis ”y/t” itu adalah pertanyaan yang jawabannya dapat berupa ya atau tidak, umpamanya klausa Apakah anda sudah lapor pada piket?. Jenis ”apa” adalah pertanyaan dengan konstituen interogatif seperti apa?, siapa?, mengapa?, berapa?, dan lain sebgainya. Pertanyaan “-apa” tidak dapat dijawab dengan ya atau tidak, dan menuntut informasi yang lain.

Makalah ini akan membahas secara khusus tentang penggunaan kalimat interogatif atau kalimat tanya dalam Bahasa Indonesia dan jenis-jenisnya yang  akan dibahas pada bab selanjutnya.

Untuk sumber data pada contoh-contoh kalimat dalam pembahasan diperoleh dalam buku “Cerpen Kompas Terpilih 1981-1990).

PEMBAHASAN

 

Beberapa bahasa-bahasa yang telah diteliti semuanya memiliki tanda gramatikal yang mengindikasikan bahwa tujuan dari sebuah kalimat adalah untuk mendapatkan atau mengumpulkan informasi. Dan harus dapat membedakan beberapa perbedaan tipe pencarian informasi.

Tipe dasar dari sebuah kalimat interogatif yang paling luas distribusinya adalah pertanyaan ya-ntidak, yang telah di observasi oleh beberapa peneliti, kalimat tanya tersebut memiliki ciri intonasi akhir yang meninggi. Pola intonasi ini terdapat dalam beberapa kasus menjadi sebuah fitur gramatikal penanda interogasi. Seperti pendapat (Jacaltec, dalam Craig 1977) yang menyatakan bahwa intonasi akhir yang meninggi adalah salah satu indikasi yang frekuensi kemunculannya sangat sering ditemukan sebagai aturan interogasi dan satu-satunya fitur yang membedakan kalimat interogatif dari kalimat deklaratif.

Ciri yang lainnya yaitu terdapatnya partikel awal sebuah kalimat, partikel akhir sebuah kalimat, kata kerja khusus, dan ‘word order’.

Kalimat tanya y/t mirip dengan pertanyaan yang berat sebelah pada beberapa tingkatan, yang memperlihatkan keinginan pembicara pada suatu keadaan adalah benar seperti apa yang diharapkan, dimana pembicara tersebut lebih mengharapkan jawaban ya atau betul.

Tipe kalimat tanya yang kedua yaitu  pertanyaan yang mengharapkan informasi. Jumlah dari kata tanya sangat bervariasi. Kebanyakan bahasa memiliki interogatif pronomina , ada juga yang memiliki interogatif adverbial (when, where, how dalam bahasa Inggris).Sementara mereka menginterogasi bagian suatu keadaan, pertanyaan informasi selalu memperlihatkan letak suatu keadaan sebagai informasi pra anggapan. Informasi baru adalah permintaan identitas dari suatu bagian kalimat yang di tanyakanBagian kalimat yang dipertanyakan bisa disebut juga dengan ‘fokus’ suatu kalimat, tapi juga merupakan menyangkut hal apakah suatu kalimat tersebut. Maka istilah ‘topik’ diperlukan.

Bentuk interogatif biasanya ditemukan dalam posisi dari fokus dan topik , dimana kebanyakan bahasa disebut posisi awal kalimat. Secara semantik, pertanyaan informasi sama seperti pertanyaan alternatif dalam menspesifikasikan suatu batasan atau jangkauan dimana jawabannya harus ditemukan. Kata interogatif mengindikasikan semuanya sendiri., atau dengan bantuan fitur sintaktik suatu pertanyaan tempat letaknya, ketertarikan seorang penanya pada bagian keadaan tertentu yang ingin diketahui. Namun kata interogatif juga memiliki tipikal untuk membatasi lahan seorang penanya dari suatu bagian hal yang belum diketahui tersebut. Dengan demikian, kata tanya siapa mengindikasikan bahwa seorang penanya menginginkan yang tertuju tersebut untuk menunjuk pada seseorang, kapan menunjuk pada waktu, dimana menunjuk pada tempat, dan sebagainya.

Kalimat interogatif adalah kalimat yang mengharapkan adanya jawaban secara verbal. Jawaban ini dapat berupa pengakuan, keterangan, alasan atau pendapat dari pihak pendengar atau pembaca (Chaer, 2009:189)

Berdasarkan penjelasan diatas, kalimat interogatif dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pertanyaan y/t dan pertanyaan –apa. Pertanyaan y/t dimarkahi hanya dengan intonasi saja (yang meninggi pada akhir kalimat). Pertanyaan dengan susunan beruntun yang sama dengan klausa deklaratif biasanya menunjukkan rasa heran.

Di lain pihak, sepengetahuan para ahli bahasa, kebanyakan bahasa di dunia memiliki struktur sintaksis yang khusus untuk klausa interogatif. Dalam bahasa Indonesia, memiliki partikel tanya apa atau apakah atau klitika –kah dimana pertanyaan tersebut bertujuan untuk mendapatkan informasi lainnya.

Berikut adalah jenis dan pemakaian kalimat tanya :

  • Kalimat interogatif yang meminta pengakuan jawaban ”ya” atau “tidak”, kalimat tersebut dapat dibentuk dengan cara memberi intonasi tanya pada sebuah klausa (kalimat). Bisa dilihat dari kalimat-kalimat berikut :

- Jadi rakyat kita suruh bikin pabrik tepung ketela?

- Mereka bekerja sama dengan penduduk?

Kalimat jawaban dari kalimat-kalimat tersebut dapat dibuat dalam bentuk singkat, tetapi dapat juga dalam bentuk lengkap, seperti ya dan ya, rakyat kita suruh bikin pabrik tepung ketela… atau tidak dan tdak, mereka tidak bekerja sama denga penduduk.  

Kalimat interogatif juga dapat dibentuk dengan cara memberi apakah di muka sebuah klausa (kalimat), dapat dilihat dari contoh berikut :

Serta memberi partikel tanya –kah pada bagian kalimat yang ingin ditanyakan. Dalam hal ini bagian kalimat yang diberi partikel –kah tersebut lazim ditempatkan pada awal kalimat

-          Ditahan KPKkah pejabat itu?

-          Guru SMPkah suaminya?

-          Apakah kamu cukup sehat?

  • Kalimat interogatif yang meminta jawaban mengenai salah satu unsur kalimat dibentuk dengan bantuan kata tanya (apa, siapa, mana, berapa, dan kapan) sesuai dengan bagian mana dari kalimat yang ingin ditanyakan

(a) Penggunaan apa, yaitu untuk menanyakan benda, contoh :

- Apa isi peti itu?

- Apa yang kau sumbangkan kepada mereka?

- Apa bedanya sih dengan teknologi?

(b) Penggunaan kata tanya siapa, yaitu untuk menanyakan orang

- Siapa nama gadis itu?

- Selama bapak di rumah sakit, siapa saja yang mengunjunginya?

- Oleh siapa dia dimarahi?

(c) Penggunaan kata tanya mana, untuk menanyakan keberadaan benda (termasuk

orang)

- Mana Pak Lurah?

- Istrimu yang mana?

- Mana buku itu?

Untuk menyatakan tempat keberadaan, tempat kedatangan, dan tempat tujuan dengan lebih tepat di muka kata mana ditempatkan preposisi di, ke, dan dari. Contoh :

-        Darimana kau dapat anakku?

-                Telepon dari mana kamu?

-                Dari mana mereka mendatangkan gandum?

(d) Penggunaan kata tanya berapa, yaitu untuk menanyakan jumlah atau banyaknya

sesuatu digunakan

- Berapa harga yang kau pinta?

- Berapa yang kudengar?

- Berapa order?

(e) Penggunaan kata tanya kapan, untuk menanyakan waktu

- Kapan kamu akan menikah?

- Kapan kamu kembali?

Untuk menanyakan permulaan terjadinya sesuatu harus digunakan kata tanya sejak kapan, dan untuk menanyakan batas akhur akan terjadinya sesuatu harus digunakan kata tanya sampai kapan.

  • Kalimat interogatif yang meminta jawaban berupa alasan yang dibentuk dengan bantuan kata tanya mengapa atau kenapa

- Mengapa kamu sering terlambat?

- Kenapa anggota DPR itu ditangkap?

- Mengapa anjing dan kucing sering berkelahi?

  • Kalimat interogatif yang meminta jawaban berupa pendapat (mengenai hal yang ditanyakan) dibentuk dengan bantuan kata tanya bagaimana

- Bagaimana kalian menyelamatkan diri?

- Bagaimana dengan rumah ini, kalau kita dapat rumah dinas?

  • Kalimat interogatif yang mengharapkan jawaban untuk menguatkan yang ditanyakan. Oleh karena itu, jawaban yang diharapkan adalah “ya” atau “betul”, meskipun secara eksplisit kata “ya” atau “betul” itu tidak diucapkan

- Anda berasal dari Papua, bukan?

- Kamu sudah punya anak, bukan?

- Tetapi ia pernah ditangkap petani timun, bukan?

Fungsi berbagai kata tanya ditentukan berdasarkan kemungkinan kalimat jawabnya. Kata tanya apa berbeda dengan kata tanya siapa. Misalnya, seperti data kalimat di atas Apa isi peti itu?menghendaki jawaban Isi peti itu buku-buku bekas, koran, dan sebagainya, sedangkan kalimat Siapa nama gadis itu? menghendaki jawaban Nama gadis itu Nina. Jelaslah bahwa kata apa menanyakan benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, sedangkan kata tanya siapa menanyakan orang.

Kata tanya mengapa dan kenapa menghendaki jawaban yang diawali dengan kata karena atau dengan kata lain, kata tanya mengapa berfungsi menanyakan sebab dan alasan. Misalnya, Mengapa kamu sering terlambat? pertanyaan tersebut menghendaki jawaban karena saya terlambat bangun, dan kalimat Kenapa anggota DPR itu ditangkap? Menghendaki jawaban karena dia telah melakukan tindak korupsi, melanggar peratutan, dan sebagainya.

Kata tanya bagaimana dalam kalimat Bagaimana dengan rumah ini, kalau kita dapat rumah dinas? menghendaki jawaban Rumah ini aka dijual. Maka dapat dikatakan bahwa kata tanya bagaimana dalam kalimat tersebut menanyakan keadaan, berbeda dengan kata tanya bagaimana dalam kalimat Bagaimana kalian menyelamatkan diri? Yang menghendaki jawaban yang diawali dengan kata dengan sevagai penanda cara, misalnya dengan cara berteriak meminta tolong, dengan cara kabur, dan sebagainya. Maka dapat dikatakan bahwa kata tanya bagaimana tersebut menanyakan cara.

Kata tanya mana menanyakan tempat, misalnya Mana pak lurah? Dan Mana buku itu? yang mana pertanyaan tersebut mungkin dijawab Di rumah dan di dalam laci. Maka dari itu, kata tanya mana tersebut dapat dijelaskan sebagai kata tanya yang menanyakan tempat.

Sedangkan kata tanya mana dalam kalimat Istrimu yang mana? Menghendaki jawaban yang membedakan seorang istri yang ditanyakan dengan istri-istri lain yang dimiliki oleh orang yang ditujukan pertanyaan. Maka dari itu, kata tanya mana tersebut dijelaskan sebagai kata tanya yang menanyakan sesuatu atau seseorang dalam suatu kelompok.

KESIMPULAN

 

 

§  Kalimat interogatif berfungsi menggantikan sesuatu yang ingin diketahui oleh pembicara atau penanya dan mengukuhkan apa yang telah diketahui oleh si pembicara atau penanya

§  Secara garis besar jenis kalimat interogatif dapat dibedakan menjadi dua, yaitu jenis pertanyaan ya/tidak, dimana jawaban yang diharapkan hanya berupa jawaban ya dan tidak. Kalimat tanya jenis ini memiliki ciri intonasi tinggi pada akhir kalimat

§  Jenis yang berikutnya yaitu pertanyaan –apa, dimana tidak hanya sebuah jawaban ya atau tidak yang diharapkan tetapi juga menuntut informasi yang lain. Kata-kata tanya yang menunjuk pada tuntutan pencarian informasi yaitu kata apa, siapa, mana, berapa, dan kapan yang berfungsi meminta keterangan mengenai salah satu unsur kalimat, kata mengapa dan kenapa berfungsi untuk meminta alasan, kata tanya bagaimana berfungsi untuk meminta pendapat mengenai hal yang ditanyakan, kata tanya yang berfungsi menyuguhkan untuk menguatkan suatu hal yang ditanyakan, yang ditandai dengan adanya ‘question tag’ atau label pertanyaan bukan?

§  Fungsi kata-kata tanya ditentukan berdasarkan kemungkinan jawabannya.

Daftar Pustaka

 

Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Dahana, Radhar Panca. Riwayat Negeri yang Haru: Cerpen Kompas Terpilih 1981-1990. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.

Moeliono, Anton M. 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ramlan, M. 1981. Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono.

Shopen, Timothy. 1985. Language Typology and Syntactic Description. Cambridge Unversity Press.

Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Disusun oleh : Navissa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s